Aku dan yang lainnya di bawa ke kantor polisi dan di sana,identitas kami di data satu persatu.Saat giliranku tiba,aku mencoba menjelaskan sama petugas yang mendata kami kalau aku bukan anak jalanan seperti yang mereka kira.
"Saya tersesat pak,saya masih punya papa,"jelasku.
"Terus di mana papa kamu?Kenapa kamu bisa terpisah sama papa kamu?"tanyanya seperti tak percaya.
"Saya.. mmh.. saya ke Jakarta sama teman saya pak,tapi dia ninggalin saya di stasiun,"
"Halaahh.. kecil-kecil sudah mau membohongi polisi.Bilang saja kamu mau kabur,iya kan?lagian mana mungkin anak kecil kayak kamu hanya pergi berdua ke Jakarta?Sudahlah,Bapak harus mendata yang lainnya,"
"Pak,tolong pak!Kalau Bapak nggak percaya,telepon saja ke rumahku,"petugas itu menatapku.Aku memberikan nomor telepon rumahku yang ada di Surabaya.Lalu petugas itupun menghubunginya.Tapi tidak ada yang mengangkatnya.Aku baru ingat,kalau papa masih berada di Bandung dan belum pulang ke rumah.
"Mana papa kamu?Nggak ada yang ngangkat,"petugas itu menutup teleponnya.
"Papa saya sedang ke luar kota pak,dia baru pulang dua minggu lagi,"aku kembali menjelaskan.
"Berarti kamu bakalan tinggal di sini selama dua minggu sampai papa kamu menjemput kamu,"petugas itu terlihat jengkel karena merasa telah dipermainkan olehku.
"Sekarang kamu masuk ke dalam,Bapak harus mendata yang lainnya,"
Ingin rasanya aku menangis saat itu juga.Bagaimana mungkin aku harus berada di sini selama dua minggu?Papa.. tolongin Brandon pa.. Brandon takut.. Brandon nggak mau ada di sini...
Aku masuk ke sebuah ruangan.Bukan,bukan sel tahanan.Ini hanya sebuah ruangan yang cukup luas,mungkin bisa di bilang aula.Aku bersandar di pojokan sambil memegangi lutut.Di ruangan ini juga sudah banyak sekali anak-anak jalanan dengan kegiatannya masing-masing.Ada yang tiduran,mainin gitar,ataupun bercanda dengan temannya.Mereka seperti tak ada rasa takut di bawa ke sini.Apa mereka sudah terbiasa di tangkap seperti ini?Yang jelas,mereka tampak tenang,tidak seperti aku yang ketakutan dan rasanya ingin kabur saja dari tempat ini.
"Kak Fay,aku nggak habis pikir,kenapa kakak ninggalin Brandon kayak gini?Brandon takut kak.. kak Fay tega ninggalin Brandon sendirian.Padahal ini semua gara-gara kak Fay.Kak Fay yang ngajak aku ikut lomba,kak Fay yang membuat aku terpaksa membohongi papa,kak Fay juga yang bikin aku tersesat dan di tangkap petugas trantib karena dikira anak jalanan.Aarrgghh.. kenapa sih,aku jadi kayak gini?Kenapa aku jadi nyalahin orang lain?kenapa aku jadi nyalahin kak Fay?toh ini bukan sepenuhnya salah dia,ini juga salahku,"air mataku mulai mengalir membasahi pipiku.
Seandainya saja papa datang menjemputku,aku pasti senang sekali.Aku nggak peduli papa mau marah kayak gimana sama aku,yang penting aku bisa pulang ke rumah.
"Papa.. tolongin Brandon.. Maafin Brandon pa.."aku semakin terpekur meratapi nasibku.Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau akhirnya akan menjadi seperti ini.Aku rindu papaku,aku ingin sekali bertemu sama papaku.Papa....
"Anak cowok kok nangis?"seorang anak perempuan yang baru saja duduk di sampingku meledekku.Aku segera menghapus air mataku dan berusaha untuk tersenyum ke arahnya.Ternyata dia anak yang aku kira kak Fay di mobil truk tadi.
"Maaf ya,aku cuma bercanda kok.Kalau kamu mau nangis,nangis aja.Namanya juga lagi sedih,siapapun boleh nangis.Jangankan kita yang masih kecil,orang dewasa saja pasti pengennya nangis kalau mereka lagi sedih,"sesaat dia tersenyum ke arahku lalu dia pun melanjutkan kata-katanya.
"Oh iya,kenalin,namaku Jaanitra Priyanka Millenix.Panggil saja JP,"anak perempuan itu mengulurkan tangannya ke arahku.Aku menyambut uluran tangannya sambil memperkenalkan diriku juga.
"Brandon,"jawabku pendek.
"Brandon doang?"tanyanya.
"Brandon De Angelo si unyu dari Sby... hehehe.. namaku Brandon De Angelo,panggil saja Brandon,"sahutku sambil melepaskan jabatan tanganku.
"Masih sekolah?"tanyanya lagi.
"Kelas empat,kamu?"aku balik bertanya.
"Kelas lima.Hmm.. kenapa kamu bisa tertangkap kayak gini?kayaknya kamu berbeda dari mereka,"kak JP menunjuk anak-anak jalanan yang ada di ruangan ini.Pertanyaannya membuatku kembali menunduk sedih.
"Upss.. maaf ya,aku nggak bermaksud..."
"Nggak apa-apa kok,aku juga lagi pengen cerita.Siapa tahu bebanku bisa berkurang,"aku mencoba bersikap tenang dan diapun kembali tersenyum ke arahku.
Aku mulai bercerita tentang sekolahku yang dulu,tentang belajar dance yang sembunyi-sembunyi,tentang papa yang melarangku nge-dance tapi sangat sayang sama aku,tentang mamaku yang sudah nggak ada,tentang kak Fay,kak Nayla,semuanya tak ada yang terlewatkan sampai akhirnya aku bercerita kenapa aku bisa berada di tempat yang tak terbayangkan ini.Aku nggak tahu kenapa aku ingin menceritakan kehidupanku sama kak JP,orang yang baru aku kenal.Mungkin saat ini aku memang sedang membutuhkan seseorang yang bisa menghiburku.Aku ingin berbagi dengan orang lain,siapa tahu dengan begitu aku bisa meringankan beban yang selama ini aku pendam sendiri.
"Oh... jadi kalian berdua mau ikut lomba dance buat nolongin Nayla itu?"tanya kak JP setelah aku baru saja selesai bercerita.
"Ya.. sebenarnya bukan karena itu saja.Aku juga pengen ngebuktiin sama papa kalau aku benar-benar suka nge-dance dan bisa sukses dengan nge-dance.Tapi ternyata semuanya harus berakhir kayak gini,"
"Hmm.. tapi aku salut dengan perjuangan kamu yang sudah melangkah sejauh ini Ndon,kamu masih kecil,masih banyak kesempatan untuk mewujudkan semua itu dan masih banyak kesempatan juga buat ngebuktiin semuanya sama papa kamu,"terang kak JP yang sudah mulai akrab denganku.
"Kak JP sendiri,kenapa bisa ada di sini?"mendengar pertanyannku,kak JP kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding di sebelahku.
"Aku kabur dari rumah,"jawabnya lirih.
"Lho,memangnya kenapa kak?"tanyaku terkejut mendengar pernyataannya.
"Papaku mau menikah lagi,aku nggak mau tante Adel,calon istri papa gantiin mamaku yang sudah nggak ada.Memang sih,tante Adel itu baik,baik banget malah sama aku.Tapi aku... aku nggak mau papaku menikah lagi,"
"Kak,kalau tante Adel baik sama kakak,apa salahnya kak JP nerima dia jadi mama kakak?mungkin kak JP belum terbiasa,tapi lama-lama siapa tahu kakak merasa nyaman,"
"Aku belum bisa Ndon,banyak kenangan sama mamaku dan aku nggak mau kenangan itu hilang dengan kehadiran tante Adel,"jawabnya sedih.
"Kak,sampai kapanpun,kenangan itu nggak bakalan hilang.Kenangan akan selalu terbawa sampai kapanpun.Tapi buat apa kakak melihat ke belakang terus?Memang,masa lalu kak JP indah untuk dikenang,tapi ingat masa depan juga kak,kita nggak bisa kembali ke masa lalu,"kak JP tersenyum kecil mendengar kata-kataku.
"Kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu?"tanyanya heran.
"Papaku yang ngajarin,dulu aku sering menuntut papa untuk bercerita tentang mama.Sekarang aku tahu kalau papa nggak mau mengingat-ingat masa lalunya.Dia bakalan sedih kalau bercerita tentang mamaku.Makanya aku nggak pernah bertanya-tanya lagi walaupun sebenarnya aku ingin tahu lebih banyak tentang mama,"aku tertunduk menatap lututku.Ingatanku mencoba menangkap sosok orang yang tak pernah kutemui.Namun sosok itu tak pernah terbayangkan.Bayangan mamaku selalu kembali buyar saat aku mulai menjadikannya gambar yang utuh.
"Seandainya kamu ada di posisi aku gimana Ndon?"kak JP menatapku lekat-lekat,menunggu jawaban apa yang akan terlontar dari mulutku.
"Apapun yang papa lakuin,aku yakin itu yang terbaik.Jadi,apapun keputusan papaku,entah dia mau menikah lagi atau tidak,aku akan selalu mendukungnya,"sahutku.
"Jawabanmu seperti menyindirku,"kak JP memalingkan wajahnya.
"Maaf,bukan begitu maksudku.Setiap orang punya prinsip dan kak JP berhak menentukan pilihan kakak,"aku mencoba menenangkan kak JP.
"Kamu... kamu pinter banget ya ngomongnya,padahal masih kelas empat SD.Hehehe.. kakak kira kamu cuma anak manja yang tahunya cuma..."
"Siapa bilang aku nggak manja?Aku juga masih butuh dimanjain kok.Hehehe..."potongku dan aku lihat kak JP mulai bisa kembali tertawa.
Kamipun semakin asyik mengobrol kesana-kemari membuat aku dan kak JP semakin akrab,seperti sudah kenal lama saja.Ruangan inipun mulai penuh karena orang-orang yang terkena razia terus berdatangan.Bukan dari kalangan anak-anak saja,orang dewasa juga banyak yang kena razia ini.Aku dan kak JP hanya bisa terdiam saat memperhatikan penampilan mereka semua.Mulai dari yang bergaya anak punk sampai anak perempuan kecil seumuranku yang menggendong balita,entah adiknya atau siapanya.Hatiku terasa perih saat melihat anak kecil itu.Kenapa hidup ini begitu kejam?Kenapa orang tua mereka membiarkan anaknya hidup di jalanan?Di usia mereka yang tidak jauh berbeda denganku,seharusnya mereka bisa menikmati masa kecilnya,menikmati saat-saat indah bersama dunia kecilnya.Ah.. mengapa kehidupan mereka berbeda denganku?Di usiaku saat ini,aku hanya memikirkan pelajaran di sekolah,bermain bersama teman-temanku,mengejar apa yang aku mau dan tak pernah memikirkan bagaimana caranya supaya hari ini bisa makan karena aku pikir,hal itu merupakan kewajiban penuh papa sebagai orang tuaku.Sungguh,semua ini di luar akal pikiranku.Hari ini,aku mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang kehidupan di luar dari tempat ini.
"Pak,lepasin saya pak,saya bukan anak jalanan.. saya masih punya orang tua dan rumah.Percaya sama saya pak,saya sedang mencari teman saya.."suara seorang anak perempuan yang tak asing lagi di telingaku terdengar dari ruang pendataan.
"Apa benar itu suara kak Fay?"bathinku sambil melirik ke arah pintu yang menghubungkan antara ruangan ini dan tempat untuk mendata.
"Ya sudah,ade tunggu sampai orang tua ade datang menjemput ade di sini,"jawab seorang petugas dan tak lama kemudian sosok yang aku bayangkan telah berdiri di ambang pintu.Kedua bola matanya yang sembab langsung beradu dengan mataku.
"Brandonn!!"teriaknya.
"Kak Fay,"aku langsung berdiri sedangkan kak Fay berlari ke arahku dan memelukku erat.
"Kak Fay.. kakak kemana saja?Brandon takut kak.. kenapa kak Fay tega ninggalin Brandon sendirian?"tanyaku di pelukan kak Fay.
"Maafin kak Fay Ndon,kak Fay nggak bermaksud ninggalin kamu,"kak Fay melepaskan pelukannya lalu menatapku dalam-dalam.Tatapannya tampak seperti penuh penyesalan.
"Tadi malam kak Fay nyari makanan buat kita Ndon.Kakak tahu kamu lapar.Tadinya kakak mau bangunin kamu buat sama-sama beli makanan.Tapi kak Fay nggak tega ngebanguninnya karena kak Fay lihat tidur kamu nyenyak banget Ndon.Jadi kak Fay putusin buat beli makan sendirian.Waktu kak Fay ke stasiun lagi,kamu udah nggak ada.Kak Fay panik lalu nyari-nyari kamu kemana-mana,tapi nggak ketemu juga.Kakak nyariin kamu sampai keluar stasiun,kak Fay malah di tangkap petugas trantib dan di bawa ke sini,"terangnya.
"Beneran kakak nggak ninggalin aku?"
"Tentu saja Ndon,apa gunanya kak Fay ninggalin kamu?Kakak sudah janji sama papa kamu kalau kak Fay bakalan selalu jagain kamu,"jawabnya meyakinkanku.
"Kak Fay jangan tinggalin Brandon lagi kak.. Brandon takut.."
"Iya Ndon,kak Fay janji.Kak Fay nggak bakalan jauh-jauh dari kamu.Kakak bakalan terus sama-sama kamu.Kita harus saling menjaga Ndon,"kata kak Fay lirih sambil tertunduk sedih.
"Iya kak,yang penting sekarang Brandon sudah ketemu kak Fay,"aku menepuk pundak kak Fay dan itu membuat dia tersenyum manis ke arahku.Aku mengajak kak Fay untuk duduk sambil bersandar ke dinding dan aku hampir lupa kalau dari tadi kak JP memperhatikan ulah kami.
"Kak Fay,kenalin teman baru Brandon,"aku mencolek lengan kak Fay.
"Hmm.. baru ditinggal sebentar saja sudah dapat gebetan baru,"bisik kak Fay menggodaku.
"Jaanitra Priyanka Millenix,panggil saja JP,"kak JP dan kak Fay saling berjabat tangan.
"Fay Nabila Rizka Alexander,bisa panggil Fay atau Abiel,"balas kak Fay seraya melepaskan jabatan tangan mereka.
"Oh iya,apa rencana kalian selanjutnya?mau terus ikut lomba?"tanya kak JP membuat kak Fay menoleh ke arahku.
"Aku sudah cerita semuanya kak,"jelasku tanpa kak Fay minta.
"Kami nggak tahu,mungkin kembali pulang ke Surabaya,"lirih kak Fay tampak sedih.Mungkin dia masih ingin sekali mengikuti lomba itu.
"Sebentar lagi aku bakalan ada yang jemput.Bagaimana kalau kalian ke tempatku saja?Siapa tahu papaku bisa bantu,kalian masih berniat ikut lomba dance itu kan?"tawar kak JP membuat aku dan kak Fay saling berpandangan.
"Apa nggak ngerepotin?Kami..."
"Tenang aja,papaku baik kok,dia pasti mau nolongin kalian,"
"Beneran?"tanya kak Fay mulai berbinar.
"Tentu saja Fay,kalian mau kan?Memangnya kalian mau di sini terus sampai keluarga kalian menjemput kalian?Ayolah.. kalian mau ya?"bujuk kak JP lagi.
"Baiklah,aku mau,"sambut kak Fay.Kini pandangan kak JP tertuju ke arahku.
"Aku ikut kak Fay saja,"sahutku.Kak JP tertawa senang.
"Kok ketawa sih?"tanyaku heran.
"Habisnya Fay udah kayak Babby Sitter kamu Ndon.Hahahaha..."
"Ah.. siaalll..."rutukku malu membuat kak JP dan kak Fay tertawa girang.
"Bukan gitu kak,kak JP nggak tahu aja.Aku takut sama kak Fay.Dia itu galak banget.Kalau marah,wuiihh.. seremmm,"
"Apan sih Ndon?"kak Fay mencubit pinggangku dengan keras.Akupun terpekik karena cubitannya.
"Aww.. tuh kan galak?"kataku lagi sambil mengusap-usap bagian yang sakit.Kamipun kembali tertawa berbarengan.Hahahaha...
*B*
"Tante,kenapa bukan papa yang jemput aku?"tanya kak JP sama tante Adel setelah kami berada di mobil tante Adel untuk menuju ke rumahnya.Aku dan kak Fay duduk di jok belakang,sedangkan kak JP duduk di depan,di samping tante Adel yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Papa kamu sibuk sayang,tadi dia yang nyuruh tante jemput kamu,soalnya papa kamu mesti nyiapin bahan meeting dengan klien dari Hongkong pagi ini,"jelas tante Adel yang sesekali melirik ke belakang lewat kaca spionnya.
"Kenapa sih papa lebih mentingin kerjaannya daripada aku?Apa dia nggak kangen sama JP?Padahal JP udah dua hari kabur dari rumah,"kak JP tampak merengut kecewa.Aku dan kak Fay hanya bisa saling berpandangan dan menyimak percakapan keduanya.
"Bukan begitu sayang,kamu tahu sendiri,perusahaan papa kamu sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat.Otomatis papa kamu akan semakin sibuk dengan kerjaannya.Tapi setelah selesai meeting nanti,papa kamu bakalan langsung ke rumah tante buat jemput kamu,"jawab tante Adel mencoba menghibur kak JP dan pandangannya kembali ke arahku dan kak Fay.Cara pandangnya membuatku sedikit takut.Akupun berbisik di telinga kak Fay.
"Kak,dari tadi tante Adel ngeliatin kita terus.Aku jadi takut,jangan-jangan kita mau di jual,"bisikku.
"Hush.. sembarangan aja.Jangan berburuk sangka dulu Ndon,nggak baik.Lagian kata JP juga tante Adel kan orangnya baik,"kak Fay menyanggah ucapanku.
"Maaf kak,tapi aku kurang suka tante Adel mandangin kita kayak gitu.Bikin aku takut,"mendengar jawabanku,kak Fay hanya tersenyum kecil.Kamipun kembali fokus mendengarkan perbincangan kak JP dan tante Adel.
"Tante,maafin JP ya,JP udah ngerepotin tante,padahal gara-gara JP tante batal menikah dengan papa,"tante Adel menghela nafas panjang sejenak.
"JP,kamu tahu kan,dari dulu tante sudah menganggap kamu itu sebagai anak tante sendiri.Tante sayang sama kamu tulus,bukan karena papa kamu.Bukankah tante sudah mengenal kamu jauh sebelum tante kenalan sama papa kamu?Iya kan?Lagipula tante juga masih ragu dengan keputusan tante untuk menikah lagi.Jadi kamu jangan merasa bersalah kayak gitu.Oke sayang?"kak JP tersenyum ke arah tante Adel.
"Makasih tante,tapi oma pasti kecewa banget sama tante dan aku.Dia pasti marah sama aku,"
"JP,oma mungkin belum bisa menerima kalau tante batal menikah.Tapi bukan karena itu juga.Beliau masih sedih dengan meninggalnya opa sebulan yang lalu.Oma seperti kehilangan arah hidupnya.Setiap hari cuma bisa marah-marah tidak jelas.Tante juga sebenarnya bingung ngadepinnya,"lirih tante Adel.
"Maafin JP tan.."
"Sudahlah sayang,mama tante sebenarnya baik kok,cuma sekarang dia masih dalam masa berkabung atas meninggalnya opa,papa tante,"tutup tante Adel mengakhiri percakapan mereka.Dan sekarang,mata tante Adel kembali terlihat memandang ke arahku dari kaca spionnya.
"Oh iya,Brandon samaa..."
"Fay tante,"potong kak Fay.
"Iya,Brandon sama Fay untuk sementara tinggal di rumah tante saja ya?kalian masih berniat ikut lomba dance kan?"tanya tante Adel.
"Iya sih tan,tapi aku sudah nggak punya apa-apa.Baju buat performku hilang semua,"jawabku.
"Tenang saja,itu masalah gampang,yang penting kalian masih berminat ikut lomba.Untuk masalah kostumnya,itu urusan tante,"terang tante Adel membuatku gembira.
"Beneran tante?"sahutku tak percaya.
"Iya.. tapi casette buat backsongnya masih ada kan?"tanyanya lagi.
"Ada di tasku tante,"jawab kak Fay bersemangat sambil memperlihatkan tas ransel pink-nya.
"Syukurlah,jadi kalian tinggal latihan doang.Oh iya,lombanya hari Kamis kan?berarti besok dong,"ingat tante Adel.
"Lombanya hari Sabtu kok,"jawabku.
"Lho,memangnya kalian nggak dikasih kabar?kan ada perubahan jadwal,untuk tahap awal,kalian besok akan di seleksi dari seratus group menjadi lima belas group.Dari lima belas,hanya ada dua group yang akan melaju ke babak grandfinal yang akan digelar hari Sabtu depan,"aku dan kak Fay saling berpandangan sambil mengerutkan kening tak mengerti.
"Tante tahu dari mana?kok bisa tahu tentang lomba itu?"tanyaku penasaran.
"Hmm.. tante dua tahun lalu sempat menjadi juri di lomba dua tahunan itu.Tapi tahun ini tante nggak ikut.Jadi tante tahu semua informasi tentang lomba,soalnya panitia lombanya kebanyakan orang-orang lama dan mereka masih sering berkomunikasi dengan tante.Tante kan juga jago nari.Tapi cuma jago nari Latin kayak salsa,tango,ya.. latin dance lah.Bisa hip-hop juga sih sedikit-sedikit.Hehehe.."
"Waahh... hebaatt..."pekikku dan kak Fay berbarengan.Sedangkan kak JP dan tante Adel hanya tertawa melihat ekspresi kami yang kompak.
"Mungkin surat yang dikirim panitia lomba telat sampainya ke tempat kalian,"terang kak JP.
"Mungkin juga terselip di lipetan baju pengantar suratnya,"jawabku berkelakar membuat seisi mobil dipenuhi dengan suara tawa.
Tiba-tiba terdengar suara aneh dari dalam mobil.
"Bunyi apaan tuh?"tanya tante Adel.Aku mengangkat tanganku.
"Perutku minta di isi... Hehehehe...."
"Waduhh.. anak tante sudah pada kelaperan rupanya, hahaha..."seluruh penghuni mobilpun kembali tertawa riuh.Tante Adel menambah kecepatan mobilnya menembus angin kota Jakarta pagi hari yang begitu dingin menusuk kulit.Jika sudah beranjak siang,pasti udara kota Jakarta akan terasa panas karena kendaraan umum maupun pribadi akan keluar dari sarangnya dan menimbulkan polusi dimana-mana (emangnya burung keluar dari sarang?) hihihihi... Secercah harapan mulai menyeruak di hatiku.
"Papa,maafin Brandon pa... Brandon pengen ngebuktiin sama papa,kalau Brandon sudah besar dan berhak menentukan pilihan Brandon sendiri.I Love you papa.. Brandon kangeennn sama papa,"aku tersenyum bahagia karena melihat wajah papa yang sedang tersenyum ke arahku.Rasanya aku ingin sekali memeluknya,tapi sosok papaku yang seperti nyata itu hanya ada dalam lamunanku saja. :D
*B*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar