Minggu, 12 Juni 2011

IMPIANKU,AKANKAH TERWUJUD?? *last part*


            Kutatap stage yang akan kami gunakan untuk Grandfinal yang beberapa jam lagi akan digelar.Ada berbagai perasaan yang berkecamuk di hatiku.Senang,haru,bangga dan was-was menanti saat-saat aku dan kak Fay tampil memberikan yang terbaik untuk Grandfinal nanti.Kak Fay berdiri di samping kananku,menggenggam erat tanganku seolah memberikan keyakinan kalau aku dan dia bisa menjadi yang terbaik.Kubalas genggamannya dan kami seperti saling memberikan energi semangat ke dalam diri masing-masing.Kak JP yang berdiri di samping kiriku ikut menggenggam tanganku.Ya,aku harus bisa,aku harus menjadi yang terbaik dan membuktikan sama papa kalau aku bisa berhasil dengan nge-dance.
            Perasaan bangga kian muncul ketika para penonton yang hadir mengibarkan bendera dan spanduk bertuliskan "BielBrand" dan "NaticNizer" serta gambar aku dan kak Fay dengan ukuran super besar.Tapi di sisi lain,hatiku juga sedih karena papa tidak hadir mendukungku.Ah.. papa.. seandainya papa ada di sini ikut memberikan support untuk Brandon,pasti Brandon akan sangat bahagia sekali.Mungkin Brandon akan menjadi orang yang paling bahagia seandainya papa ada di antara para pendukung Brandon dan kak Fay,"NaticNizer".
            Dari belakang stage yang megah dan indah,mataku berkeliling menatap orang-orang yang mendukungku.Dan.. ah.. apa aku tidak salah lihat?Benarkah? Aku mengucek-ucek mataku.Benar.. itu papa.. papa sedang mengobrol dengan kak Dimas,kak Sam dan kak Doni.
            Jantungku berdetak kencang,apakah aku senang?Apa aku bahagia?Ya,tentu saja,tapi kenapa perasaan itu bercampur dengan rasa khawatir?Aku takut seandainya papa marah padaku dan ah.. semoga saja semua berjalan sesuai dengan keinginan hatiku.
            Kulepas genggaman kak Fay dan kak JP.Aku berlari meninggalkan kedua sahabatku untuk menyongsong papaku.Aku rindu sama dia,aku ingin memeluknya.Rasanya sudah bertahun-tahun aku jauh darinya.Aku ingin merasakan dekapannya,ciumannya.Papa.. Brandon kangen banget sama papa.
            "Papa.... !!"teriakku menghambur ke arahnya.Papa yang sedang mengobrol dengan kak Dimas,kak Sam dan kak Doni segera memalingkan wajahnya ke arahku.Aku berlari mendekatinya dan...
            "Brandonn !! Apa-apaan kamu ini?"papa menghentikan tubuhku yang hendak memeluknya.Kenapa papa mencegahku untuk mendekapnya?Apa papa nggak kangen sama Brandon?Kenapa papa malah menatapku tajam?Tatapannya seperti mau menerkamku.Ini bukan papa yang aku rindukan,ini bukan seperti papa yang aku bayangkan.
            "Papa,biarin Brandon memeluk papa.. Brandon kangen sama papa,"kata-kata itu tidak mampu aku ucapkan.
            "Brandon,kita pulang,"katanya datar.
            "Pa.. jangan pa.. Brandon harus ikut lomba pa.."
            "Papa nggak peduli !!"bentaknya memotong ucapanku.
            "Ayo pulang !!"ajaknya lagi.
            Aku diam mematung,menatap kak Dimas,kak Sam dan kak Doni bergantian untuk meminta bantuannya.
            "Om tolong om.. kita sudah terikat kontrak dengan sebuah stasiun TV,kalau acara ini gagal,kita bisa di tuntut ganti rugi dan itu akan berimbas kepada Brandon dan om juga,"kak Dimas mencoba membujuk papa dengan sedikit ancaman.
            "Saya tidak peduli,saya tidak pernah mengijinkan anak saya untuk mengikuti acara seperti ini,"papa tetap bersikeras.
            "Tapi buktinya ada om,om telah menanda tangani surat ijin orang tua.Kami bisa menuntut om,"ucapan kak Sam membuat papa kembali menatap tajam ke arahku.Aku menunduk tak berani menatapnya.
            "Brandon.. !! Kamu.. ?? Arrghh.. bagaimana bisa.. ?? Ayo kita pulang Brandon !!"papa memegang pergelangan tanganku lalu menyeretku menuju ke parkiran.
            "Pa.. lepasin Brandon pa.. Brandon harus ikut nge-dance... Lepasin tangan Brandon pa.."aku mencoba melepaskan pegangan papa yang begitu kuat sampai membuat tanganku terasa sakit.
            "Pa.. lepasin pa.. demi teman Brandon pa.. dia butuh uang untuk operasi matanya... !! Pa... !!"aku terus berontak membuat papa sedikit kesulitan untuk menyeretku.
            "Brandon !! Papa nggak peduli.Kenapa kamu jadi anak pembangkang seperti ini heh.. ??"papa terus menarikku.Aku memukul-mukul lengan papa yang mencengkeram sebelah pergelangan tanganku.
            "Lepasin tangan Brandon pa.. Brandon harus nge-dance.. Brandon pengen nge-dance.. !!"aku terus meronta dan tidak berhenti memukul-mukul tangannya dan itu ternyata membuat papa semakin kesal.
            "Brandonn !! PLAKK !!"sebuah tamparan papa membuatku terhuyung dan  tersungkur di lantai.Aku menangis memegangi pipiku.Rupanya papa sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.Aku lihat tangan papa bergetar setelah menamparku.Aku menangis dan tak mampu bangun dari lantai.Papa.. kenapa pa?Seumur hidup Brandon,papa nggak pernah kasar sama Brandon,papa nggak pernah mukul Brandon,nampar Brandon.Tapi sekarang?Papa sudah berani nampar Brandon,papa sudah nggak sayang lagi sama Brandon.
            Semua orang yang ada di sekelilingku menatapku iba,namun tidak ada seorangpun yang berani mendekat.
            "Pa.. hiks.. hiks.. hiks.. sekali ini saja pa,biarin Brandon nge-dance.. Brandon janji pa.. hiks.. hiks.. hiks.. Brandon janji setelah ini Brandon nggak bakal nge-dance lagi.. hiks.. hiks.. hiks.."aku memohon sama papa.
            "Sudah berapa kali kamu berjanji heh?Papa sudah tidak percaya lagi sama kamu !! Papa sudah cape dibohongin terus sama kamu.Kamu memang nggak pernah kapok,membangkang terus.Harus bagaimana lagi papa mendidikmu?"kata-kata papa membuat aku tak bisa berkata-kata lagi.Aku hanya bisa menangis,berharap air mataku mampu meluluhkan hati papa.
            "Sekarang kita pulang !! Kamu jangan membantah papa lagi,"papa membangunkanku dan kembali menyeretku yang kali ini tak lagi memberikan perlawanan apapun sama papa.
            Kak Dimas,kak Sam dan kak Doni mengikuti kami.Mereka terus berusaha membujuk papa.Tapi papa tidak menghiraukan kata-kata mereka.Papa terus membawaku menuju area di mana mobil papa terparkir.
            "Pa.. tolongin Brandon pa.. sekali ini saja pa.. Brandon janji pa.. Brandon nggak bakalan bohong lagi sama papa...!!"aku mulai berani berbicara kembali saat aku dipaksa masuk ke dalam mobil papa.Aku duduk di depan,di samping papa yang sudah siap mengemudikan mobilnya.Papa tak peduli dengan kak Dimas,kak Sam dan kak Doni yang menggedor-gedor kaca jendela mobilnya.
            "Brandon!!Sudah berapa kali papa memberikan kesempatan sama kamu?Sudah berapa kali juga kamu merusak kepercayaan papa?Papa kecewa sama kamu.Jangan harap kamu bisa nge-dance lagi.Papa akan memasukan kamu ke asrama,"kata papa sambil menjalankan mobilnya,meninggalkan kak Sam,kak Dimas dan kak Doni yang sudah menyerah untuk membujuk papa.
            "Pa,papa nggak pernah ngertiin Brandon.. !!Papa jahat.. hiks.. hiks.. hiks.. Papa udah nggak sayang sama Brandon !! Brandon benci papa.. Brandon nggak mau tinggal sama papa... Hiks.. hiks.. hiks.. "aku berteriak-teriak tak karuan.
            "Kamu mau tinggal sama siapa kalau tidak sama papa heh?Berani sekali kamu bicara seperti itu sama papa.Kamu benar-benar sudah tidak terkontrol !! Papa nggak pernah ngajarin kamu jadi pembangkang,pembohong.. kamu ini..."papa kembali fokus ke kemudinya.Aku mulai kesal sama papa.
            "Brandon nggak peduli.. !! Papa nggak bisa larang Brandon.. Sampai kapanpun Brandon akan nge-dance.. !!"aku terus meracau dan kali ini aku berulah dengan melampiaskan kekesalanku pada semua benda yang ada di depanku.DVD papa aku pukul-pukul,cassette koleksinya aku buat menjadi berantakan.Tissue yang ada di situ aku acak-acak membuat bagian depan mobil papa seperti kapal pecah.Aku benar-benar tidak bisa lagi menahan kekesalanku sama papa.
            Papa mencoba menghentikan aksiku dengan tangan kirinya.Sementara tangan kanannya terus mengemudikan mobil.Ulahku tidak bisa dihentikan.Sambil menangis,aku semakin liar menjalankan aksiku.
            "Brandon !! Hentikan Brandon !!"bentaknya.Aku tidak peduli dengan bentakannya.Aku terus menendang-nendang semua yang ada di depanku.Konsentrasi papa terpecah antara mengemudi dan menghentikan aksiku.
            "Papa.... !!"teriakanku membuat papa menatap ke depan.Sebuah truk yang menyalip kendaraan di depannya dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan,kini hanya beberapa meter di depan mobil papa.Papa berusaha menghindari tabrakan dengan membanting setir ke arah kiri,lalu dia melepaskan kemudinya.Papa merangkulku,memelukku yang tak berani membuka mata.Aku menunduk di balik tubuh papa yang melindungiku.Guncangan yang begitu keras aku rasakan berkali-kali.Mobil papa naik ke trotoar dan berhenti setelah menabrak tembok ruko yang ada di pinggir jalan raya.
            Perlahan-lahan aku membuka mata,keringat dingin keluar dari tubuhku yang masih ada di pelukan papa.Sesuatu yang dingin juga kurasakan ada di kepalaku.Seperti ada air yang menetes dari sana.Ku usap rambutku dan tanganku bergetar setelah melihat benda cair berwarna merah kini ada di telapak tanganku.Aku beranikan diri untuk menengadah ke atas,menatap wajah papaku.
            "PAPA... !!"teriakku syok melihat darah yang mengalir dari kepala papa dan kini menetes mengenai wajahku.Aku panik,tidak tahu harus berbuat apa.Aku berteriak-teriak meminta pertolongan.Ku sandarkan tubuh papa di jok mobil.Sambil menangis dan tak berhenti berteriak,aku membuka bajuku sendiri dan membalutkannya di kepala papa untuk menghentikan aliran darah yang tidak mau berhenti mengalir dari bagian kepalanya.
            "Pa.. bangun pa.. jangan tinggalin  Brandon pa... hiks.. hiks.. hiks... "aku mengguncang-guncang tubuh papa,tapi papa tetap tak bergerak dan hanya terkulai lemah tak berdaya.
            Orang-orang mulai berdatangan menolongku dan papa.Nafasku tidak teratur,tubuhku bergetar hebat karena tidak mampu menenangkan hatiku.Keringat dingin terus membanjiri tubuhku yang bercampur dengan darah papa.Dengan sebuah mobil pribadi entah milik siapa,aku dan papa langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
*B*
            Aku duduk di depan ruang UGD menunggu papa yang masih belum sadarkan diri.Sebelumnya aku telah diperiksa juga dan tidak ada luka sedikitpun di tubuhku.Aku menangis ditemani seorang suster yang dari tadi mencoba menenangkanku.Aku masih syok,tubuhku masih berguncang karena isakan tangisku.
            “Papa,seharusnya Brandon yang ada di dalam sana.Ini semua gara-gara Brandon.Kenapa Brandon begitu egois?Kenapa Brandon berani melawan papa?Kenapa Brandon hanya memikirkan keinginan Brandon?Papa,maafin Brandon pa,Brandon sudah membuat keadaan papa menjadi sakit seperti sekarang ini.Aku benci diriku sendiri,aku benci nge-dance.Aku nggak bakal nge-dance lagi.Arrgghh... hiks.. hiks.. hiks..”.
            “De,ade mandi dulu ya,ganti baju dulu.Lihat tuh,badan ade kotor sekali,”suster membujukku.Aku melihat badanku sendiri yang masih dilumuri darah papa.Kaos dalamku yang berwarna putih telah berubah warna menjadi bercak-bercak merah.
            Aku dituntun suster itu ke kamar mandi dan aku tetap tidak bisa berhenti untuk menangis.
            “Ade mandi dulu ya,suster ambil handuk sekalian baju buat kamu,”katanya setelah kami sampai di depan pintu kamar mandi.Ketika dia hendak berlalu meninggalkanku,aku menahannya.Aku teringat dengan tas ranselku yang tadi sempat aku bawa.
            “Suster,aku pakai baju yang ada di tasku.Tas yang ada di kursi tunggu tadi.Aku nggak mau pakai baju pasien rumah sakit,”sahutku mulai bisa tenang.Suster itu tersenyum dan mengangguk ke arahku.Dia berjalan meninggalkan aku sendirian.Segera saja aku masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku.
            “Papa,maafin Brandon pa,Brandon nggak tahu kenapa Brandon jadi kayak gini.Brandon benci diri Brandon sendiri.Brandon benci sama Brandon yang sekarang.Berani membantah papa,membohongi papa,bahkan sudah membuat papa celaka.Maafin Brandon pa.. kenapa nggak Brandon saja yang ada di ruang UGD.Kenapa harus papa?Brandon nggak bisa ngebayangin kalau sampai terjadi hal yang paling buruk menimpa papa.Papaa... hiks.. hiks.. hiks..”
            “De,ini handuk sama pakaiannya.Buka pintunya ya!”suster di luar mengetuk pintu kamar mandi.Aku terdiam sejenak,menghapus air mata yang tak bisa berhenti keluar dari kedua mataku.Aku belum lelah,aku belum bisa berhenti untuk menangis.
            “De,kenapa?Malu ya?Ya sudah,buka sedikit pintunya,nanti suster kasih handuk sama bajunya,”suster itu kembali mengetuk pintu kamar mandi.
            Ku buka kuncinya dan pintu itu sedikit terbuka.Tampak tangan suster mengulurkan handuk dan pakaian yang aku minta.Setelah menerima handuk dan pakaian darinya,aku kembali menutup pintu kamar mandi.
            Baju ini,seharusnya aku pakai buat grandfinal nanti.Kenapa aku jadi benci melihatnya?Kenapa aku jadi nggak mau memakainya?Aku benci dance.Ya,gara-gara dance,papaku jadi seperti sekarang,membuat papa koma.Berjuang melawan maut,berada di antara hidup dan mati.
“Papaa.. jangan tinggalin Brandon pa..“pikiranku menjalar ke hal-hal yang buruk tentang papa.
*B*
            Aku duduk kembali di kursi tunggu.Belum ada kabar dari dokter tentang keadaan papa.Mereka belum keluar dari ruang UGD.Aku tetap menangis sendirian sambil mengingat-ingat kenangan indahku bersama papa.Candanya,tawanya,saat dia menggendongku,main piano sama-sama,mengusap air mataku ketika aku menangis,mencium keningku sebelum aku terlelap.Papaa...
            Ku lampiaskan sedihku dengan bernyanyi lirih,Vierra (Takut) dengan lirik yang sedikit aku rubah :

#Ku tahu papa sedih,ku tahu papa kesal
Ku tahu papa,marah padaku.
Ini semua salahku,ini semua sebabku
Ku tahu papa,tak tahan lagi
            (Jangan sedih,jangan sedih,
            Papa kan slalu ada..)
Brandon takut,papa pergi
Papa hilang,papa sakit
Brandon ingin,kau di sini,
Di sampingku,selamanya
            (jangan takut,jangan sedih,
            Papa kan slalu sayang..)
Brandon takut,papa pergi
Papa hilang,papa sakit
Brandon ingin kau di sini
Di sampingku,selamanya
            Brandon takut (jangan takut)
            Papa pergi (tak kan pergi)
            Papa hilang,papa sakit
Brandon ingin (papa juga)
Kau di sini (bersamamu)
Di sampingku (di sampingmu)
Selamanya..... #

            “Hiks.. hiks.. hiks.. papaaa....”
            “Brandon !!”seseorang memanggilku.Aku menoleh ke arah suara itu.Ternyata om Jun dan tante Diant,tetapi tidak ada Baim di antara mereka.Ada tante Adel dan om Andre juga di sana.Kak Fay dan kak JP berdiri sambil menatapku sedih.Aku menghambur ke arah om Jun dan memeluknya.
            “Om... papa om... papaa.. hiks.. hiks.. hiks.. ini gara-gara Brandon om.. Brandon yang salah... hiks.. hiks.. hiks..”tangisku kembali pecah di pelukan om Jun,adik kandung papa ini.Om Jun mengusap rambutku.
            “Sudah sudah... ini bukan salah kamu Ndon,ini cobaan buat kita semua.Kamu harus kuat ya.Papa kamu bakalan sedih kalau melihat Brandon kayak gini.Lebih baik kita berdo’a supaya papa kamu cepat sembuh,”om Jun mencoba menenangkanku.Hatiku sedikit lega dan mulai tenang.Aku pun kembali duduk di kursi tunggu,tidak sabar menerima kabar dari dokter tentang keadaan papa.
            “Ndon,kak Fay ingin bicara sebentar sama kamu,”kak Fay menghampiriku.
            “Kenapa kak?”tanyaku tanpa menatapnya.
            “Nggak di sini,kita keluar sebentar yuk!!”ajaknya.Aku terdiam sejenak,menatap om Jun dan dia mengangguk ke arahku.Aku beranjak dari kursiku mengikuti kak Fay dan kak JP serta om Andre yang turut ikut bersama kami.Setelah kami sampai di taman rumah sakit,aku duduk di kursi yang ada di taman itu.
            “Mau ngomong apa kak?”tanyaku langsung sama kak Fay yang masih berdiri di dekatku.Di tempat agak jauh,kak JP dan om Andre berdiri memperhatikan kami.
            "Ndon,kita harus balik ke tempat lomba.Kita harus nyelesain lomba ini,"kata kak Fay membuat aku menatap tajam ke arahnya.
            "Dengan ninggalin papa dalam keadaan kayak gini?Nggak kak,Brandon nggak mau,"tolakku.
            "Ndon,kak Fay mohon.. kita harus ikut lomba itu Ndon,kamu harus ingat perjuangan kita sampai kita bisa mencapai final ini.Ingat kak Nayla juga Ndon,"bujuk kak Fay lagi.
            "Aku nggak perduli kak,aku benci nge-dance.Gara-gara semua ini papaku jadi kayak gini.Seharusnya dari awal aku nggak ikut lomba ini,"bentakku kesal.
            "Oh.. jadi kamu nyalahin kakak?Oke,ini semua salah kak Fay.Seharusnya dulu kakak nggak maksa kamu buat nolongin kak Fay.Seharusnya kak Fay nggak ngelibatin kamu ke dalam masalah kakak sama kak Nayla.Kakak tahu,kamu pasti kesal sama kak Fay,iya kan?Jawab Ndon !!"kak Fay mengguncang-guncang pundakku membuat aku berdiri dari kursiku.
            "Iya kak,aku kesal sama kak Fay,aku juga kesal sama diriku sendiri.Aku menyesal ikut lomba ini.Aku benci dance dan jangan harap aku bisa balik lagi buat ikut lomba itu,"bentakku.Aku hendak berlalu dari sana tetapi kak Fay menahanku,menghalangi jalanku.
            "Ndon,kak Fay mohon sama kamu,sekali lagi saja Ndon.Kak Fay mohon.. maafin kak Fay sudah bikin papa kamu kayak gini.Setelah semua ini selesai,itu terserah kamu Ndon.Kamu mau benci sama kak Fay,nggak mau temenan lagi sama kak fay,ngejauhin kak Fay,kakak bakalan terima Ndon,asalkan kamu mau kembali ke tempat lomba sekarang,"mata kak Fay mulai berkaca-kaca.
            "Itu semua nggak bisa ngerubah keadaan kak.Sudahlah kak... aku harus nungguin papa,papaku butuh aku kak.Tolong kak Fay ngertiin aku,aku cape kak.Hiks.. hiks.. hiks.."aku mulai lelah untuk membentak.
            "Ndon,kakak mohon sama kamu Ndon,bantuin kakak sekali lagi,"kak Fay berlutut di hadapanku,kembali memohon padaku.
            "Kak sudah kak,jangan kayak gini.Aku nggak bisa kak.. kakak tolong ngertiin Brandon kak,"aku berusaha membuatnya berdiri tapi dia tidak mau bergeming sambil terus terisak.Baru kali ini aku melihat kak Fay menangis seperti itu.Kak Fay yang selalu tegar,kak Fay yang aku tahu hanya menangis sekedarnya kini telah berubah.Tangisnya pecah,isaknya terdengar begitu jelas membuat aku kembali bimbang.
            "Ndon,kamu harus ingat bagaimana perjuangan kamu untuk sampai di sini,"kak JP sudah berada di sampingku.Dia pun melanjutkan kata-katanya.
            "Kamu harus tahu,kita punya kewajiban untuk menyelesaikan lomba ini.Kamu dan Fay sudah terikat kontrak untuk melakukan semuanya.Mereka bisa menuntut kamu dan Fay kalau sampai ngundurin diri.Okelah,kamu bisa membayar berapapun yang mereka minta.Papa kamu bisa membayarnya.Tapi kamu juga harus ingat Fay.Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?Tapi sekarang yang terpenting bukan masalah itu saja.Kamu harus belajar bertanggung jawab Ndon.Semua ini sudah terjadi,kamu harus maju dan tidak bisa kembali ke masa lalu.Papa kamu,walaupun dia benci kamu nge-dance,tapi dia akan lebih benci kalau anaknya itu menjadi seorang yang tidak bertanggung jawab,"kata-kata kak JP membuat aku terdiam.Aku jadi teringat perkataanku sama dia waktu di kantor polisi dulu.Ya,aku tahu,aku harus menghadapi semua ini.Aku tidak bisa lagi kembali ke masa lalu,membatalkan semua yang sudah terjadi kepadaku.
            Mendengar tangisan kak Fay dan kata-kata kak JP,ternyata mampu meluluhkan hatiku.
            "Baiklah kak,tapi setelah tampil aku langsung ke sini lagi.Aku nggak mau lama-lama di sana.Aku nggak bisa ninggalin papa kayak gini,"jawabku akhirnya.Kak Fay bangkit dan memelukku erat tanpa berhenti terisak.Kak JP ikut memelukku.Kami bertiga berpelukan.Hatiku terasa kosong,tidak tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini.
            Dengan diantar om Andre,kami telah tiba di tempat acara.Seluruh panitia menyambut kami dengan perasaan lega.
            "Syukurlah,akhirnya kalian datang juga.Sebaiknya kalian cepat siap-siap,sebentar lagi acara inti akan segera dimulai,"kak Dimas menyuruh kami untuk segera bergegas.Aku dan kak Fay dituntun ke belakang stage untuk bersiap-siap.Tidak sampai lima belas menit,kami berdua telah siap tampil di grandfinal ini.
            Kami berdua mendapat giliran pertama untuk tampil.Penonton berteriak-teriak histeris saat kami naik ke atas panggung.Mereka mengeluk-elukan namaku dan kak Fay serta NaticNizer.Hatiku merasa bangga,hentakan musik hip-hop yang menggelegar sejenak bisa membuat aku melupakan masalah yang sedang menimpaku.
            Aku dan kak Fay mulai menari sesuai dengan irama lagu yang menggema ke seluruh penjuru tempat lomba.Gerakan kami begitu kompak karena aku dan kak Fay sudah mempersiapkan perform ini dengan sangat matang.Namun di tengah-tengah penampilan kami,saat mulai pergantian lagu,aku kembali teringat papa dan itu membuat konsentrasiku buyar seketika.Aku tidak ingat lagi gerakan dance yang sudah aku hafal.Aku tak bisa lagi menggerakan tubuhku,badanku terasa kaku.Akupun roboh di atas panggung dan menangis sambil berlutut.
            "Ndon,kenapa?Ayo Ndon,tinggal sebentar lagi,"kak Fay mencoba menyemangatiku.Aku menggeleng lemah sambil mengusap air mata dengan punggung lenganku.
            "Maaf kak,Brandon nggak bisa.Brandon pengen ketemu papa,Brandon nggak bisa ngelanjutin semua ini kak.. hiks.. hiks.. hiks..."
            "Tapi Ndon.."aku tidak peduli dengan kata-kata kak Fay dan berlari meninggalkan panggung.Aku menyeruak di antara penonton yang menatapku heran.Teriakan "Huu.." tidak aku hiraukan,yang ada di pikiranku sekarang hanya papa,papa dan papa.
            "Kenapa Ndon?"kak JP dan om Andre menyongsongku.
            "Kak,kita harus kembali ke rumah sakit kak.Aku nggak bisa ninggalin papa,"
            "Ok.. oke Ndon,tapi bagaimana dengan lomba ini?"tanya kak JP bingung.
            "Sudah kak,Brandon nggak mau tahu,pokoknya Brandon pengen ke rumah sakit sekarang juga.. hiks.. hiks.. hiks.. Brandon mohon kak.. "
            "Iy.. iya sudah,"kak JP mengalah.Kamipun pergi dari tempat lomba diiringi dengan tatapan tak mengerti dari semua yang hadir di sana.Kak Fay mengikuti di belakang dan kami semua berjalan menuju mobil om Andre.
            Di perjalanan menuju rumah sakit,kami tak banyak bicara.Semua larut dalam pikiran masing-masing.Kak Fay terisak di sampingku.Tubuhnya rebah di pelukan kak JP yang terus menerus mengusap rambutnya lembut.Aku memandang keluar jendela mobil untuk menyembunyikan tangisku,sesekali menyuruh om Andre untuk mempercepat laju mobilnya karena aku merasa mobil om Andre begitu lambat.Padahal aku tahu,om Andre sudah berusaha mengemudikan mobilnya secepat mungkin.
            Begitu tiba di halaman rumah sakit,aku langsung berlari menuju ruang UGD.Tapi di sana tidak ada siapa-siapa.Om Jun dan yang lainnya tidak tampak menunggui papa.
            "Papa..."bathinku berbisik.Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru rumah sakit.Di salah satu koridor,aku lihat om Jun keluar dari sebuah ruang perawatan.Hatiku sedikit lega.
            "Syukurlah,papa sudah keluar dari ruang ICU,berarti masa-masa kritis papa telah lewat,"bathinku terasa lapang.
            Aku menghambur ke arah om Jun yang mematung sambil menatapku dengan tatapan sayu.
            "Gimana keadaan papa om?"tanyaku saat aku telah tiba di hadapannya.Om Jun tidak menjawab pertanyaanku,dia malah berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badanku.Tiba-tiba dia memelukku erat,eraatt sekali.Ku rasakan ada tetesan air di pundakku.
            "Pap.. papa kamu Ndon.."lirihnya di telingaku.
            "Papa kenapa om?Papa sudah baikan kan?"tanyaku penuh harap.
            "Papa kamu.. sud.. sudah nggak ada Ndonn.."tangis om Jun pecah di pelukanku membuat aku seperti di hantam benda keras.Kepalaku mulai limbung dan seperti berputar seakan tak percaya dengan perkataan om Jun barusan.
            "Nggak,nggak mungkin papa ninggalin aku,papa sayang sama aku.Ya,pasti aku salah dengar,ini pasti cuma mimpi,"hatiku mencoba untuk menyangkalnya.
            "Nggak mungkin om.. papa nggak boleh pergi om.. om Jun bohong... om Jun jangan bikin Brandon sedih.. hiks.. hiks.. hiks.. "
            "Maafin om Ndon..."
            "NGGAAKK.. om Jun bohong.. papa nggak mungkin pergi ninggalin Brandon.. dia sayang sama Brandon om... "teriakku membuat om Jun semakin erat memelukku.
            "Om Jun BOHOONGG.. om Jun JAHAATT.. huhuhu.. "raungku sambil memukul-mukul pundaknya.Aku tidak tahu harus berbuat apa,perasaanku hancur mendengar berita dari om Jun.
            Ku lepaskan pelukan om Jun dan berlari sambil menangis menuju ruang dimana om Jun tadi keluar.Kubuka pintunya dan aku seakan tak percaya dengan apa yang sedang aku lihat di hadapanku.Papaku terbaring kaku tak berdaya walaupun bibirnya masih memperlihatkan sesungging senyum.Di samping papa,ada tante Diant dan tante Adel sedang menangis terisak.
            "PAPAA..."teriakku menghambur ke arah papa.Kupeluk tubuhnya yang telah kaku dengan erat.Aku mengguncang-guncang tubuhnya,berharap papa membuka matanya.Tetapi semua yang aku lakukan itu sia-sia,papa tetap terpejam dan tak bergeming sedikitpun.
            "Pa bangun pa.. jangan tinggalin Brandon pa.. Maafin Brandon.. hiks.. hiks.. hiks.. Brandon janji sama papa.. Brandon nggak bakalan bohong lagi pa.. hiks.. hiks.. hiks.. Brandon.. hiks.. hiks.. Brandon nggak bakalan bikin papa kesal lagi.. Papa bangun pa.. hiks.. hiks.. hiks.. kalau papa pergi,Brandon sama siapa pa..? Brandon mau ikut papa.. huhuhu.. kita sama-sama ketemu mama.. Papa bangun pa... "aku terus meracau menangisi keadaan papa.Teriakanku ternyata membuat orang-orang yang ada di rumah sakit melongok ke ruangan tempat aku dan papa berada.Mereka seperti ingin tahu kenapa aku berteriak-teriak,mungkin juga keluarganya yang sedang sakit merasa terganggu dengan teriakanku.Tapi aku tidak peduli,aku tetap berteriak memanggil papaku.
            Aku lihat om Jun sedamg berbicara dengan salah seorang dokter,dan tidak lama kemudian,beberapa suster dan perawat laki-laki mendekati aku dan papaku.Rupanya mereka hendak membawa papaku untuk segera mereka urus jenazahnya.
            "Jangan bawa papaku.. jangan suster.. om Jun.. tolongin Brandon om.. tolong jangan biarin mereka membawa papa om.. om Juunn.. om.. tolongin Brandon om.. hiks... hiks.. hiks.."aku terus mencoba menepis tangan-tangan suster yang akan membawa papaku.Bukannya membantuku,om Jun malah mengangkat tubuhku dan menjauhkannya dari papa.
            "Om.. lepasin om.. om Jun.. lepasin Brandon.. Brandon mohon om... lepasin tubuh Brandon.. hiks.. hiks.. hiks.. om Jun jahaatt.. lepasin om.. Brandon mohoonn... Susterr.. jangan bawa papakuu.. tante... tolong jangan biarin mereka membawa papa... hiks.. hiks.. hiks.."aku terus meronta-ronta di pelukan om Jun yang mendekapku dari belakang dengan erat.Tante Adel dan tante Diant hanya melihat ke arahku dengan tatapan sedih tanpa berbuat apa-apa membuat aku benci sama semua orang yang ada di ruangan ini.Kenapa tidak ada satupun yang menolongku mencegah suster dan perawat itu membawa papa.Kenapa?Kenapa semua orang berubah menjadi jahat sama aku?
            Aku terus berusaha melepaskan tubuhku dari dekapan om Jun dan semakin liar saat melihat papa telah dibawa keluar pintu ruangan.Akupun menjerit-jerit histeris,kembali berteriak-teriak memanggil papa.Nggak,mereka nggak boleh membawa papaku,aku harus terus sama papa,aku sayang sama papa.
            "Papaa.. !! Papa jangan tinggalin Brandon pa.. Papa... !! Om Jun lepasin Brandon om.. hiks.. hiks.. hiks.. Papaaa... om Jun jahat pa.. PAPAA.. !!"aku tidak mau berhenti berteriak dan meronta,tak peduli dengan orang-orang yang semakin ramai menontonku.Akhirnya seorang dokterpun turun tangan.Dia mendekatiku dan sebuah jarum suntik terasa menusuk di lenganku.Beberapa saat aku merasa tubuhku lemas tak bertenaga.Dengan sisa-sisa tenagaku,aku terus mencoba berteriak memanggil papaku.Tapi semuanya sia-sia,bahkan semakin aku ingin berteriak dan meronta,aku semakin lemas lalu ambruk di pelukan om Jun.Aku merasa lelah dan tak ingat apa-apa lagi.
*B*

#Semua yang tlah terjadi,
Terasa seperti mimpi,
Kau yang sangat kusayangi,pergii..
            Cinta yang kau berikan,
            Kasih yang kau semaikan,
            Berjuta do’a kupanjatkan
            Hanya untuk engkau
Reff:
            Oh Tuhan terimalah,dirinya di sisi-Mu,
            Bahagiakanlah dia,tempatkan di surga-Mu..
            Hadirkanlah dirinya,di setiap mimpiku,
            Abadikan cintanya,di setiap langkahku.
Menetes air mataku,
Menusuk ke dalam kalbu,
Saat kucoba menahan,rinduu..
            Kenangan bersamamu,
            Akan ku ingat slalu,
            Apakah diriku sanggup hidup,tanpa engkau…#

(back to Reff)

            Original Soundtrack Novel Brandon (Mencoba Meraih Impian)
            Judul : Belum Dikasih Judul,hehehe…
By.Chu-x :D

5 komentar:

  1. Masih ada part Penutup nya...
    ditunggu yaaaaaa............
    hehehehe.. :D

    BalasHapus
  2. wahh di cetak gak nih???

    BalasHapus
  3. udah ga sabar nih nunggu penutupnya

    BalasHapus
  4. oke . .
    Dtnggu aja . .
    Klo g da halangan d postingnya pas hr Special sy . .
    Hahahaha,oke . .
    Dtnggu aja . .
    Klo g da halangan d postingnya pas hr Special sy . .
    Hahahaha,

    BalasHapus
  5. hari spesialnya kapan ? udah penasaran nih

    BalasHapus