Minggu, 12 Juni 2011

IMPIANKU,AKANKAH TERWUJUD?? *last part*


            Kutatap stage yang akan kami gunakan untuk Grandfinal yang beberapa jam lagi akan digelar.Ada berbagai perasaan yang berkecamuk di hatiku.Senang,haru,bangga dan was-was menanti saat-saat aku dan kak Fay tampil memberikan yang terbaik untuk Grandfinal nanti.Kak Fay berdiri di samping kananku,menggenggam erat tanganku seolah memberikan keyakinan kalau aku dan dia bisa menjadi yang terbaik.Kubalas genggamannya dan kami seperti saling memberikan energi semangat ke dalam diri masing-masing.Kak JP yang berdiri di samping kiriku ikut menggenggam tanganku.Ya,aku harus bisa,aku harus menjadi yang terbaik dan membuktikan sama papa kalau aku bisa berhasil dengan nge-dance.
            Perasaan bangga kian muncul ketika para penonton yang hadir mengibarkan bendera dan spanduk bertuliskan "BielBrand" dan "NaticNizer" serta gambar aku dan kak Fay dengan ukuran super besar.Tapi di sisi lain,hatiku juga sedih karena papa tidak hadir mendukungku.Ah.. papa.. seandainya papa ada di sini ikut memberikan support untuk Brandon,pasti Brandon akan sangat bahagia sekali.Mungkin Brandon akan menjadi orang yang paling bahagia seandainya papa ada di antara para pendukung Brandon dan kak Fay,"NaticNizer".
            Dari belakang stage yang megah dan indah,mataku berkeliling menatap orang-orang yang mendukungku.Dan.. ah.. apa aku tidak salah lihat?Benarkah? Aku mengucek-ucek mataku.Benar.. itu papa.. papa sedang mengobrol dengan kak Dimas,kak Sam dan kak Doni.
            Jantungku berdetak kencang,apakah aku senang?Apa aku bahagia?Ya,tentu saja,tapi kenapa perasaan itu bercampur dengan rasa khawatir?Aku takut seandainya papa marah padaku dan ah.. semoga saja semua berjalan sesuai dengan keinginan hatiku.
            Kulepas genggaman kak Fay dan kak JP.Aku berlari meninggalkan kedua sahabatku untuk menyongsong papaku.Aku rindu sama dia,aku ingin memeluknya.Rasanya sudah bertahun-tahun aku jauh darinya.Aku ingin merasakan dekapannya,ciumannya.Papa.. Brandon kangen banget sama papa.
            "Papa.... !!"teriakku menghambur ke arahnya.Papa yang sedang mengobrol dengan kak Dimas,kak Sam dan kak Doni segera memalingkan wajahnya ke arahku.Aku berlari mendekatinya dan...
            "Brandonn !! Apa-apaan kamu ini?"papa menghentikan tubuhku yang hendak memeluknya.Kenapa papa mencegahku untuk mendekapnya?Apa papa nggak kangen sama Brandon?Kenapa papa malah menatapku tajam?Tatapannya seperti mau menerkamku.Ini bukan papa yang aku rindukan,ini bukan seperti papa yang aku bayangkan.
            "Papa,biarin Brandon memeluk papa.. Brandon kangen sama papa,"kata-kata itu tidak mampu aku ucapkan.
            "Brandon,kita pulang,"katanya datar.
            "Pa.. jangan pa.. Brandon harus ikut lomba pa.."
            "Papa nggak peduli !!"bentaknya memotong ucapanku.
            "Ayo pulang !!"ajaknya lagi.
            Aku diam mematung,menatap kak Dimas,kak Sam dan kak Doni bergantian untuk meminta bantuannya.
            "Om tolong om.. kita sudah terikat kontrak dengan sebuah stasiun TV,kalau acara ini gagal,kita bisa di tuntut ganti rugi dan itu akan berimbas kepada Brandon dan om juga,"kak Dimas mencoba membujuk papa dengan sedikit ancaman.
            "Saya tidak peduli,saya tidak pernah mengijinkan anak saya untuk mengikuti acara seperti ini,"papa tetap bersikeras.
            "Tapi buktinya ada om,om telah menanda tangani surat ijin orang tua.Kami bisa menuntut om,"ucapan kak Sam membuat papa kembali menatap tajam ke arahku.Aku menunduk tak berani menatapnya.
            "Brandon.. !! Kamu.. ?? Arrghh.. bagaimana bisa.. ?? Ayo kita pulang Brandon !!"papa memegang pergelangan tanganku lalu menyeretku menuju ke parkiran.
            "Pa.. lepasin Brandon pa.. Brandon harus ikut nge-dance... Lepasin tangan Brandon pa.."aku mencoba melepaskan pegangan papa yang begitu kuat sampai membuat tanganku terasa sakit.
            "Pa.. lepasin pa.. demi teman Brandon pa.. dia butuh uang untuk operasi matanya... !! Pa... !!"aku terus berontak membuat papa sedikit kesulitan untuk menyeretku.
            "Brandon !! Papa nggak peduli.Kenapa kamu jadi anak pembangkang seperti ini heh.. ??"papa terus menarikku.Aku memukul-mukul lengan papa yang mencengkeram sebelah pergelangan tanganku.
            "Lepasin tangan Brandon pa.. Brandon harus nge-dance.. Brandon pengen nge-dance.. !!"aku terus meronta dan tidak berhenti memukul-mukul tangannya dan itu ternyata membuat papa semakin kesal.
            "Brandonn !! PLAKK !!"sebuah tamparan papa membuatku terhuyung dan  tersungkur di lantai.Aku menangis memegangi pipiku.Rupanya papa sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.Aku lihat tangan papa bergetar setelah menamparku.Aku menangis dan tak mampu bangun dari lantai.Papa.. kenapa pa?Seumur hidup Brandon,papa nggak pernah kasar sama Brandon,papa nggak pernah mukul Brandon,nampar Brandon.Tapi sekarang?Papa sudah berani nampar Brandon,papa sudah nggak sayang lagi sama Brandon.
            Semua orang yang ada di sekelilingku menatapku iba,namun tidak ada seorangpun yang berani mendekat.
            "Pa.. hiks.. hiks.. hiks.. sekali ini saja pa,biarin Brandon nge-dance.. Brandon janji pa.. hiks.. hiks.. hiks.. Brandon janji setelah ini Brandon nggak bakal nge-dance lagi.. hiks.. hiks.. hiks.."aku memohon sama papa.
            "Sudah berapa kali kamu berjanji heh?Papa sudah tidak percaya lagi sama kamu !! Papa sudah cape dibohongin terus sama kamu.Kamu memang nggak pernah kapok,membangkang terus.Harus bagaimana lagi papa mendidikmu?"kata-kata papa membuat aku tak bisa berkata-kata lagi.Aku hanya bisa menangis,berharap air mataku mampu meluluhkan hati papa.
            "Sekarang kita pulang !! Kamu jangan membantah papa lagi,"papa membangunkanku dan kembali menyeretku yang kali ini tak lagi memberikan perlawanan apapun sama papa.
            Kak Dimas,kak Sam dan kak Doni mengikuti kami.Mereka terus berusaha membujuk papa.Tapi papa tidak menghiraukan kata-kata mereka.Papa terus membawaku menuju area di mana mobil papa terparkir.
            "Pa.. tolongin Brandon pa.. sekali ini saja pa.. Brandon janji pa.. Brandon nggak bakalan bohong lagi sama papa...!!"aku mulai berani berbicara kembali saat aku dipaksa masuk ke dalam mobil papa.Aku duduk di depan,di samping papa yang sudah siap mengemudikan mobilnya.Papa tak peduli dengan kak Dimas,kak Sam dan kak Doni yang menggedor-gedor kaca jendela mobilnya.
            "Brandon!!Sudah berapa kali papa memberikan kesempatan sama kamu?Sudah berapa kali juga kamu merusak kepercayaan papa?Papa kecewa sama kamu.Jangan harap kamu bisa nge-dance lagi.Papa akan memasukan kamu ke asrama,"kata papa sambil menjalankan mobilnya,meninggalkan kak Sam,kak Dimas dan kak Doni yang sudah menyerah untuk membujuk papa.
            "Pa,papa nggak pernah ngertiin Brandon.. !!Papa jahat.. hiks.. hiks.. hiks.. Papa udah nggak sayang sama Brandon !! Brandon benci papa.. Brandon nggak mau tinggal sama papa... Hiks.. hiks.. hiks.. "aku berteriak-teriak tak karuan.
            "Kamu mau tinggal sama siapa kalau tidak sama papa heh?Berani sekali kamu bicara seperti itu sama papa.Kamu benar-benar sudah tidak terkontrol !! Papa nggak pernah ngajarin kamu jadi pembangkang,pembohong.. kamu ini..."papa kembali fokus ke kemudinya.Aku mulai kesal sama papa.
            "Brandon nggak peduli.. !! Papa nggak bisa larang Brandon.. Sampai kapanpun Brandon akan nge-dance.. !!"aku terus meracau dan kali ini aku berulah dengan melampiaskan kekesalanku pada semua benda yang ada di depanku.DVD papa aku pukul-pukul,cassette koleksinya aku buat menjadi berantakan.Tissue yang ada di situ aku acak-acak membuat bagian depan mobil papa seperti kapal pecah.Aku benar-benar tidak bisa lagi menahan kekesalanku sama papa.
            Papa mencoba menghentikan aksiku dengan tangan kirinya.Sementara tangan kanannya terus mengemudikan mobil.Ulahku tidak bisa dihentikan.Sambil menangis,aku semakin liar menjalankan aksiku.
            "Brandon !! Hentikan Brandon !!"bentaknya.Aku tidak peduli dengan bentakannya.Aku terus menendang-nendang semua yang ada di depanku.Konsentrasi papa terpecah antara mengemudi dan menghentikan aksiku.
            "Papa.... !!"teriakanku membuat papa menatap ke depan.Sebuah truk yang menyalip kendaraan di depannya dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan,kini hanya beberapa meter di depan mobil papa.Papa berusaha menghindari tabrakan dengan membanting setir ke arah kiri,lalu dia melepaskan kemudinya.Papa merangkulku,memelukku yang tak berani membuka mata.Aku menunduk di balik tubuh papa yang melindungiku.Guncangan yang begitu keras aku rasakan berkali-kali.Mobil papa naik ke trotoar dan berhenti setelah menabrak tembok ruko yang ada di pinggir jalan raya.
            Perlahan-lahan aku membuka mata,keringat dingin keluar dari tubuhku yang masih ada di pelukan papa.Sesuatu yang dingin juga kurasakan ada di kepalaku.Seperti ada air yang menetes dari sana.Ku usap rambutku dan tanganku bergetar setelah melihat benda cair berwarna merah kini ada di telapak tanganku.Aku beranikan diri untuk menengadah ke atas,menatap wajah papaku.
            "PAPA... !!"teriakku syok melihat darah yang mengalir dari kepala papa dan kini menetes mengenai wajahku.Aku panik,tidak tahu harus berbuat apa.Aku berteriak-teriak meminta pertolongan.Ku sandarkan tubuh papa di jok mobil.Sambil menangis dan tak berhenti berteriak,aku membuka bajuku sendiri dan membalutkannya di kepala papa untuk menghentikan aliran darah yang tidak mau berhenti mengalir dari bagian kepalanya.
            "Pa.. bangun pa.. jangan tinggalin  Brandon pa... hiks.. hiks.. hiks... "aku mengguncang-guncang tubuh papa,tapi papa tetap tak bergerak dan hanya terkulai lemah tak berdaya.
            Orang-orang mulai berdatangan menolongku dan papa.Nafasku tidak teratur,tubuhku bergetar hebat karena tidak mampu menenangkan hatiku.Keringat dingin terus membanjiri tubuhku yang bercampur dengan darah papa.Dengan sebuah mobil pribadi entah milik siapa,aku dan papa langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
*B*
            Aku duduk di depan ruang UGD menunggu papa yang masih belum sadarkan diri.Sebelumnya aku telah diperiksa juga dan tidak ada luka sedikitpun di tubuhku.Aku menangis ditemani seorang suster yang dari tadi mencoba menenangkanku.Aku masih syok,tubuhku masih berguncang karena isakan tangisku.
            “Papa,seharusnya Brandon yang ada di dalam sana.Ini semua gara-gara Brandon.Kenapa Brandon begitu egois?Kenapa Brandon berani melawan papa?Kenapa Brandon hanya memikirkan keinginan Brandon?Papa,maafin Brandon pa,Brandon sudah membuat keadaan papa menjadi sakit seperti sekarang ini.Aku benci diriku sendiri,aku benci nge-dance.Aku nggak bakal nge-dance lagi.Arrgghh... hiks.. hiks.. hiks..”.
            “De,ade mandi dulu ya,ganti baju dulu.Lihat tuh,badan ade kotor sekali,”suster membujukku.Aku melihat badanku sendiri yang masih dilumuri darah papa.Kaos dalamku yang berwarna putih telah berubah warna menjadi bercak-bercak merah.
            Aku dituntun suster itu ke kamar mandi dan aku tetap tidak bisa berhenti untuk menangis.
            “Ade mandi dulu ya,suster ambil handuk sekalian baju buat kamu,”katanya setelah kami sampai di depan pintu kamar mandi.Ketika dia hendak berlalu meninggalkanku,aku menahannya.Aku teringat dengan tas ranselku yang tadi sempat aku bawa.
            “Suster,aku pakai baju yang ada di tasku.Tas yang ada di kursi tunggu tadi.Aku nggak mau pakai baju pasien rumah sakit,”sahutku mulai bisa tenang.Suster itu tersenyum dan mengangguk ke arahku.Dia berjalan meninggalkan aku sendirian.Segera saja aku masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku.
            “Papa,maafin Brandon pa,Brandon nggak tahu kenapa Brandon jadi kayak gini.Brandon benci diri Brandon sendiri.Brandon benci sama Brandon yang sekarang.Berani membantah papa,membohongi papa,bahkan sudah membuat papa celaka.Maafin Brandon pa.. kenapa nggak Brandon saja yang ada di ruang UGD.Kenapa harus papa?Brandon nggak bisa ngebayangin kalau sampai terjadi hal yang paling buruk menimpa papa.Papaa... hiks.. hiks.. hiks..”
            “De,ini handuk sama pakaiannya.Buka pintunya ya!”suster di luar mengetuk pintu kamar mandi.Aku terdiam sejenak,menghapus air mata yang tak bisa berhenti keluar dari kedua mataku.Aku belum lelah,aku belum bisa berhenti untuk menangis.
            “De,kenapa?Malu ya?Ya sudah,buka sedikit pintunya,nanti suster kasih handuk sama bajunya,”suster itu kembali mengetuk pintu kamar mandi.
            Ku buka kuncinya dan pintu itu sedikit terbuka.Tampak tangan suster mengulurkan handuk dan pakaian yang aku minta.Setelah menerima handuk dan pakaian darinya,aku kembali menutup pintu kamar mandi.
            Baju ini,seharusnya aku pakai buat grandfinal nanti.Kenapa aku jadi benci melihatnya?Kenapa aku jadi nggak mau memakainya?Aku benci dance.Ya,gara-gara dance,papaku jadi seperti sekarang,membuat papa koma.Berjuang melawan maut,berada di antara hidup dan mati.
“Papaa.. jangan tinggalin Brandon pa..“pikiranku menjalar ke hal-hal yang buruk tentang papa.
*B*
            Aku duduk kembali di kursi tunggu.Belum ada kabar dari dokter tentang keadaan papa.Mereka belum keluar dari ruang UGD.Aku tetap menangis sendirian sambil mengingat-ingat kenangan indahku bersama papa.Candanya,tawanya,saat dia menggendongku,main piano sama-sama,mengusap air mataku ketika aku menangis,mencium keningku sebelum aku terlelap.Papaa...
            Ku lampiaskan sedihku dengan bernyanyi lirih,Vierra (Takut) dengan lirik yang sedikit aku rubah :

#Ku tahu papa sedih,ku tahu papa kesal
Ku tahu papa,marah padaku.
Ini semua salahku,ini semua sebabku
Ku tahu papa,tak tahan lagi
            (Jangan sedih,jangan sedih,
            Papa kan slalu ada..)
Brandon takut,papa pergi
Papa hilang,papa sakit
Brandon ingin,kau di sini,
Di sampingku,selamanya
            (jangan takut,jangan sedih,
            Papa kan slalu sayang..)
Brandon takut,papa pergi
Papa hilang,papa sakit
Brandon ingin kau di sini
Di sampingku,selamanya
            Brandon takut (jangan takut)
            Papa pergi (tak kan pergi)
            Papa hilang,papa sakit
Brandon ingin (papa juga)
Kau di sini (bersamamu)
Di sampingku (di sampingmu)
Selamanya..... #

            “Hiks.. hiks.. hiks.. papaaa....”
            “Brandon !!”seseorang memanggilku.Aku menoleh ke arah suara itu.Ternyata om Jun dan tante Diant,tetapi tidak ada Baim di antara mereka.Ada tante Adel dan om Andre juga di sana.Kak Fay dan kak JP berdiri sambil menatapku sedih.Aku menghambur ke arah om Jun dan memeluknya.
            “Om... papa om... papaa.. hiks.. hiks.. hiks.. ini gara-gara Brandon om.. Brandon yang salah... hiks.. hiks.. hiks..”tangisku kembali pecah di pelukan om Jun,adik kandung papa ini.Om Jun mengusap rambutku.
            “Sudah sudah... ini bukan salah kamu Ndon,ini cobaan buat kita semua.Kamu harus kuat ya.Papa kamu bakalan sedih kalau melihat Brandon kayak gini.Lebih baik kita berdo’a supaya papa kamu cepat sembuh,”om Jun mencoba menenangkanku.Hatiku sedikit lega dan mulai tenang.Aku pun kembali duduk di kursi tunggu,tidak sabar menerima kabar dari dokter tentang keadaan papa.
            “Ndon,kak Fay ingin bicara sebentar sama kamu,”kak Fay menghampiriku.
            “Kenapa kak?”tanyaku tanpa menatapnya.
            “Nggak di sini,kita keluar sebentar yuk!!”ajaknya.Aku terdiam sejenak,menatap om Jun dan dia mengangguk ke arahku.Aku beranjak dari kursiku mengikuti kak Fay dan kak JP serta om Andre yang turut ikut bersama kami.Setelah kami sampai di taman rumah sakit,aku duduk di kursi yang ada di taman itu.
            “Mau ngomong apa kak?”tanyaku langsung sama kak Fay yang masih berdiri di dekatku.Di tempat agak jauh,kak JP dan om Andre berdiri memperhatikan kami.
            "Ndon,kita harus balik ke tempat lomba.Kita harus nyelesain lomba ini,"kata kak Fay membuat aku menatap tajam ke arahnya.
            "Dengan ninggalin papa dalam keadaan kayak gini?Nggak kak,Brandon nggak mau,"tolakku.
            "Ndon,kak Fay mohon.. kita harus ikut lomba itu Ndon,kamu harus ingat perjuangan kita sampai kita bisa mencapai final ini.Ingat kak Nayla juga Ndon,"bujuk kak Fay lagi.
            "Aku nggak perduli kak,aku benci nge-dance.Gara-gara semua ini papaku jadi kayak gini.Seharusnya dari awal aku nggak ikut lomba ini,"bentakku kesal.
            "Oh.. jadi kamu nyalahin kakak?Oke,ini semua salah kak Fay.Seharusnya dulu kakak nggak maksa kamu buat nolongin kak Fay.Seharusnya kak Fay nggak ngelibatin kamu ke dalam masalah kakak sama kak Nayla.Kakak tahu,kamu pasti kesal sama kak Fay,iya kan?Jawab Ndon !!"kak Fay mengguncang-guncang pundakku membuat aku berdiri dari kursiku.
            "Iya kak,aku kesal sama kak Fay,aku juga kesal sama diriku sendiri.Aku menyesal ikut lomba ini.Aku benci dance dan jangan harap aku bisa balik lagi buat ikut lomba itu,"bentakku.Aku hendak berlalu dari sana tetapi kak Fay menahanku,menghalangi jalanku.
            "Ndon,kak Fay mohon sama kamu,sekali lagi saja Ndon.Kak Fay mohon.. maafin kak Fay sudah bikin papa kamu kayak gini.Setelah semua ini selesai,itu terserah kamu Ndon.Kamu mau benci sama kak Fay,nggak mau temenan lagi sama kak fay,ngejauhin kak Fay,kakak bakalan terima Ndon,asalkan kamu mau kembali ke tempat lomba sekarang,"mata kak Fay mulai berkaca-kaca.
            "Itu semua nggak bisa ngerubah keadaan kak.Sudahlah kak... aku harus nungguin papa,papaku butuh aku kak.Tolong kak Fay ngertiin aku,aku cape kak.Hiks.. hiks.. hiks.."aku mulai lelah untuk membentak.
            "Ndon,kakak mohon sama kamu Ndon,bantuin kakak sekali lagi,"kak Fay berlutut di hadapanku,kembali memohon padaku.
            "Kak sudah kak,jangan kayak gini.Aku nggak bisa kak.. kakak tolong ngertiin Brandon kak,"aku berusaha membuatnya berdiri tapi dia tidak mau bergeming sambil terus terisak.Baru kali ini aku melihat kak Fay menangis seperti itu.Kak Fay yang selalu tegar,kak Fay yang aku tahu hanya menangis sekedarnya kini telah berubah.Tangisnya pecah,isaknya terdengar begitu jelas membuat aku kembali bimbang.
            "Ndon,kamu harus ingat bagaimana perjuangan kamu untuk sampai di sini,"kak JP sudah berada di sampingku.Dia pun melanjutkan kata-katanya.
            "Kamu harus tahu,kita punya kewajiban untuk menyelesaikan lomba ini.Kamu dan Fay sudah terikat kontrak untuk melakukan semuanya.Mereka bisa menuntut kamu dan Fay kalau sampai ngundurin diri.Okelah,kamu bisa membayar berapapun yang mereka minta.Papa kamu bisa membayarnya.Tapi kamu juga harus ingat Fay.Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?Tapi sekarang yang terpenting bukan masalah itu saja.Kamu harus belajar bertanggung jawab Ndon.Semua ini sudah terjadi,kamu harus maju dan tidak bisa kembali ke masa lalu.Papa kamu,walaupun dia benci kamu nge-dance,tapi dia akan lebih benci kalau anaknya itu menjadi seorang yang tidak bertanggung jawab,"kata-kata kak JP membuat aku terdiam.Aku jadi teringat perkataanku sama dia waktu di kantor polisi dulu.Ya,aku tahu,aku harus menghadapi semua ini.Aku tidak bisa lagi kembali ke masa lalu,membatalkan semua yang sudah terjadi kepadaku.
            Mendengar tangisan kak Fay dan kata-kata kak JP,ternyata mampu meluluhkan hatiku.
            "Baiklah kak,tapi setelah tampil aku langsung ke sini lagi.Aku nggak mau lama-lama di sana.Aku nggak bisa ninggalin papa kayak gini,"jawabku akhirnya.Kak Fay bangkit dan memelukku erat tanpa berhenti terisak.Kak JP ikut memelukku.Kami bertiga berpelukan.Hatiku terasa kosong,tidak tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini.
            Dengan diantar om Andre,kami telah tiba di tempat acara.Seluruh panitia menyambut kami dengan perasaan lega.
            "Syukurlah,akhirnya kalian datang juga.Sebaiknya kalian cepat siap-siap,sebentar lagi acara inti akan segera dimulai,"kak Dimas menyuruh kami untuk segera bergegas.Aku dan kak Fay dituntun ke belakang stage untuk bersiap-siap.Tidak sampai lima belas menit,kami berdua telah siap tampil di grandfinal ini.
            Kami berdua mendapat giliran pertama untuk tampil.Penonton berteriak-teriak histeris saat kami naik ke atas panggung.Mereka mengeluk-elukan namaku dan kak Fay serta NaticNizer.Hatiku merasa bangga,hentakan musik hip-hop yang menggelegar sejenak bisa membuat aku melupakan masalah yang sedang menimpaku.
            Aku dan kak Fay mulai menari sesuai dengan irama lagu yang menggema ke seluruh penjuru tempat lomba.Gerakan kami begitu kompak karena aku dan kak Fay sudah mempersiapkan perform ini dengan sangat matang.Namun di tengah-tengah penampilan kami,saat mulai pergantian lagu,aku kembali teringat papa dan itu membuat konsentrasiku buyar seketika.Aku tidak ingat lagi gerakan dance yang sudah aku hafal.Aku tak bisa lagi menggerakan tubuhku,badanku terasa kaku.Akupun roboh di atas panggung dan menangis sambil berlutut.
            "Ndon,kenapa?Ayo Ndon,tinggal sebentar lagi,"kak Fay mencoba menyemangatiku.Aku menggeleng lemah sambil mengusap air mata dengan punggung lenganku.
            "Maaf kak,Brandon nggak bisa.Brandon pengen ketemu papa,Brandon nggak bisa ngelanjutin semua ini kak.. hiks.. hiks.. hiks..."
            "Tapi Ndon.."aku tidak peduli dengan kata-kata kak Fay dan berlari meninggalkan panggung.Aku menyeruak di antara penonton yang menatapku heran.Teriakan "Huu.." tidak aku hiraukan,yang ada di pikiranku sekarang hanya papa,papa dan papa.
            "Kenapa Ndon?"kak JP dan om Andre menyongsongku.
            "Kak,kita harus kembali ke rumah sakit kak.Aku nggak bisa ninggalin papa,"
            "Ok.. oke Ndon,tapi bagaimana dengan lomba ini?"tanya kak JP bingung.
            "Sudah kak,Brandon nggak mau tahu,pokoknya Brandon pengen ke rumah sakit sekarang juga.. hiks.. hiks.. hiks.. Brandon mohon kak.. "
            "Iy.. iya sudah,"kak JP mengalah.Kamipun pergi dari tempat lomba diiringi dengan tatapan tak mengerti dari semua yang hadir di sana.Kak Fay mengikuti di belakang dan kami semua berjalan menuju mobil om Andre.
            Di perjalanan menuju rumah sakit,kami tak banyak bicara.Semua larut dalam pikiran masing-masing.Kak Fay terisak di sampingku.Tubuhnya rebah di pelukan kak JP yang terus menerus mengusap rambutnya lembut.Aku memandang keluar jendela mobil untuk menyembunyikan tangisku,sesekali menyuruh om Andre untuk mempercepat laju mobilnya karena aku merasa mobil om Andre begitu lambat.Padahal aku tahu,om Andre sudah berusaha mengemudikan mobilnya secepat mungkin.
            Begitu tiba di halaman rumah sakit,aku langsung berlari menuju ruang UGD.Tapi di sana tidak ada siapa-siapa.Om Jun dan yang lainnya tidak tampak menunggui papa.
            "Papa..."bathinku berbisik.Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru rumah sakit.Di salah satu koridor,aku lihat om Jun keluar dari sebuah ruang perawatan.Hatiku sedikit lega.
            "Syukurlah,papa sudah keluar dari ruang ICU,berarti masa-masa kritis papa telah lewat,"bathinku terasa lapang.
            Aku menghambur ke arah om Jun yang mematung sambil menatapku dengan tatapan sayu.
            "Gimana keadaan papa om?"tanyaku saat aku telah tiba di hadapannya.Om Jun tidak menjawab pertanyaanku,dia malah berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badanku.Tiba-tiba dia memelukku erat,eraatt sekali.Ku rasakan ada tetesan air di pundakku.
            "Pap.. papa kamu Ndon.."lirihnya di telingaku.
            "Papa kenapa om?Papa sudah baikan kan?"tanyaku penuh harap.
            "Papa kamu.. sud.. sudah nggak ada Ndonn.."tangis om Jun pecah di pelukanku membuat aku seperti di hantam benda keras.Kepalaku mulai limbung dan seperti berputar seakan tak percaya dengan perkataan om Jun barusan.
            "Nggak,nggak mungkin papa ninggalin aku,papa sayang sama aku.Ya,pasti aku salah dengar,ini pasti cuma mimpi,"hatiku mencoba untuk menyangkalnya.
            "Nggak mungkin om.. papa nggak boleh pergi om.. om Jun bohong... om Jun jangan bikin Brandon sedih.. hiks.. hiks.. hiks.. "
            "Maafin om Ndon..."
            "NGGAAKK.. om Jun bohong.. papa nggak mungkin pergi ninggalin Brandon.. dia sayang sama Brandon om... "teriakku membuat om Jun semakin erat memelukku.
            "Om Jun BOHOONGG.. om Jun JAHAATT.. huhuhu.. "raungku sambil memukul-mukul pundaknya.Aku tidak tahu harus berbuat apa,perasaanku hancur mendengar berita dari om Jun.
            Ku lepaskan pelukan om Jun dan berlari sambil menangis menuju ruang dimana om Jun tadi keluar.Kubuka pintunya dan aku seakan tak percaya dengan apa yang sedang aku lihat di hadapanku.Papaku terbaring kaku tak berdaya walaupun bibirnya masih memperlihatkan sesungging senyum.Di samping papa,ada tante Diant dan tante Adel sedang menangis terisak.
            "PAPAA..."teriakku menghambur ke arah papa.Kupeluk tubuhnya yang telah kaku dengan erat.Aku mengguncang-guncang tubuhnya,berharap papa membuka matanya.Tetapi semua yang aku lakukan itu sia-sia,papa tetap terpejam dan tak bergeming sedikitpun.
            "Pa bangun pa.. jangan tinggalin Brandon pa.. Maafin Brandon.. hiks.. hiks.. hiks.. Brandon janji sama papa.. Brandon nggak bakalan bohong lagi pa.. hiks.. hiks.. hiks.. Brandon.. hiks.. hiks.. Brandon nggak bakalan bikin papa kesal lagi.. Papa bangun pa.. hiks.. hiks.. hiks.. kalau papa pergi,Brandon sama siapa pa..? Brandon mau ikut papa.. huhuhu.. kita sama-sama ketemu mama.. Papa bangun pa... "aku terus meracau menangisi keadaan papa.Teriakanku ternyata membuat orang-orang yang ada di rumah sakit melongok ke ruangan tempat aku dan papa berada.Mereka seperti ingin tahu kenapa aku berteriak-teriak,mungkin juga keluarganya yang sedang sakit merasa terganggu dengan teriakanku.Tapi aku tidak peduli,aku tetap berteriak memanggil papaku.
            Aku lihat om Jun sedamg berbicara dengan salah seorang dokter,dan tidak lama kemudian,beberapa suster dan perawat laki-laki mendekati aku dan papaku.Rupanya mereka hendak membawa papaku untuk segera mereka urus jenazahnya.
            "Jangan bawa papaku.. jangan suster.. om Jun.. tolongin Brandon om.. tolong jangan biarin mereka membawa papa om.. om Juunn.. om.. tolongin Brandon om.. hiks... hiks.. hiks.."aku terus mencoba menepis tangan-tangan suster yang akan membawa papaku.Bukannya membantuku,om Jun malah mengangkat tubuhku dan menjauhkannya dari papa.
            "Om.. lepasin om.. om Jun.. lepasin Brandon.. Brandon mohon om... lepasin tubuh Brandon.. hiks.. hiks.. hiks.. om Jun jahaatt.. lepasin om.. Brandon mohoonn... Susterr.. jangan bawa papakuu.. tante... tolong jangan biarin mereka membawa papa... hiks.. hiks.. hiks.."aku terus meronta-ronta di pelukan om Jun yang mendekapku dari belakang dengan erat.Tante Adel dan tante Diant hanya melihat ke arahku dengan tatapan sedih tanpa berbuat apa-apa membuat aku benci sama semua orang yang ada di ruangan ini.Kenapa tidak ada satupun yang menolongku mencegah suster dan perawat itu membawa papa.Kenapa?Kenapa semua orang berubah menjadi jahat sama aku?
            Aku terus berusaha melepaskan tubuhku dari dekapan om Jun dan semakin liar saat melihat papa telah dibawa keluar pintu ruangan.Akupun menjerit-jerit histeris,kembali berteriak-teriak memanggil papa.Nggak,mereka nggak boleh membawa papaku,aku harus terus sama papa,aku sayang sama papa.
            "Papaa.. !! Papa jangan tinggalin Brandon pa.. Papa... !! Om Jun lepasin Brandon om.. hiks.. hiks.. hiks.. Papaaa... om Jun jahat pa.. PAPAA.. !!"aku tidak mau berhenti berteriak dan meronta,tak peduli dengan orang-orang yang semakin ramai menontonku.Akhirnya seorang dokterpun turun tangan.Dia mendekatiku dan sebuah jarum suntik terasa menusuk di lenganku.Beberapa saat aku merasa tubuhku lemas tak bertenaga.Dengan sisa-sisa tenagaku,aku terus mencoba berteriak memanggil papaku.Tapi semuanya sia-sia,bahkan semakin aku ingin berteriak dan meronta,aku semakin lemas lalu ambruk di pelukan om Jun.Aku merasa lelah dan tak ingat apa-apa lagi.
*B*

#Semua yang tlah terjadi,
Terasa seperti mimpi,
Kau yang sangat kusayangi,pergii..
            Cinta yang kau berikan,
            Kasih yang kau semaikan,
            Berjuta do’a kupanjatkan
            Hanya untuk engkau
Reff:
            Oh Tuhan terimalah,dirinya di sisi-Mu,
            Bahagiakanlah dia,tempatkan di surga-Mu..
            Hadirkanlah dirinya,di setiap mimpiku,
            Abadikan cintanya,di setiap langkahku.
Menetes air mataku,
Menusuk ke dalam kalbu,
Saat kucoba menahan,rinduu..
            Kenangan bersamamu,
            Akan ku ingat slalu,
            Apakah diriku sanggup hidup,tanpa engkau…#

(back to Reff)

            Original Soundtrack Novel Brandon (Mencoba Meraih Impian)
            Judul : Belum Dikasih Judul,hehehe…
By.Chu-x :D

BRANDON MAU PUNYA MAMA *part.21*


"PRANGG !!"
Aku dikejutkan dengan suara piring pecah dari arah dapur.Aku yang sedang tertidur langsung terlonjak kaget dan duduk di atas kasur.Kutatap sekeliling kamar,sebuah jam dinding memberitahuku kalau waktu sudah beranjak siang.Pukul sepuluh pagi.Di meja samping tempat tidurku tergeletak secarik kertas dan segelas susu yang sudah dingin.Aku langsung menyambar kertas itu dan membacanya,ternyata tulisan kak Fay.
"Ndon,kak Fay,kak JP sama tante Adel pergi belanja dulu ke supermarket.Tadi kakak bangunin kamu, eh kamunya nggak bangun-bangun,hehehe.."
"Huuhh.. tega banget sih ninggalin aku sendirian,"gerutuku kesal.
"Eh,kalau mereka semua pergi,terus yang mecahin piring di dapur siapa dong?"aku beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju dapur.
"Oma.. !!"aku terkejut melihat oma sedang memegangi tangannya yang berdarah.Mungkin sewaktu membereskan pecahan beling,beliau tergores pecahannya yang tajam.Aku kembali ke ruang tengah dan mencari-cari kotak P3K di laci.Ku ambil perban dan obat merah dari sana kemudian kembali ke dapur menemui oma.Aku membantu oma untuk duduk di kursi makan.Setelah itu ku ambil air dari keran tempat cuci piring dengan mangkok plastik.Ku bersihkan luka oma yang cukup lebar di ibu jari tangannya itu dengan hati-hati.Beberapa kali oma meringis menahan perih saat aku sedang mengobatinya.
"Sudah selesai oma,"sahutku setelah selesai mengobati luka oma.Aku membereskan pecahan beling dan nasi serta lauknya yang berantakan di atas lantai.Ku buang di tempat sampah,mengembalikan obat merah dan perban ke kotak P3K,setelah itu kembali ke dapur untuk menemui oma.
Sebenarnya aku sedikit canggung sama oma,soalnya aku suka dipelototin terus sama dia.Aku jadi takut.Memang sih dia tidak pernah memarah-marahi ataupun membentak-bentak aku.Dia hanya menatapku dengan tatapannya yang tajam.Seperti malam kemarin,ketika aku baru keluar dari toilet karena kebelet pipis,oma sudah ada di depan pintu toilet dengan matanya yang melotot ke arahku.Aku mencoba mengajaknya tersenyum,tapi oma malah diam saja dan langsung masuk ke dalam toilet.Apa oma marah karena menunggu aku yang kelamaan di toilet?Apa dia sedang menahan pipis?Entahlah.. waktu itu aku langsung ngibrit ke kamar karena ketakutan.
Itulah oma,usianya sudah menginjak angka 55 tahun.Tubuhnya masih terlihat kuat dan sehat.Tapi sekarang oma jadi pendiam dan jarang sekali bicara.Kata tante Adel,oma menjadi seperti itu sejak opa meninggal sebulan yang lalu.Mungkin dia masih sedih karena ditinggal opa.Ditambah lagi masalah tante Adel yang batal menikah dengan om Andre,papanya JP,membuat oma bertambah sedih.
"Oma mau sarapan?"tanyaku.Oma hanya mengangguk menjawab pertanyaanku.Aku bergegas membuka tudung saji,ternyata cuma ada piring kosong.Nggak ada lauk di sana.
"Aku masakin nasi goreng ya?Oma mau nggak?"tanyaku lagi.Oma mengerutkan keningnya,wajahnya tampak memperlihatkan keragu-raguan kalau aku bisa masak nasi goreng.
"Memangnya kamu bisa masak?"suara pertama yang ku dengar dari mulut oma terlontar darinya.
"Iya oma,Brandon cuma bisa masak nasi goreng doang,nggak bisa yang lain,hehehe.. tapi oma bantuin juga ya.Soalnya Brandon nggak tahu tempat menyimpan bumbu-bumbunya,"sahutku sambil menyeret kursi makan yang akan aku gunakan untuk memasak nanti.Aku harus naik ke atas kursi karena letak kompornya yang lumayan tinggi.
Kami berdua langsung sibuk memasak nasi goreng.Oma tertawa-tawa saat aku sedang mengiris bawang merah sambil menangis.Oma tidak bisa membantuku mengulek bumbunya karena tangan oma sedang sakit.Dia membantuku menggoreng nasi di wajan sedangkan aku hanya mengurusi bumbu-bumbunya.
Dua puluh menit berlalu,sepiring nasi goreng yang masih panas sudah terhidang di meja makan.
"Oma,kok cuma dilihatin doang sih nasi gorengnya?"kataku saat melihat oma hanya diam di kursinya.Ku amati oma dan akhirnya mataku tertuju pada jempol tangan kanannya yang terluka.
"Hehehe.. maaf oma,Brandon lupa kalau tangan oma lagi sakit.Ya sudah,Brandon suapin ya?"aku mengambil sendok yang ada di hadapan oma.
"Ini oma,"oma melahap nasi goreng yang aku suapkan.
"Bagaimana?Enak nggak?"tanyaku.Oma terdiam dan hanya menatapku lekat-lekat.
"Aduh.. jangan-jangan nasi gorengya.."aku langsung mengambil segelas air minum dan segera memberikannya sama oma.
"Minum dulu oma,nasi gorengnya nggak enak ya?"oma menggeleng dan menolak air minum yang aku sodorkan.Pandangannya tetap terarah ke mataku membuat aku merasa risih dan ingin pergi dari hadapannya.
"Mmh.. mau lagi?"tanyaku memecah kebisuan.Oma mengangguk dan aku kembali menyuapinya.Tapi tiba-tiba oma menangis dan itu membuat aku terkejut.
"Oma kenapa?Kalau nasi gorengnya nggak enak bilang saja oma,"sahutku membuat tangisan oma tak bisa ditahan.
"Nggak apa-apa kok.Nasi gorengnya enak,enak sekali malah,"oma mengusap air matanya dan berlalu menuju kamar,meninggalkan aku sendirian yang sedang kebingungan di meja makan karena sikap oma barusan.Kucicipi nasi gorengku dan.. hmm.. rasanya enak kok,persis seperti yang sering papa bikinin di rumah.Terus kenapa oma nangis?Aku beranjak menuju kamarku dengan berjuta pertanyaan tentang sikap oma tadi.
*B*
Selama menjelang grandfinal,aku dan kak Fay berlatih habis-habisan.Hahaha.. tante Adel juga mengajari kami tari latin.Aku dan kak Fay tertawa-tawa saat disuruh dansa sama dia.Habisnya badanku kan lebih kecil dari kak Fay,sudah begitu aku dan kak Fay sering menginjak kaki ketika sedang menari salsa membuat kami terpekik dan kemudian langsung tertawa-tawa geli.Tapi lama-lama aku dan kak Fay cukup menguasai juga tarian itu walaupun tidak sehebat tante Adel.
Aku dan kak Fay juga harus bolak-balik ke stasiun TV yang akan menggelar grandfinal itu.Kami diminta syuting untuk mempromosikan acaranya.Pemotretan untuk banner dan spanduk,serta wawancara dengan berbagai media surat kabar.Hasilnya,aku dan kak Fay mendadak menjadi sangat terkenal karena fotoku dan kak Fay terpampang dimana-mana.Apalagi di televisi juga sedang gencar-gencarnya mempromosikan acara itu.
"Hallo Faynatic,Hallo Brandonizer,Hai NaticNizer,dukung Abiel dan Brandon di grandfinal ya.. datang dan saksikan langsung penampilan kami,BielBrand Kids Dancer !! Bla.. bla.. bla.. "itulah sepenggal kata-kata kami ketika sedang mempromosikan BielBrand Kids Dancer di televisi.Hahayy...
Tante Adel selalu setia mendampingi aku dan kak Fay,mengantarkan kami kesana-kemari seperti orang tua kami sendiri.Oma juga sering ikut,setelah kejadian nasi goreng itu oma dan aku menjadi akrab.Dia tidak mau jauh-jauh dari aku dan sekarang oma sudah kembali seperti dulu,bisa tertawa-tawa dan tidak murung lagi.Kadang kalau aku sedang malas makan oma bisa ikut-ikutan nggak makan.Aku juga nggak tahu kenapa oma jadi seperti itu.Kata tante Adel sih mungkin oma pengen banget punya cucu dan aku sudah dianggap sebagai cucunya sendiri.Ketika aku tanya tante Adel,apa tante Adel mau menikah lagi?Dia hanya tertawa-tawa.Huuhh.. padahal aku punya rencana buat ngenalin tante Adel sama papa.Hihihi...
Untuk menyegarkan pikiran,aku,kak Fay,kak JP serta oma di ajak tante Adel pergi ke tempat-tempat wisata di Jakarta.Aku senang sekali karena baru pertama kalinya pergi ke tempat-tempat wisata yang ada di ibukota ini.Dufan,pantai Ancol,Sea World,TMII,Monas,Water Boom.. Wahh.. pokoknya satu persatu kita jelajahi.Tentu saja di setiap tempat itu kami tak lepas dari kejaran para penggemar yang berbondong-bondong minta tanda tangan,foto bareng,atau sekedar salaman dan melihat kami dari dekat.
Hari terakhir latihan,aku dan kak Fay melakukan gladi bersih.Besok pagi-pagi sekali aku harus sudah bangun dan melakukan blocking di panggung yang akan kami gunakan untuk grandfinal nanti.Hatiku rasanya tidak sabar menunggu hari esok.Tapi perasaan bangga yang aku rasakan juga bercampur dengan perasaan sedih karena nanti aku harus meninggalkan tante Adel yang sudah aku anggap seperti mamaku sendiri.Dan tentunya juga oma,pasti dia sedih kalau harus aku tinggalin.
"Eh kak,kalau aku jodohin papa sama tante Adel kira-kira tante Adel mau nggak ya?"tanyaku ketika aku,kak Fay dan kak JP sedang asyik bermain di ruang tengah.Kak JP sekarang memang hampir setiap hari menginap di rumah tante Adel,soalnya di rumahnya sepi banget.Papanya juga jarang di rumah karena sibuk dengan pekerjannya di kantor.
"Hmm.. kamu tanya saja langsung sama tante Adel.Hihihi.."kak JP dan kak Fay terkikik.
"Ah.. tante Adel nggak mau jawab,kemarin-kemarin aku tanya dia cuma tertawa-tawa saja,"sahutku manyun.
"Ya siapa tahu sekarang dijawab,sebentar lagi kan kita sudah nggak di sini lagi.Cepetan gih tanya,mumpung masih di sini.Nanti kamu nyesel lho,"kata kak Fay mendorong pundakku.
"Oke-oke,aku tanya sekarang,"aku beranjak menuju kamar tante Adel.Tetapi sesampainya di depan pintu kamarnya aku menjadi ragu untuk masuk.
"Fiuuhh..."aku menarik nafas sejenak kemudian mengetuk pintu kamarnya tiga kali.
"Siapa?"tanya suara dari dalam.
"Ini Brandon tante,"sahutku.
"Masuk sayang,"tante Adel menyuruhku masuk.Aku membuka pintu kamarnya yang tidak dikunci itu lalu masuk dan mendapati tante Adel sedang duduk di tepi tempat tidur sambil menghapus air matanya dengan tissue.
"Tante kenapa?Kok nangis?"tanyaku seraya menghampiri tante Adel dan duduk di sampingnya.
"Nggak apa-apa Ndon,tante sedih karena sebentar lagi kamu dan Fay bakalan pergi.Rumah ini bakalan sepi lagi deh,"tante Adel tersenyum ke arahku.
"Brandon juga sebenarnya nggak mau pisah sama tante yang sudah Brandon anggap seperti mama Brandon sendiri,"lirihku.Tante Adel memelukku erat.
"Kalian juga sudah tante anggap sebagai anak tante sendiri,"sahut tante Adel sambil melepaskan pelukannya.
"Oh iya,ada apaan Ndon nyariin tante?"tanyanya.Aku terdiam sejenak,bingung harus memulai dari mana.Mataku malah berkeliling melihat kamar tante Adel yang luas.Ada meja rias,lemari pakaian,sepatu,rak buku dan lemari boneka.Aku baru tahu ternyata tante Adel senang mengoleksi boneka juga.Hehehe..
"Itu boneka apaan tante?kok jelek banget?"tanyaku sambil menunjuk sebuah boneka berwarna hitam dengan bibir merahnya yang tebal,tapi matanya yang sipit membuat boneka itu terlihat seperti sedang tersenyum.Tante Adel beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil boneka yang aku maksud dari dalam lemarinya.
"Yang ini?"tante Adel menyodorkan boneka itu kepadaku yang langsung aku ambil dari tangannya.
"Itu namanya boneka Dakocan.Dulu terkenal banget lho.Tante dapat boneka ini langsung pesan dari pabrik boneka karena bonekanya sudah langka dan jarang dijual di toko-toko boneka,"tante Adel kembali duduk di sampingku yang sedang asyik mengamati boneka itu.
"Dakocan?Kayaknya Brandon pernah dengar nama boneka itu,"
"Hmm.. dimana?"tanya tante Adel.
"Papa.. sehari sebelum Brandon berangkat ke sini,papa meledekku dengan ngatain aku mirip boneka Dakocan.Ternyata ini toh?Apanya yang mirip?Kulit hitam,bibir merah tebal,huuhh.. cuma matanya saja yang sama-sama sipit.Dasar papa jelek,"gerutuku membuat tante Adel tertawa.
"Hahaha.. papa kamu lucu ya?Tapi Ndon,boneka ini aslinya itu punya mata yang besar seperti orang sedang melotot.Tante sengaja memesan supaya matanya dibuatkan seperti ini biar nggak kelihatan seram dan tampak lucu,"terangnya.
"Jadi nggak ada mirip-miripnya dong sama Brandon?Hahaha... si papa ada-ada saja nih,"tawaku senang.
"Kamu kangen sama papa kamu?"pertanyaan tante Adel membuat tawaku berhenti.
"Banget tante,kangeeennnn bangett,"aku memeluk boneka Dakocan dengan erat,membayangkan kalau boneka itu adalah papaku.Hahaha...
"Tapi Brandon juga nggak mau jauh-jauh dari tante,"lanjutku.
"Masa sih?Memangnya kenapa sayang?"
"Iya,tante mau nggak menikah lagi sama papa Brandon?Papa orangnya baik kok,tante pasti suka.Yaahh.. walaupun wajah papa masih kalah sama Brandon.Hehehe.. mau nggak?"aku mempromosikan papaku (wkwkwkwk.. Ndon udah kayak sales aja :D)
"Kamu ini,bikin malu tante saja.Hmm.. gimana ya?tante pikir-pikir dulu deh,"
"Brandon mau jawabannya sekarang tante,masa tante nggak sayang sama Brandon?"
"Belum tentu kan papa kamu suka sama tante?"sergahnya.
"Pasti suka,tante kan baik banget,cantik,sayang sama Brandon.Tante tenang saja,nanti Brandon yang bujuk papa,pasti dia mau kalau Brandon yang bujuk"aku terus merayu tante Adel.
"Hahaha.. gimana ya?Iya deh.. tapi kalau tante nggak jadi sama papa kamu,kamu jangan ngambek sama tante,"ujarnya pesimis.
"Pokoknya harus jadi,nanti tante Adel anterin Brandon sama kak Fay pulang ke Surabaya ya,terus aku kenalin deh sama papa,"sahutku.
"Iya sayang,pokoknya terserah kamu,"jawaban tante Adel membuatku terlonjak senang.
"Horeee.. sebentar lagi Brandon punya mama.Hehehe..."
"Hahaha.. Dasarr !! Ya sudah,tidur sana,sudah malam nih.Besok kan kamu harus bangun pagi-pagi,"tante Adel mencium keningku lembut.
"Makasih mama,"aku tersenyum ke arahnya kemudian beranjak dari kamar tante Adel dengan perasaan yang tidak bisa aku lukiskan.
*B*
Sementara Brandon istirahat tidur,kita menuju Bandung.
Seorang ayah terbangun dari tidurnya karena dia telah bermimpi buruk tentang anak semata wayangnya yang sudah sangat dia rindukan itu.Hatinya langsung galau karena sudah hampir dua minggu anak laki-laki satu-satunya itu tidak pernah memberi kabar padanya.Dia menatap jam dinding di kamar hotelnya,jam lima pagi.Dengan perasaan yang tidak karuan dia menyalakan TV kemudian meraih gagang telepon yang ada di meja yang terletak di samping televisi tadi.
"Kali saja Brandon sudah pulang,"lirihnya penuh harap sambil menekan nomor rumahnya yang ada di Surabaya.Nada sambung terdengar tapi tidak ada seorangpun yang mengangkat teleponnya.
"Apa anakku masih tidur?"bathinnya cemas.
"Hallo Faynatic,Hallo Brandonizer,Hai NaticNizer,dukung Abiel dan Brandon di Grandfinal ya.."
"Hallo sayang,kamu sudah pulang?"tanya om Addie ketika mendengar suara anaknya.Tapi itu bukan suara yang berasal dari pesawat telepon,melainkan dari televisi yang ada di sebelahnya.
"B.. B.. Brandon??"om Addie terkejut ketika pandangannya tertuju ke layar televisi.Mukanya langsung merah dan gagang telepon yang dia pegang langsung dijatuhkannya.Dia mengucek-ngucek matanya,masih tidak percaya kalau yang ada di layar TV itu benar-benar Brandon,anaknya.Sekarang dia sedang asyik mempromosikan acara lomba dance yang akan digelar beberapa jam lagi.Setelah yakin itu Brandon,om Addie menuju pintu kamar hotel,maksudnya mau memberitahu adiknya,om Jun yang ada di kamar sebelah.Tapi ternyata om Jun sudah lebih dulu berada di depan kamar hotelnya dengan maksud dan tujuan yang sama.
"Mas.. Brandon,"
"Iya,mas sudah lihat,"potong om Addie.
"Aku akan berangkat ke Jakarta,"lanjutnya.
"Aku ikut Mas,"sahut om Jun.
"Kalian menyusul saja ya,Mas buru-buru,"
"Ya sudah,hati-hati Mas,"kata om Jun.Om Addie mengangguk kemudian bersiap-siap pergi meluncur menuju tempat lomba dance di Jakarta untuk menjemput Brandon,anaknya.
*B*

BIELBRAND KIDS DANCER *part.20*


 "Ohh... rupanya kalian di sini?dari tadi tante nyari-nyari kalian,"tante Adel datang menghampiri kami.
"Tante,tadi kita ketemu panitianya,katanya kita telat daftar ulang dan terancam di diskualifikasi,"terangku.Tante Adel hanya tersenyum mendengar beritaku.Tidak tampak kekhawatiran yang tersirat di wajahnya.
"Sekarang dimana panitianya?"tanyanya.
"Mereka lagi diskusi dulu tante,kami disuruh nunggu disini buat nunggu hasil keputusannya,"kak Fay menjawab pertanyaan tante Adel dengan nada cemas.
"Ayo ikut tante,"ajak tante Adel.
"Tapi tan..."
"Ayo ikut saja,kalian tenang ya,tante akan coba bicarakan ini sama mereka,"potong tante Adel.
Kami melangkah mengikuti tante Adel menuju ke belakang panggung.Di sana ada beberapa tenda yang cukup besar.Di salah satu pintu masuk tenda ada yang bertuliskan "Selain Panitia Dilarang Masuk !!" dan dijaga oleh dua orang security.
"Kalian tunggu di sini ya,"tante Adel masuk ke dalam tenda,meninggalkan kami diluar setelah dia berbicara panjang lebar dengan dua orang security yang menjaganya untuk mendapatkan ijin masuk.
Entah apa yang dibicarakan tante Adel bersama semua crew panitia lomba di tenda.Hampir tiga perempat jam kami menunggu,akhirnya seorang panitia keluar dari tenda dan menghampiri kami bertiga.
"Hey,kenalin,nama kakak Doni (Kang Doni Ali Wardhana BNZ Tasik hehehe.. ),"kami bersalaman dengan kak Doni sambil memperkenalkan diri masing-masing.
"Ayo,kalian semua sudah ditunggu di dalam,"kata kak Doni mengajak kami masuk.Tanpa banyak bertanya lagi,kami mengikuti langkah kak Doni masuk ke dalam tenda.Ternyata di dalam sudah ada banyak sekali panitia dan tampak tante Adel sedang asyik mengobrol dengan mereka.Rupanya tante Adel memang sudah kenal dekat dengan beberapa panitia yang ada di sana.
Aku,kak Fay dan kak JP dipersilahkan duduk di kursi yang telah disediakan oleh kak Doni.Di seberang meja ,kak Sam tampak sedang duduk sambil memegang map biru yang sepertinya sudah tidak asing lagi di mataku.
"Ini form pendaftaran kalian dulu,dan ini surat perjanjian yang harus kalian tanda tangani.Silahkan dibaca dulu,"kak Sam menyerahkan dua lembar kertas kepadaku.Aku dan kak Fay langsung membaca isinya.Karena penasaran,kak JP pun ikut-ikutan membaca kertas itu.
"Bagaimana?"tanya kak Sam setelah kami selesai membacanya.
"Iya kak,kami siap dengan semua perjanjian yang tertera di kertas ini,"sahut kak Fay.
"Oke,tinggal ditanda tangani saja,"kata kak Sam.Dia menyerahkan sebuah pulpen kepadaku.Aku dan kak Fay segera membubuhkan tanda tangan kami bergantian di bagian bawah kertas itu.Untuk tanda tangan orang tua,tante Adel selaku wali kami yang menanda tanganinya.
"Hmm.. semuanya sudah beres kan?Sekarang kalian siap-siap ya!Sebentar lagi acaranya akan segera dimulai.Oh iya,nama group kalian apa?"tanpa kami sadari,kak Dimas sudah berdiri di samping kami.
"Kita belum kasih nama kak,"jawabku bingung.
"Oke nggak apa-apa,nanti kalau sudah kepikiran namanya,kasih tahu kakak ya,"kak Sam beranjak dari kursinya,mengajak kami keluar dari tenda menuju tempat persiapan peserta.Wahh... pesertanya banyak sekali.Bayangin saja,ada sembilan puluh tiga group yang hadir karena tujuh peserta yang lainnya tidak hadir dan telah didiskualifikasi dan yang bakalan dipilih hanya ada dua peserta saja.Wow... hahahaha...
Aku dan kak Fay berbaur dengan yang lainnya,mereka tampak heran dan seperti meremehkan kami.Apa karena aku dan kak Fay peserta paling muda dan paling kecil?Hmm.. perlu diingatkan kembali,peserta di sini bukan hanya dari penari hip-hop saja.Penari tradisional dan penari latin juga ada lho.Entah bagaimana para juri menilainya nanti.Menurut informasi yang aku dengar,ada enam juri yang akan memberikan penilaian yang mana ke enam juri itu keahliannya berbeda-beda.Dua orang juri adalah penari hip-hop profesional,dua orang lagi adalah penari tradisional kebanggan negeri ini dan sisanya,dua orang penari latin yang satu di antaranya sengaja didatangkan dari luar negeri.Waahh.. acaranya benar-benar hebat dan menegangkan.
Karena waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi,perlombaan pun segera dimulai.Perform pertama,semua peserta diminta untuk kembali menampilkan tarian yang kami kirim lewat video untuk diseleksi dulu.Di perform ini,ada sedikit gerakan yang aku dan kak Fay rubah.Kami tampil dengan nomor urut empat puluh sembilan dari sembilan puluh tiga peserta.Pertama kali tampil sedikit gugup karena penontonnya begitu banyak.Mereka langsung mengeluk-elukan namaku dan kak Fay setelah kami selesai tampil.Aku juga senang sekali karena beberapa juri memberikan standing applause buat penampilan aku dan kak Fay.
"Abiel.. Brandon.. kalian hebat,"sambut kak JP ketika kami baru saja turun dari atas panggung.Peserta yang lain pun berebutan untuk memberikan selamat buat aku dan kak Fay.Aku semakin merasa bangga dan lupa akan kekhawatiran yang sempat hadir sebelum perform tadi.
Empat jam telah berlalu,hari sudah mulai sore.Semua juri berembuk untuk menentukan lima belas semifinalis yang akan kembali tampil untuk memperebutkan dua tempat di babak Grandfinal yang akan digelar Sabtu depan.Sudah bisa dipastikan,semua peserta merasa was-was menunggu keputusan juri itu.Ada yang yakin lolos,ada yang pesimis,ada juga yang tenang-tenang saja.Perasaanku sendiri deg-degan tak karuan,sepertinya hati dan pikiranku masih ingin berperang.Di satu sisi aku ingin sekali maju ke babak berikutnya.Dan di sisi lain aku takut ketahuan papa.
"Perhatian semuanya!!Kepada seluruh peserta,untuk mengetahui siapa saja yang lolos ke babak semifinal,silahkan kalian lihat di layar LCD yang ada di belakang panggung,"suara pembawa acara lomba yaitu kak Gery (Kak Gery admin BNZ Bandung :D) memberikan instruksi lewat speakernya berulang-ulang.Aku,kak Fay,kak JP,tante Adel dan peserta yang lainnya bergegas mendekati layar LCD 42 inch yang dipasang di belakang panggung.Aku mulai membaca nama-nama group yang lolos ke babak berikutnya dari mulai daftar paling atas.
1,2,3,4,5,6,7,8 dan nama Abiel Brandon terpampang di angka sembilan.
"Yeahh.. kalian lolos !!"teriak kak JP senang dan langsung memeluk kak Fay.Mereka berdua melompat-lompat kegirangan sedangkan tante Adel langsung memelukku erat.
"Selamat sayang,kamu lolos,tante sangat bangga sama kamu.Terus berjuang sampai final ya,"bisiknya di telingaku.Aku mengangguk dan tersenyum dalam pelukannya.
"Terus do'ain kita ya tante,"
"Pasti sayang,"jawab tante Adel sambil melepaskan pelukannya.
Pukul empat sore acara kembali dilanjutkan.Setiap peserta diminta untuk mengambil nomor urut tampil yang ditulis di kertas yang sudah digulung-gulungkan.Kak Fay yang mengambil kertas itu dan kami kebagian nomor urut delapan.Hmm.. masih ada waktu untuk kembali berlatih sebelum perform nanti.Oh iya,peserta yang lolos ke babak lima belas besar ini di dominasi oleh peserta dari aliran hip-hop dance.Ada enam peserta yang lolos dari penari hip-hop,empat penari tradisional,tiga modern dance dan dua penari latin.
"Biel.. Brand.. gimana?Sudah kepikiran belum nama group buat kalian?"tanya kak Dimas menghampiri kami ketika kami baru saja selesai latihan gladi bersih untuk perform berikutnya.
"Nah.. itu saja kak nama groupnya,"kataku senang.
"Apaan??!!"sahut kak JP,kak Fay serta kak Dimas berbarengan.
"Itu yang tadi kak Dimas sebutin.BielBrand.. Abiel Brandon.. BielBrand Kids Dancer. Hehehe..."
"Wah.. boleh juga tuh Ndon.. hahaha.. pinter kamu,"tante Adel mengusap rambutku.
"Baiklah,sekarang kalian siap-siap lagi ya.sudah sampai di peserta nomor enam tuh,"kak Dimas memperingatkan kami.Aku dan kak Fay kembali bersiap-siap di belakang panggung.Perasaan gugup di hatiku perlahan-lahan terus menghilang karena aku mulai terbiasa dengan suasana seperti ini.Akhirnya tiba juga saatnya bagi kami untuk tampil di babak semifinal ini.Suara kak Gery mulai terdengar dari atas stage dengan suara khas nya seperti sedang mengudara di radio. :D
"Oke peserta berikutnya ini terdiri dari dua anak kecil yang berasal dari kota Surabaya.Langsung saja kita panggil, BielBrand Kids Dancer !!"
Musik hip-hop yang sudah aku dan kak Fay siapkan mulai terdengar.Di awali dengan lagu Madonna feat. Justin Timberlake yang judulnya 4 minutes,aku dan kak Fay naik ke atas panggung.Semua penonton bersorak menyambut penampilan kami.Mereka tak henti-hentinya meneriakkan namaku dan kak Fay serta kata "BielBrand" sepanjang perform kami.Backsong pertama,disambung dengan backsong kedua yaitu lagu Karedok Leunca miliknya Suara Parahyangan.Musik dari daerah Jawa Barat yang telah di edit musiknya ini membuat para juri terkejut (kalian bisa mendengarkan lagu ini di perform Brandon feat. LMSC di IMB,yang pakai baju merah hitam :D) Semua juri tersenyum ke arah kami membuat aku dan kak Fay semakin bersemangat untuk nge-dance.Akhirnya penampilan kami ditutup dengan backsong dari miliknya Excision dan Datsik yang berjudul Swagga.Lagi-lagi standing applause diberikan para juri untuk kami berdua.Aku dan kak Fay turun dari atas stage dengan penuh percaya diri.Tante Adel dan kak JP menyambut kami dan langsung mengajak kami semua makan di foodcourt yang ada di pusat perbelanjaan itu.
*B*
Di perjalanan pulang menuju rumah tante Adel,kak Fay dan kak JP masih asyik bercanda ria di jok belakang mobil.Sementara aku duduk di depan,di samping tante Adel yang sedang mengemudikan mobilnya.Senyumnya terus terlihat dari bibirnya setiap melihat ulah kak JP dan kak Fay di belakang lewat kaca spionnya.
Aku menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong,masih tak percaya dengan apa yang dikatakan pembawa acara dan para juri tadi.Kata-kata merekapun kini kembali terngiang di telingaku.Saat kak Semmy (Semmy Blank LMSC :D) salah satu dewan juri itu naik ke atas pentas untuk memberikan sepatah dua patah kata untuk semua peserta lomba yang hadir.
"Ini lomba dance tingkat nasional,kami para juri sangat bangga dengan penampilan kalian semua hari ini.Kalian telah berusaha menampilakan perform terbaik dari diri kalian semua.Tapi kami hanya memilih dua tim yang benar-benar masuk kriteria kita di sini.Skill,tekhnik,tingkat kesulitan,power dan yang tak kalah penting.originalitas gerakan kalian akan berpengaruh besar terhadap penilaian dari para juri.Banyak kejutan yang hadir di perlombaan tahun ini,peserta-peserta yang masih belia ternyata mampu bersaing dengan kakak-kakak yang umurnya jauh di atasnya.Saya mewakili para juri mengucapkan selamat kepada dua tim yang lolos ke babak Grandfinal yang akan digelar secara live Sabtu depan di sebuah stasiun TV swasta yang merupakan salah satu sponsor kami.Bagi yang belum lolos,jangan menyerah,ini bukan akhir dari segalanya karena dua tahun mendatang mudah-mudahan kami bisa menggelar acara seperti ini lagi dan kalian bisa kembali berkompetisi di ajang ini.Terimakasih,"kak Semmy kembali ke tempatnya semula.Aku dan peserta lainnya harap-harap cemas menanti pengumuman dari kak Gery tentang siapa saja yang lolos ke babak Grandfinal.Aku,kak Fay dan kak JP saling menggenggam tangan.Tante Adel dari tadi berdiri di belakang kami bertiga sambil mengusap-usap rambut kami bergantian dengan gugup.
"Oke,karena hari sudah mulai malam,langsung saja saya umumkan dua tim yang lolos ke babak Grandfinal yang akan digelar Sabtu depan dan disiarkan secara live oleh sebuah stasiun TV swasta serta dimeriahkan oleh artis-artis ibu kota dan dancer-dancer kebanggaan Indonesia.Untuk tim pertama yang lolos... Selamat kepada....."kak Gery berhenti sejenak untuk menciptakan suasana tegang di antara penonton yang sedang was-was menanti kelanjutan ucapannya.
"SO.DC !! Switch On Dance Crew hip-hop dancer dari Jakarta !!"
Seluruh penonton yang hadir bergemuruh dan bertepuk tangan sangat meriah.Sudah kuduga,tim yang terdiri dari tujuh anggota itu memang diunggulkan untuk lolos.Tarian hip-hop nya sudah seperti penari profesional saja.
"Oke tim berikutnya... Siapaaa ??"tanya kak Gery ke penonton membuat penonton berteriak-teriak menyebutkan nam group yang mereka jagokan.Ternyata banyak juga yang menyerukan nama BielBrand.Hihihi.. itu sedikit menghiburku,walaupun aku dan kak Fay tidak lolos,setidaknya kami sudah mencoba memberikan yang terbaik dan ini merupakan suatu pengalaman yang paling berharga bagi kami karena kami bisa lolos sampai di babak semifinal.
"Selamat... !! Buat adik-adik kita... BielBrand Kids Dancer... !!!"
"Yeaahhh...!!"kak JP berteriak histeris bersama penonton yang hadir di sana.Kak Fay langsung berlutut dan menangis bahagia.Aku sendiri hanya diam mematung seperti tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan.Tante Adel memelukku erat sambil membisikkan kata-kata selamat di telingaku.
"Selamat ya,kalian layak masuk Grandfinal.Walaupun masih sangat muda tapi gerakan-gerakan kalian berdua mampu membuat kami tercengang,"kak Semmy  menghampiri kami untuk memberikan selamat.
"Oh iya,mana pelatih kalian?"lanjutnya.
"Pelatih kami nggak ikut kak,"sahutku.
"Untuk Grandfinal,sebaiknya kalian didampingi pelatih,"kata kak Semmy lagi.
"Memangnya kenapa kak?Kami sudah menyiapkan satu perform lagi kok buat Grandfinal nanti,"mendengar ucapanku,kak Semmy hanya tersenyum.
"Nanti kalian pasti membutuhkannnya.Ya sudah,kakak pergi dulu ya,latihan lebih keras lagi oke?"kak Semmy berlalu dari hadapanku setelah mengacak-acak rambutku lebih dulu.
Kata-kata kak Semmy tadi mengingatkanku sama pelatihku di Surabaya,kak Edo.Ya,bagaimanapun juga dia yang sudah berperan besar mengantarkanku sampai bisa berdiri di sini.Dia yang sudah mengajariku nge-dance.Dia yang sudah memberikanku gerakan-gerakan hip-hop yang diciptakannya.Aku banyak memakai gerakan-gerakannya.Kalau dia tahu,apa dia bakalan marah sama aku karena aku sudah memakai gerakannya di lomba ini tanpa izin?Atau sebaliknya?Atau... ahh.. aku semakin merasa sedih dan ingin meminta maaf sama pelatihku itu.Saat ini aku berharap bisa bertemu dengannya sebelum Grandfinal nanti.
"Ndon,ayo turun.Sudah sampai nih,"tante Adel menyadarkanku dari lamunan.Aku keluar dari mobil dan ternyata kami sudah berada di halaman rumah tante Adel.Hari sudah malam,kami semua masuk ke dalam rumah dan memutuskan untuk langsung beristirahat di kamar masing-masing.Kak Fay dan kak JP masuk ke kamarnya,sedangkan aku masuk ke kamar di sebelahnya dan langsung merebahkan diri di kasur yang nyaman itu.
Hmm.. kak Fay,aku tahu saat ini dia pasti pasti rindu sama orang tuanya di Surabaya.Begitu juga aku,aku kangen sama papa,aku rindu sama dia.
"Papa,lagi ngapain pa?Brandon kangen.Papa sudah makan belum?Papa sehat-sehat saja kan?Maafin Brandon nggak bisa ngabarin papa.Papa jangan khawatir ya,Brandon baik-baik saja kok.Brandon bisa jaga diri Brandon.Brandon sayang sama papa.I Love You Papa..."berjuta kata untuk satu-satunya orang yang kumiliki dan kusayangi terus terlontar dalam hatiku.Angin semilir malam ini kembali menyapaku yang sedang rebah di tempat tidur sambil melamun.
"Angin malam,bawa kata hatiku ke dalam hati papa.Aku ingin dia tahu aku rindu padanya.Aku ingin dia tahu aku sangat mengharapkan kehadirannya.Aku ingin dia tahu kalau aku ingin sekali merasakan pelukan hangatnya.Aku ingin mendengar tawanya,candanya,melihat ekspresi wajahnya ketika aku menjailinya.Hehehe... Aku kangeeennn.. banget sama papaku.Rindukan Brandon juga ya pa,"mataku mulai terpejam dan samar-samar aku merasakan ada seseorang yang menyelimuti tubuhku kemudian mencium keningku lembut.
"Selamat tidur sayang,"tante Adel  pun kembali ke kamarnya dengan perasaan bangga.
*B*