Hari Selasa jam tujuh pagi,kami sudah standby di stasiun Pasar Turi untuk menunggu kereta yang akan membawa kami menuju stasiun Jakarta Kota.Beberapa orang melihat kami dengan tatapan heran.Begitupula dengan petugas stasiun yang dari tadi memperhatikan kami curiga.Yahh.. mungkin karena kami hanya pergi berdua saja tanpa ada orang dewasa yang mendampingi.
Satu jam lebih menunggu,akhirnya kereta yang kami tunggu tiba juga.Dari pengeras suara stasiun aku mendengar si petugas informasi sedang mengumumkan kedatangan kereta.
“Kepada seluruh penumpang dengan jurusan Jakarta Kota,silahkan bersiap-siap di jalur dua.Periksa kembali barang bawaan anda,jangan sampai ada yang tertinggal.Kepada adik-adik kita,Brandon De Angelo dan Fay Nabila Rizka Alexander,selamat jalan,selamat berjuang,selamat sampai tujuan dan bisa memenangkan lomba di Jakarta.Untuk itu,mari kita sama-sama berdo'a terlebih dahulu untuk kesuksesan dan kesehatan mereka.Berdo'a dimulai.... berdo'a selesai !! Maaf ya adik-adik,kakak cuma bisa nganterin kalian sampai di sini saja.Dadagh adik-adikku yang ganteng,cantik,lucu and imut.Hehehehe... GUBRAKK!!.
Aku dan kak Fay saling berpandangan sambil cekikikan.Kereta yang di tunggu telah berhenti di depan kami.Aku dan kak Fay serta penumpang yang lainnya berebutan untuk masuk ke dalam gerbong kereta.Setelah berada di dalam,kami langsung mencari-cari kursi duduk yang sesuai dengan nomor yang tertera di tiket yang kami beli.
Waahh.. akhirnya ketemu juga tempat duduknya.Aku dan kak Fay duduk berdampingan.Ku keluarkan cemilan-cemilan dari dalam tas ranselku yang tidak terlalu besar.Isinya cuma tiga stel pakaian dan kebanyakan makanan serta dua botol minuman.
“Kak,casette CD hip-hop buat perform kita di Jakarta nggak ketinggalan kan?”tanyaku sama kak Fay yang juga sedang asyik mengorek-ngorek isi tas ranselnya.
“Tenang saja Ndon,semuanya sudah di persiapkan dengan matang.Semalam kak Fay sudah melakukan gladi bersih buat barang bawaan kita.Sampai berpuluh-puluh kali nge-cek lho,”katanya bangga.Aku hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalaku takjub.
Kak Fay mengeluarkan i-pod nya dan dia menempelkan headset kecil di kedua telinganya.
“Wow.. kak Fay punya i-pod ya?”pekikku.
“Iya dong.. ini hadiah ulang tahun dari kakakku yang di Jakarta.Hehehe..”
“Brandon pinjam dong kak,”rengekku.
“Enak aja,dengerin aja tuh suara petugas di speaker kereta.Hahaha..”tolak kak Fay.
“Huuhh.. kak Fay pelit,”rutukku kecewa.
Kak Fay merapatkan duduknya di sebelahku lalu menempelkan sebelah headsetnya di kupingku membuat aku tersenyum ke arahnya.
“Jangan ngambek dong.. tuh kak Fay bagi sebelah.Hehehehe..”kak Fay terkekeh.
Hmm.. ini kan headset stereo,kurang enak kalau cuma ngedengerin lewat sebelah headset doang.Tapi nggak apa-apalah,daripada BT nggak ada hiburan.Apalagi kereta ekonomi ini mulai dipadati penumpang.Huuhh.. nyesel nggak beli tiket yang bisnis AC.Sudah panas,sumpek,padat,banyak yang ngamen,terus yang jualan juga.Hadeeehh.. pusiiinng..
Beberapa saat kemudian,keretapun mulai merangkak meninggalkan stasiun Pasar Turi.Aku melongok ke jendela.Hatiku rasanya was-was bercampur senang saat kereta ini mulai merangkak meninggalkan kota kelahiranku.Aku seakan tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.Seperti mimpi.Surabaya,selamat jalan kota Pahlawanku.Semoga aku bisa mengharumkan namamu di ibukota Jakarta yang padat itu.Aku ingin membawa kemenangan ke kota asalku.Semangat 10 November bergejolak di dadaku.Ku palingkan wajahku ke arah kak Fay dan mataku terbelalak kaget sampai-sampai mulutkupun ternganga melihat pemandangan aneh di depanku.Dandanan kak Fay sudah berubah drastis.Kini dia mirip seperti tokoh pahlawan R.A Kartini.Sepertinya kak Fay mau ikutan parade tujuh belas Agustusan tuh.Hahaha...
“Wooyy.. kok bengong?”bentak kak Fay membuatku tersentak kaget.Aku mengucek-ngucek mataku dan sekarang keadaan kak Fay sudah kembali normal seperti sebelumnya.Oalaaahh.. ternyata cuma halusinasiku saja toh.Hihihihi.. aku terkikik mengingat imajinasiku tadi.
Kereta terus melaju dengan kecepatan maksimal.Rumah-rumah di pinggir rel seperti berlarian.Ku nikmati pemandangan itu dari kaca jendela yang setengah terbuka.Kak Fay pun mulai mengajakku bernyanyi-nyanyi mengikuti irama lagu hip-hop yang diputar lewat i-pod nya.
Florida feat. Wynter Gordon yang judulnya Sugar.
#da double dee double di (7x)
My lips like sugar (2x)
This candy got you sprung (2x)
So call me your sugar (2x)
You love you some (2x)
I'm sweet like,
Da double dee double di double dee double di.... #
Aku dan kak Fay terus bernyanyi-nyanyi ria,tak perduli dengan dua sejoli yang duduk di hadapan kami.Atau seorang perempuan muda dengan anaknya yang ada di sebelah kursi kami serta para pedagang yang lalu lalang menawarkan dagangannya.Para pengamen pun tak ketinggalan menyanyikan lagu sesuka hatinya.Dari mulai lagu pop,dangdut,punk rock,atau lagu ciptaan mereka sendiri yang rata-rata bertemakan nasib anak jalanan.Entah sudah berapa ribu uang yang aku keluarkan untuk para pengamen itu.Ada pengamen cilik,remaja,dewasa.Haduuhh...
Oh iya,di dompetku ada banyak sekali uang.Baru kali ini aku memegang uang sebanyak ini.Papaku memang memberikan bekal yang cukup banyak (menurut ukuran anak-anak) yang seyogyanya aku gunakan untuk bekal liburan ke Jombang.Hehehe.. mungkin uangku hampir mencapai angka satu juta.
Lama-lama,aku dan kak Fay merasa kelelahan dan kamipun tertidur dengan posisi duduk serta kepala kak Fay yang bersandar di bahuku.Cihuuyy.. :D
*B*
Setelah melewati perjalanan panjang yang sangat melelahkan,akhirnya kami tiba juga di stasiun yang kami tuju.Aku dan kak Fay tiba di stasiun Jakarta Kota saat waktu sudah menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh menit.Wahh.. badanku sampai pegal-pegal gara-gara perjalanan tadi.
“Kak,sudah sampai nih,”aku membangunkan kak Fay yang masih tertidur pulas.Setengah mengantuk,kak Fay pun terbangun dan mengikutiku keluar dari gerbong kereta.Kami berdesak-desakan dengan penumpang lainnya yang juga hendak turun.
“Aduhh.. jangan dorong-dorong dong kak!”pekikku sambil melirik kak Fay yang ada di belakangku.
“Kakak juga di dorong Ndon,”jawab kak Fay membela diri sambil mengikutiku melompat turun ke peron stasiun.
Kami berdiri di dekat kursi tunggu penumpang.Mataku tak henti-hentinya berkeliling melihat-lihat keadaan stasiun.
“Inikah Jakarta??Benar-benar ramai..”aku berdecak kagum.
"Ndon,kita cari wartel yuk!Aku mau nelepon kakakku nih,”ajak kak Fay.Kamipun berjalan hampir keluar dari stasiun dan beberapa meter di depan kami,sebuah wartel yang masih buka tampak terlihat dari kejauhan.
“Kak Fay,aku nunggu di mini market itu ya,mau beli cemilan sama air minum,”aku menunjuk sebuah minimarket yang ada di area stasiun.
"Ya sudah,kak Fay nelepon dulu ya,kamu jangan kemana-mana sebelum kak Fay datang!"ingatnya sambil menunjuk ke arahku.
"Iya kak,Brandon tungguin di sini lagi ya,"aku dan kak Fay pun berpisah.Ku langkahkan kakiku menuju minimarket sedangkan kak Fay bergegas menuju wartel untuk menelepon kakaknya supaya kami dijemput di sini.
Setelah beberapa menit belanja dan mengantri di kasir,akupun cepat-cepat keluar dari minimarket dan ternyata kak Fay sudah menungguku di tempat tadi kami berpisah.
"Ndon,kata kakakku,dia jemputnya di stasiun Cawang saja,jadi kita mesti naik kereta lagi yang jurusan Bogor,"terang kak Fay tampak ragu-ragu.
"Lha terus bagaimana kak?"tanyaku bingung.
"Kita beli karcis lagi yuuk!"kak Fay kembali menyeretku menuju loket penjualan karcis.Aku hanya bisa menurut saja mengikutinya.
"Cawang dua Pak,"kata kak Fay ke petugas penjual karcis.
"Tiga ribu De,"sahut si penjual karcis itu.
"Ndon,ada tiga ribu nggak?kak Fay nggak ada uang kecil,"aku mengeluarkan dompetku dari dalam tas ranselku dan memberikan selembar uang lima ribuan ke tangan kak Fay.Setelah itu,kumasukan kembali dompetku ke dalam tas.
"Ayo naik!"ajak kak Fay dan tanpa banyak bicara,aku mengikuti kak Fay menuju kereta ekonomi jurusan Bogor yang sudah standby di sana.
Di dalam kereta ternyata sudah penuh sesak dengan penumpang.Jam segini memang rata-rata waktunya orang-orang pada pulang kerja.Kami terpaksa berdiri karena sudah tidak kebagian tempat duduk.
"Mau di taruh di atas De tasnya?"tawar seorang Bapak kepadaku saat kereta ekonomi ini mulai melaju meninggalkan stasiun Jakarta Kota.Aku tersenyum dan memberikan tas ranselku yang terasa berat karena tasnya sudah ku isi dengan barang belanjaan yang aku beli dari minimarket tadi.
"Terimakasih pak,"ucapku setelah Bapak itu menaruh tasku di tempat penyimpanan barang yang letaknya tepat berada di atas tempat duduk penumpang.Aku berdiri di dekat pintu di belakang kak Fay yang masih menggendong tas ranselnya.Mungkin dari tadi dia tidak memperhatikanku.Beberapa kali aku ajak bicara,kak Fay hanya terdiam dan mengacuhkanku.Apa kak Fay nggak denger karena bisingnya suara di dalam kereta?atau mungkin juga dia sedang melamun?entahalah..
"Kak,sudah sampai mana nih?"tanyaku mulai khawatir.Mendengar pertanyaanku,lagi-lagi kak Fay hanya terdiam dan tetap menatap lurus ke luar pintu kereta yang terbuka.
Oh iya,bagi kalian yang belum tahu kereta ekonomi jurusan Jakarta-Bogor,kondisinya sangat memprihatinkan.Pintu kereta tidak bisa terbuka atau tertutup secara otomatis.Jadi pintunya di biarkan terbuka begitu saja.Sangat berbahaya memang,tapi membludaknya penumpang membuat petugas kereta api tidak bisa berbuat apa-apa.Bahkan banyak penumpang yang nekat bergelantungan di pintu,sambungan kereta dan juga naik di atap gerbong.Entah sudah berapa korban jiwa yang berjatuhan akibat ulah para penumpang yang nekat itu.
Penumpang semakin padat saat kereta beberapa kali berhenti di setiap stasiun.Aku semakin terjepit dan tampaknya kak Fay juga sulit untuk bergerak.
"Pak,stasiun Cawang berapa kali berhenti lagi ya?"tanya kak Fay kepada salah seorang penumpang yang berdiri di dekatnya.
"Wah.. stasiun Cawang sudah kelewat De,"jawab penumpang itu membuat wajah kak Fay tampak pucat.Akhirnya di stasiun berikutnya kak Fay mengajakku turun dari kereta.
"Kak,tunggu dulu kak!"aku teringat dengan tas ranselku yang masih ada di tempat penyimpanan barang.Tapi kak Fay tetap menarik lenganku untuk segera keluar dari gerbong kereta.
"Sebentar kak tas Bran..."
"Cepetan Ndon,keretanya berhenti cuma sebentar,"akhirnya dengan susah payah aku dan kak Fay berhasil keluar dari gerbong.
"Tas ku masih di dalam kak,"bentakku sambil melepaskan cengkeramannya.
"Kak,tolong ambilin tas ku kak!"aku meminta tolong kepada salah seorang penumpang yang berada di dekat pintu.
"Tas yang mana De?"tanyanya santai.
"Tas yang hitam di atas itu kak," teriakku.
"Susah De penuh banget nggak bisa gerak,"jawabnya enteng membuatku panik dan kesal.
"Kak tolongin kak,tolong ambilin tas ku kak,"aku terus mencoba meminta pertolongan tapi pemuda itu tetap tidak melakukan apa-apa sampai kereta mulai kembali merangkak meninggalkan stasiun dengan tas ranselku masih berada di dalamnya.
"Kak tolongin kak...!!"teriakku sambil mengejar kereta yang berjalan semakin cepat.Tapi percuma saja,aku tidak bisa mengejarnya dan aku hanya bisa menjatuhkan lututku di peron sambil terisak meratapi tas ranselku.
"Tas ku.. hiks.. hiks.. hiks.."
"Ndon,maafin kakak,kak Fay nggak tahu kalau kamu nyimpen tas di bagasi,kakak kira tas kamu masih kamu gendong,"kak Fay menghampiriku dengan perasaan bersalah.
"Terus gimana kak?Sekarang Brandon sudah nggak punya apa-apa.Hiks.. hiks.. hiks.. Kenapa kita nggak di jemput di stasiun Jakarta Kota saja kak?"tanyaku kesal.
"Maaf Ndon,sebenarnya.. mmhh.."
"Kenapa kak?"tanyaku nggak sabar.
"Sebenarnya kak Fay nggak jadi nelepon kakakku yang ada di Jakarta,"lirihnya sambil tertunduk sedih.
"Lho,memangnya kenapa kak?"
"Brandon... hiks.. hiks.. hiks.."tiba-tiba saja kak Fay ikut menangis lalu memelukku membuatku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan kak Fay.
"Maafin kakak,kak Fay sudah bohong sama kamu.Tadi waktu kakak mau masuk ke wartel,kakak nyari dompet kakak tapi nggak ada di saku celana kak Fay.Padahal di dalamnya ada uang sama nomor telepon kakakku.Kakak yakin tadi sebelum turun dari kereta yang dari Surabaya tadi,dompet kakak masih ada.Kakak nggak tahu kapan hilangnya.Mungkin sewaktu kita desak-desakan pas mau turun dari kereta Ndon.Hiks.. hiks.. hiks.."aku menggeleng-gelengkan kepalaku mendengar ceritanya.
"Kenapa kak Fay nggak bilang dari tadi kak?Kenapa baru bilang sekarang?Tahu dompet kak Fay hilang,aku bisa ngehubungin kak Reny,"bentakku sama kak Fay.
"Kak Fay lupa Ndon,kakak nggak enak sama kamu.Kak Fay... ah... ya sudah,sekarang kita telepon kak Reny saja,"ujarnya menyesal.
"Memangnya kak Fay hafal nomor kak Reny?"tanyaku.
"Lho,kamu nyimpen nomornya kak Reny kan?"kak Fay balik bertanya.
"Nomor kak Reny dan papaku ada di dompet kak,dan dompet itu aku simpan di tas ranselku yang terbawa kereta.Aku nggak hafal nomornya,"terangku membuat kami bertambah bingung.Sesaat kami hanya bisa terdiam.Malam semakin larut dan stasiun ini,entah stsiun apa namanya,sudah sepi di tinggalkan penumpang dan petugasnya.
"Sekarang bagaimana kak?"tanyaku memecah kebisuan.
"Kak Fay nggak tahu Ndon,kak Fay juga bingung.Seharusnya kita turun di stasiun Cawang dan dari sana kita tinggal naik angkutan umum satu kali,"lirihnya.
"Kenapa jadi kayak gini sih kak?Brandon bingung kak.Pokoknya Brandon mau pulang ke Surabaya,"
"Ndon.. tapi kita sudah sampai di Jakarta...."
"dan tersesat !!"aku memotong ucapan kak Fay.
"Sudahlah kak,lupain semuanya.Sekarang kita sudah nggak punya apa-apa lagi,uang kita udah nggak ada,bajuku,semuanya nggak ada.Mau ngapain lagi kita di sini?Kita udah nggak bisa ikut lomba itu.Besok pagi kita bilang sama petugas stasiun kalau kita tersesat atau kalau perlu kita cari kantor polisi saja,"kesalku.
"Tapi Ndon.. kak Fay ingin ikut lombaa.. hiks.. hiks.. hiks.."kata kak Fay mulai kembali terisak.
"Brandon sudah nggak peduli kak.Brandon sudah nggak punya apa-apa lagi !! Bagaimana mungkin kita bisa ikut lomba itu?"aku terdiam sejenak melihat kak Fay yang sedang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sudahlah kak,lupain semuanya,lupain perjuangan kita.Brandon sudah nggak peduli lagi dengan lomba itu!!"bentakku bertambah kesal.
"Kita pasti nemuin tempat kakakku Ndon,kak Fay masih ingat jalannya,"kak Fay tetap pada pendiriannya.
"Terserah kak Fay!! Brandon mau pulang dengan atau tanpa kak Fay,"aku beranjak dari peron dan duduk di bangku yang ada di sana.
"Ndonn..."kak Fay mengikutiku dan ikut duduk di sampingku.Dia terus membujukku supaya tidak pulang dulu.Kali ini aku tidak menghiraukan kata-katanya lagi.Aku benar-benar kesal sama kak Fay.Aku tak perduli dia bicara apa,mulutku sudah lelah untuk bicara.Rasa lapar yang tadi aku rasakan lenyap begitu saja karena kejadian ini.
Aku tertidur di bangku stasiun,membiarkan kak Fay yang masih terisak sambil memandang sekeliling stasiun yang telah berhenti beroperasi.Di beberapa bangku stasiun juga tampak anak-anak jalanan sedang melepas lelah.Ada juga yang tidur di peron dengan hanya beralas kardus dan selimut dari spanduk bekas.Pakaian mereka begitu lusuh dan kotor,bahkan beberapa anak tampak bertelanjang dada.Tapi apa bedanya mereka dan aku sekarang?Bajuku juga tampak kotor dan lusuh.
Aku terlelap dalam tidur tanpa berhias mimpi.Tak peduli lagi dengan kak Fay yang masih asyik memperhatikan anak-anak jalanan itu.Malam semakin larut menuju dini hari.Entah berapa lama aku terlelap di bangku peron.Yang jelas,aku kembali terjaga ketika mendengar suara teriakan yang menyerukan kata "Satpol PP" dan "Trantib" dari anak-anak jalanan yang ada di stasiun.Dengan setengah sadar dan mata yang masih berat,aku terduduk di bangku peron sambil mengucek-ngucek mataku dengan santai.
"Huuhh.. ternyata aku masih berada di sini,"rutukku setelah kesadaranku pulih.
Hari masih sangat gelap,mungkin baru sekitar jam tiga dini hari.
"Ada satpol PP,cepetan lari !!"seorang anak jalanan yang berlari melewatiku menyuruhku untuk segera meninggalkan area stasiun.Aku mengacuhkannya dan kembali tersadar kalau seseorang yang semalam masih berada di sampingku kini telah hilang dari hadapanku.
“Kak Fay !!”aku melihat sekeliling.Tidak ada siapa-siapa selain beberapa anak jalanan yang masih berlarian.Kemana dia?
“Kak Faayy... !!”aku berteriak memanggilnya sambil berlari kesana-kemari,berharap menemukan sosoknya dan merespon teriakanku.Namun,tak ada sahutan dari orang yang aku panggil-panggil namanya.Hanya desau angin yang begitu dingin menusuk kulit yang menjawab teriakanku.
“Kak Fay.. hiks.. hiks.. hiks..”aku menangis sendirian tak tahu harus berbuat apa lagi selain berteriak memanggil kak Fay.
“Kak Fay,kenapa kak Fay tega ninggalin Brandon kak?Apakah kak Fay marah sama Brandon?seharusnya Brandon yang marah kak.. Kak Fay bohong.. Kak Fay bilang sama papa katanya kakak mau ngejagain Brandon,tapi apa buktinya?kak Fay ninggalin aku sendirian.Kak Fay jahat.. aku benci kak Fay!! Jangan harap aku bisa maafin kak Fay.Aku nggak mau kenal lagi sama kak Fay... hiks.. hiks.. hiks..”hatiku terus meracau merutuk kak Fay.Aku hanya bisa diam mematung sendirian di peron stasiun sambil terisak.
Beberapa petugas satpol PP mulai mendekatiku dan tanpa perlawanan,aku di bawa ke sebuah mobil truk yang sudah terparkir tak jauh dari stasiun.Akupun mengikuti anak-anak jalanan lainnya naik ke atas truk yang di dalamnya juga sudah banyak yang tertangkap.Mataku berkeliling menatap mereka satu-persatu dan pandanganku berhenti pada sosok salah seorang anak perempuan yang aku kira itu adalah kak Fay.Tapi ternyata bukan,kak Fay tidak ada di truk ini.Kak Fay tidak tertangkap,kak Fay tidak terkena razia.Apa dia kabur saat mendengar teriakan ada satpol PP?kenapa dia tidak membangunkanku?Kenapa dia tega ninggalin aku sendirian?Kak Fay keterlaluan.. kak Fay sudah menelantarkanku sendirian di stasiun.
Aku tertunduk di dalam mobil satpol PP dengan perasaan kesal yang bertumpuk terhadap kak Fay.Aku bingung dan perasaan ingin cepat pulang ke rumahku di Surabaya semakin kuat.Aku rindu kampung halamanku.. terutama sama papaku.Papa,maafin Brandon pa,mungkin Brandon pantas menerima semua ini karena Brandon sudah membohongi papa.Tolongin Brandon pa.. Brandon takut.. Brandon pengen pulang... Brandon kangen sama papa...
Sosok papa hadir di otakku dan saat ini aku benar-benar sangat merindukan dan membutuhkannya.Aku berharap papa hadir di sisiku.
“Pa... Brandon menyesal.Tolongin Brandon.. !!”hatiku menjerit menahan tangis.Namun air mataku tak terbendung dan mulai menetes di pipiku.
Udara dini hari yang begitu dingin menusuk kulit tak bisa ku rasakan lagi.Aku seperti mati rasa.Hatiku kosong dan hampa.Entah apa yang akan terjadi esok hari,aku harap aku bisa pulang ke Surabaya secepatnya.
*B*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar