Minggu, 12 Juni 2011

BRANDON MAU PUNYA MAMA *part.21*


"PRANGG !!"
Aku dikejutkan dengan suara piring pecah dari arah dapur.Aku yang sedang tertidur langsung terlonjak kaget dan duduk di atas kasur.Kutatap sekeliling kamar,sebuah jam dinding memberitahuku kalau waktu sudah beranjak siang.Pukul sepuluh pagi.Di meja samping tempat tidurku tergeletak secarik kertas dan segelas susu yang sudah dingin.Aku langsung menyambar kertas itu dan membacanya,ternyata tulisan kak Fay.
"Ndon,kak Fay,kak JP sama tante Adel pergi belanja dulu ke supermarket.Tadi kakak bangunin kamu, eh kamunya nggak bangun-bangun,hehehe.."
"Huuhh.. tega banget sih ninggalin aku sendirian,"gerutuku kesal.
"Eh,kalau mereka semua pergi,terus yang mecahin piring di dapur siapa dong?"aku beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju dapur.
"Oma.. !!"aku terkejut melihat oma sedang memegangi tangannya yang berdarah.Mungkin sewaktu membereskan pecahan beling,beliau tergores pecahannya yang tajam.Aku kembali ke ruang tengah dan mencari-cari kotak P3K di laci.Ku ambil perban dan obat merah dari sana kemudian kembali ke dapur menemui oma.Aku membantu oma untuk duduk di kursi makan.Setelah itu ku ambil air dari keran tempat cuci piring dengan mangkok plastik.Ku bersihkan luka oma yang cukup lebar di ibu jari tangannya itu dengan hati-hati.Beberapa kali oma meringis menahan perih saat aku sedang mengobatinya.
"Sudah selesai oma,"sahutku setelah selesai mengobati luka oma.Aku membereskan pecahan beling dan nasi serta lauknya yang berantakan di atas lantai.Ku buang di tempat sampah,mengembalikan obat merah dan perban ke kotak P3K,setelah itu kembali ke dapur untuk menemui oma.
Sebenarnya aku sedikit canggung sama oma,soalnya aku suka dipelototin terus sama dia.Aku jadi takut.Memang sih dia tidak pernah memarah-marahi ataupun membentak-bentak aku.Dia hanya menatapku dengan tatapannya yang tajam.Seperti malam kemarin,ketika aku baru keluar dari toilet karena kebelet pipis,oma sudah ada di depan pintu toilet dengan matanya yang melotot ke arahku.Aku mencoba mengajaknya tersenyum,tapi oma malah diam saja dan langsung masuk ke dalam toilet.Apa oma marah karena menunggu aku yang kelamaan di toilet?Apa dia sedang menahan pipis?Entahlah.. waktu itu aku langsung ngibrit ke kamar karena ketakutan.
Itulah oma,usianya sudah menginjak angka 55 tahun.Tubuhnya masih terlihat kuat dan sehat.Tapi sekarang oma jadi pendiam dan jarang sekali bicara.Kata tante Adel,oma menjadi seperti itu sejak opa meninggal sebulan yang lalu.Mungkin dia masih sedih karena ditinggal opa.Ditambah lagi masalah tante Adel yang batal menikah dengan om Andre,papanya JP,membuat oma bertambah sedih.
"Oma mau sarapan?"tanyaku.Oma hanya mengangguk menjawab pertanyaanku.Aku bergegas membuka tudung saji,ternyata cuma ada piring kosong.Nggak ada lauk di sana.
"Aku masakin nasi goreng ya?Oma mau nggak?"tanyaku lagi.Oma mengerutkan keningnya,wajahnya tampak memperlihatkan keragu-raguan kalau aku bisa masak nasi goreng.
"Memangnya kamu bisa masak?"suara pertama yang ku dengar dari mulut oma terlontar darinya.
"Iya oma,Brandon cuma bisa masak nasi goreng doang,nggak bisa yang lain,hehehe.. tapi oma bantuin juga ya.Soalnya Brandon nggak tahu tempat menyimpan bumbu-bumbunya,"sahutku sambil menyeret kursi makan yang akan aku gunakan untuk memasak nanti.Aku harus naik ke atas kursi karena letak kompornya yang lumayan tinggi.
Kami berdua langsung sibuk memasak nasi goreng.Oma tertawa-tawa saat aku sedang mengiris bawang merah sambil menangis.Oma tidak bisa membantuku mengulek bumbunya karena tangan oma sedang sakit.Dia membantuku menggoreng nasi di wajan sedangkan aku hanya mengurusi bumbu-bumbunya.
Dua puluh menit berlalu,sepiring nasi goreng yang masih panas sudah terhidang di meja makan.
"Oma,kok cuma dilihatin doang sih nasi gorengnya?"kataku saat melihat oma hanya diam di kursinya.Ku amati oma dan akhirnya mataku tertuju pada jempol tangan kanannya yang terluka.
"Hehehe.. maaf oma,Brandon lupa kalau tangan oma lagi sakit.Ya sudah,Brandon suapin ya?"aku mengambil sendok yang ada di hadapan oma.
"Ini oma,"oma melahap nasi goreng yang aku suapkan.
"Bagaimana?Enak nggak?"tanyaku.Oma terdiam dan hanya menatapku lekat-lekat.
"Aduh.. jangan-jangan nasi gorengya.."aku langsung mengambil segelas air minum dan segera memberikannya sama oma.
"Minum dulu oma,nasi gorengnya nggak enak ya?"oma menggeleng dan menolak air minum yang aku sodorkan.Pandangannya tetap terarah ke mataku membuat aku merasa risih dan ingin pergi dari hadapannya.
"Mmh.. mau lagi?"tanyaku memecah kebisuan.Oma mengangguk dan aku kembali menyuapinya.Tapi tiba-tiba oma menangis dan itu membuat aku terkejut.
"Oma kenapa?Kalau nasi gorengnya nggak enak bilang saja oma,"sahutku membuat tangisan oma tak bisa ditahan.
"Nggak apa-apa kok.Nasi gorengnya enak,enak sekali malah,"oma mengusap air matanya dan berlalu menuju kamar,meninggalkan aku sendirian yang sedang kebingungan di meja makan karena sikap oma barusan.Kucicipi nasi gorengku dan.. hmm.. rasanya enak kok,persis seperti yang sering papa bikinin di rumah.Terus kenapa oma nangis?Aku beranjak menuju kamarku dengan berjuta pertanyaan tentang sikap oma tadi.
*B*
Selama menjelang grandfinal,aku dan kak Fay berlatih habis-habisan.Hahaha.. tante Adel juga mengajari kami tari latin.Aku dan kak Fay tertawa-tawa saat disuruh dansa sama dia.Habisnya badanku kan lebih kecil dari kak Fay,sudah begitu aku dan kak Fay sering menginjak kaki ketika sedang menari salsa membuat kami terpekik dan kemudian langsung tertawa-tawa geli.Tapi lama-lama aku dan kak Fay cukup menguasai juga tarian itu walaupun tidak sehebat tante Adel.
Aku dan kak Fay juga harus bolak-balik ke stasiun TV yang akan menggelar grandfinal itu.Kami diminta syuting untuk mempromosikan acaranya.Pemotretan untuk banner dan spanduk,serta wawancara dengan berbagai media surat kabar.Hasilnya,aku dan kak Fay mendadak menjadi sangat terkenal karena fotoku dan kak Fay terpampang dimana-mana.Apalagi di televisi juga sedang gencar-gencarnya mempromosikan acara itu.
"Hallo Faynatic,Hallo Brandonizer,Hai NaticNizer,dukung Abiel dan Brandon di grandfinal ya.. datang dan saksikan langsung penampilan kami,BielBrand Kids Dancer !! Bla.. bla.. bla.. "itulah sepenggal kata-kata kami ketika sedang mempromosikan BielBrand Kids Dancer di televisi.Hahayy...
Tante Adel selalu setia mendampingi aku dan kak Fay,mengantarkan kami kesana-kemari seperti orang tua kami sendiri.Oma juga sering ikut,setelah kejadian nasi goreng itu oma dan aku menjadi akrab.Dia tidak mau jauh-jauh dari aku dan sekarang oma sudah kembali seperti dulu,bisa tertawa-tawa dan tidak murung lagi.Kadang kalau aku sedang malas makan oma bisa ikut-ikutan nggak makan.Aku juga nggak tahu kenapa oma jadi seperti itu.Kata tante Adel sih mungkin oma pengen banget punya cucu dan aku sudah dianggap sebagai cucunya sendiri.Ketika aku tanya tante Adel,apa tante Adel mau menikah lagi?Dia hanya tertawa-tawa.Huuhh.. padahal aku punya rencana buat ngenalin tante Adel sama papa.Hihihi...
Untuk menyegarkan pikiran,aku,kak Fay,kak JP serta oma di ajak tante Adel pergi ke tempat-tempat wisata di Jakarta.Aku senang sekali karena baru pertama kalinya pergi ke tempat-tempat wisata yang ada di ibukota ini.Dufan,pantai Ancol,Sea World,TMII,Monas,Water Boom.. Wahh.. pokoknya satu persatu kita jelajahi.Tentu saja di setiap tempat itu kami tak lepas dari kejaran para penggemar yang berbondong-bondong minta tanda tangan,foto bareng,atau sekedar salaman dan melihat kami dari dekat.
Hari terakhir latihan,aku dan kak Fay melakukan gladi bersih.Besok pagi-pagi sekali aku harus sudah bangun dan melakukan blocking di panggung yang akan kami gunakan untuk grandfinal nanti.Hatiku rasanya tidak sabar menunggu hari esok.Tapi perasaan bangga yang aku rasakan juga bercampur dengan perasaan sedih karena nanti aku harus meninggalkan tante Adel yang sudah aku anggap seperti mamaku sendiri.Dan tentunya juga oma,pasti dia sedih kalau harus aku tinggalin.
"Eh kak,kalau aku jodohin papa sama tante Adel kira-kira tante Adel mau nggak ya?"tanyaku ketika aku,kak Fay dan kak JP sedang asyik bermain di ruang tengah.Kak JP sekarang memang hampir setiap hari menginap di rumah tante Adel,soalnya di rumahnya sepi banget.Papanya juga jarang di rumah karena sibuk dengan pekerjannya di kantor.
"Hmm.. kamu tanya saja langsung sama tante Adel.Hihihi.."kak JP dan kak Fay terkikik.
"Ah.. tante Adel nggak mau jawab,kemarin-kemarin aku tanya dia cuma tertawa-tawa saja,"sahutku manyun.
"Ya siapa tahu sekarang dijawab,sebentar lagi kan kita sudah nggak di sini lagi.Cepetan gih tanya,mumpung masih di sini.Nanti kamu nyesel lho,"kata kak Fay mendorong pundakku.
"Oke-oke,aku tanya sekarang,"aku beranjak menuju kamar tante Adel.Tetapi sesampainya di depan pintu kamarnya aku menjadi ragu untuk masuk.
"Fiuuhh..."aku menarik nafas sejenak kemudian mengetuk pintu kamarnya tiga kali.
"Siapa?"tanya suara dari dalam.
"Ini Brandon tante,"sahutku.
"Masuk sayang,"tante Adel menyuruhku masuk.Aku membuka pintu kamarnya yang tidak dikunci itu lalu masuk dan mendapati tante Adel sedang duduk di tepi tempat tidur sambil menghapus air matanya dengan tissue.
"Tante kenapa?Kok nangis?"tanyaku seraya menghampiri tante Adel dan duduk di sampingnya.
"Nggak apa-apa Ndon,tante sedih karena sebentar lagi kamu dan Fay bakalan pergi.Rumah ini bakalan sepi lagi deh,"tante Adel tersenyum ke arahku.
"Brandon juga sebenarnya nggak mau pisah sama tante yang sudah Brandon anggap seperti mama Brandon sendiri,"lirihku.Tante Adel memelukku erat.
"Kalian juga sudah tante anggap sebagai anak tante sendiri,"sahut tante Adel sambil melepaskan pelukannya.
"Oh iya,ada apaan Ndon nyariin tante?"tanyanya.Aku terdiam sejenak,bingung harus memulai dari mana.Mataku malah berkeliling melihat kamar tante Adel yang luas.Ada meja rias,lemari pakaian,sepatu,rak buku dan lemari boneka.Aku baru tahu ternyata tante Adel senang mengoleksi boneka juga.Hehehe..
"Itu boneka apaan tante?kok jelek banget?"tanyaku sambil menunjuk sebuah boneka berwarna hitam dengan bibir merahnya yang tebal,tapi matanya yang sipit membuat boneka itu terlihat seperti sedang tersenyum.Tante Adel beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil boneka yang aku maksud dari dalam lemarinya.
"Yang ini?"tante Adel menyodorkan boneka itu kepadaku yang langsung aku ambil dari tangannya.
"Itu namanya boneka Dakocan.Dulu terkenal banget lho.Tante dapat boneka ini langsung pesan dari pabrik boneka karena bonekanya sudah langka dan jarang dijual di toko-toko boneka,"tante Adel kembali duduk di sampingku yang sedang asyik mengamati boneka itu.
"Dakocan?Kayaknya Brandon pernah dengar nama boneka itu,"
"Hmm.. dimana?"tanya tante Adel.
"Papa.. sehari sebelum Brandon berangkat ke sini,papa meledekku dengan ngatain aku mirip boneka Dakocan.Ternyata ini toh?Apanya yang mirip?Kulit hitam,bibir merah tebal,huuhh.. cuma matanya saja yang sama-sama sipit.Dasar papa jelek,"gerutuku membuat tante Adel tertawa.
"Hahaha.. papa kamu lucu ya?Tapi Ndon,boneka ini aslinya itu punya mata yang besar seperti orang sedang melotot.Tante sengaja memesan supaya matanya dibuatkan seperti ini biar nggak kelihatan seram dan tampak lucu,"terangnya.
"Jadi nggak ada mirip-miripnya dong sama Brandon?Hahaha... si papa ada-ada saja nih,"tawaku senang.
"Kamu kangen sama papa kamu?"pertanyaan tante Adel membuat tawaku berhenti.
"Banget tante,kangeeennnn bangett,"aku memeluk boneka Dakocan dengan erat,membayangkan kalau boneka itu adalah papaku.Hahaha...
"Tapi Brandon juga nggak mau jauh-jauh dari tante,"lanjutku.
"Masa sih?Memangnya kenapa sayang?"
"Iya,tante mau nggak menikah lagi sama papa Brandon?Papa orangnya baik kok,tante pasti suka.Yaahh.. walaupun wajah papa masih kalah sama Brandon.Hehehe.. mau nggak?"aku mempromosikan papaku (wkwkwkwk.. Ndon udah kayak sales aja :D)
"Kamu ini,bikin malu tante saja.Hmm.. gimana ya?tante pikir-pikir dulu deh,"
"Brandon mau jawabannya sekarang tante,masa tante nggak sayang sama Brandon?"
"Belum tentu kan papa kamu suka sama tante?"sergahnya.
"Pasti suka,tante kan baik banget,cantik,sayang sama Brandon.Tante tenang saja,nanti Brandon yang bujuk papa,pasti dia mau kalau Brandon yang bujuk"aku terus merayu tante Adel.
"Hahaha.. gimana ya?Iya deh.. tapi kalau tante nggak jadi sama papa kamu,kamu jangan ngambek sama tante,"ujarnya pesimis.
"Pokoknya harus jadi,nanti tante Adel anterin Brandon sama kak Fay pulang ke Surabaya ya,terus aku kenalin deh sama papa,"sahutku.
"Iya sayang,pokoknya terserah kamu,"jawaban tante Adel membuatku terlonjak senang.
"Horeee.. sebentar lagi Brandon punya mama.Hehehe..."
"Hahaha.. Dasarr !! Ya sudah,tidur sana,sudah malam nih.Besok kan kamu harus bangun pagi-pagi,"tante Adel mencium keningku lembut.
"Makasih mama,"aku tersenyum ke arahnya kemudian beranjak dari kamar tante Adel dengan perasaan yang tidak bisa aku lukiskan.
*B*
Sementara Brandon istirahat tidur,kita menuju Bandung.
Seorang ayah terbangun dari tidurnya karena dia telah bermimpi buruk tentang anak semata wayangnya yang sudah sangat dia rindukan itu.Hatinya langsung galau karena sudah hampir dua minggu anak laki-laki satu-satunya itu tidak pernah memberi kabar padanya.Dia menatap jam dinding di kamar hotelnya,jam lima pagi.Dengan perasaan yang tidak karuan dia menyalakan TV kemudian meraih gagang telepon yang ada di meja yang terletak di samping televisi tadi.
"Kali saja Brandon sudah pulang,"lirihnya penuh harap sambil menekan nomor rumahnya yang ada di Surabaya.Nada sambung terdengar tapi tidak ada seorangpun yang mengangkat teleponnya.
"Apa anakku masih tidur?"bathinnya cemas.
"Hallo Faynatic,Hallo Brandonizer,Hai NaticNizer,dukung Abiel dan Brandon di Grandfinal ya.."
"Hallo sayang,kamu sudah pulang?"tanya om Addie ketika mendengar suara anaknya.Tapi itu bukan suara yang berasal dari pesawat telepon,melainkan dari televisi yang ada di sebelahnya.
"B.. B.. Brandon??"om Addie terkejut ketika pandangannya tertuju ke layar televisi.Mukanya langsung merah dan gagang telepon yang dia pegang langsung dijatuhkannya.Dia mengucek-ngucek matanya,masih tidak percaya kalau yang ada di layar TV itu benar-benar Brandon,anaknya.Sekarang dia sedang asyik mempromosikan acara lomba dance yang akan digelar beberapa jam lagi.Setelah yakin itu Brandon,om Addie menuju pintu kamar hotel,maksudnya mau memberitahu adiknya,om Jun yang ada di kamar sebelah.Tapi ternyata om Jun sudah lebih dulu berada di depan kamar hotelnya dengan maksud dan tujuan yang sama.
"Mas.. Brandon,"
"Iya,mas sudah lihat,"potong om Addie.
"Aku akan berangkat ke Jakarta,"lanjutnya.
"Aku ikut Mas,"sahut om Jun.
"Kalian menyusul saja ya,Mas buru-buru,"
"Ya sudah,hati-hati Mas,"kata om Jun.Om Addie mengangguk kemudian bersiap-siap pergi meluncur menuju tempat lomba dance di Jakarta untuk menjemput Brandon,anaknya.
*B*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar