Jumat, 05 Juli 2013

TEMAN MISTERIUS ( Cerpen Langsung End )

      Hari  pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas memang merupakan hari dimana murid-murid mencari-cari tempat duduk yang diinginkan. Tak terkecuali Brandon & Fay. Dua bocah yang jago nge-dance hip hop ini sengaja datang ke sekolah pagi-pagi sekali supaya bisa  dapat tempat duduk yang mereka mau. Sekarang mereka sudah duduk di kelas 1 SMP.
"Yaah,tas siapa nih?"Brandon melemparkan sebuah tas yang ada di bangku pojok paling belakang ke bangku lain.
"Brandon! Enak aja maen lempar-lempar. Itu bangku aku!"omel Fay langsung memungut tasnya.
"Yee,ini bangku aku! Kamu cari yang lain aja tuh!"Brandon mempertahankan bangku yg tadi sudah ditempati Fay.
"Dasar gundul! Km aja yang nyari lagi. Itu msh banyak tau! Ini kan aku duluan yang nempatin,"Fay tak mau kalah sambil menarik-narik tangan Brandon supaya keluar dari  bangkunya. Tapi Brandon tak bergeming.Tangan yang satunya berpegangan pada  bangku membuat Fay tak mampu menarik keluar Brandon dari sana.
"NYEBELIIINN!!"teriak Fay manyun.

      Tidak lama berselang, murid-murid lain mulai berdatangan. Mereka juga berebutan tempat duduk. Rata-rata memang nggak ada yang mau duduk paling depan. Hahaha, walaupn sudah banyak yang datang, tapi  Brandon & Fay belum mau berhenti bertengkar. Mereka terus memperebutkan bangku tadi.
"Ya sudah, kita sebangku aja Fay!"tawar Brandon.
"WHAT? Sebangku aama kamu? OGEENGGG . . . "-
"Terserah, emang aku juga mau sebangku sama cewek rese kayak kamu? Weee . . ."Brandon tak mau kalah.
"Iihh.. Dasarr.. Awas donk! Ini bangku akui, aku yang pertama nempatin tau!"Fay kembali menarik tangan Brandon.
"Salah sendiri nggak didudukin!"-
"Aaarrggghh Brandon! Kamu nyebelin banget sih!"sungut Fay kesal.
"Eh,maaf aku boleh duduk sama kamu nggak?"tanya seorang murid laki-laki membuat Fay & Brandon berhenti bertengkar.
"Boleh.. boleh.. Duduk aja. Daripada aku sebangku sama cewek rese,"sambut Brandon gembira. Fay melotot ke arah Brandon. Kini dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena Brandon & anak baru itu telah duduk manis di bangku yang sehrusnya menjadi tempat duduknya.
"AWAS KAMU NDON!"Fay mengacungkan kepalan tangannya. Brandon hanya tertawa sambil memeletkan lidah ke arah Fay.
"NGGAK TAKUUUT! WEEEKK..."ledeknya girang.
      Hari  itu proses belajar mengajar belum efektif. Baru jam 10 pagi saja mereka sudah diperbolehkn pulang. Brandon melenggang menuju gerbang dengan langkah berirama. Kedua tangannya dimasukan ke saku celana.
"Eh, yang tadi sebangku sama aku namanya siapa ya? Aku sampai lupa kenalan gara-gara berantem mulu sama si Fay! Hahaha,"pikirnya seraya menggaruk-garuk kepala.
Belum sampai keluar gerbang, tiba-tiba Fay menarik tubuh Brandon sehingga anak itu mundur & jatuh terduduk.
"AWW !!"pekiknya kesakitan. Dia langsung bangkit, menghampiri Fay. Niatnya mau membalas, tapi dia mengurungkan maksudnya itu. Dia hanya menatap mata Fay tajam. Fay balik memelototinya. Kini keduanya saling berhadapan, beradu mata dan tak lama kemudian, salah satu teman yang melihat adegan itu menyalakan mp3 dari  HPnya. Terdengarlah musik hip hop dari sana. Battle dance pun dimulai dan berlangsung seru. Fay dan Brandon bergantian menari hip hop membuat semua murid asyik menyaksikan tontonan gratis itu. Sebagian mengelukan Brandon dan sebagian lagi memberi semangat buat Fay.
"BRANDON BRANDON BRANDON!!"
"ABING ABING ABING!!"
Wah wah, kira-kira yang menang siapa ya? :D
      Lagi seru-serunya Brandon dan Fay battle dance tiba-tiba...
"JLEPP!!"musik hip hop berhenti gara-gara baterai HP nya lowbat.
"HUUHHH!"penonton pun kecewa dan membubarkan diri.
"Lain kali aku pasti ngalahin kamu Ndon!"Fay melipat tangan di dada.
"Nggak semudah itu Fay!"Brandon nggak mau kalah. Dia memasukan kedua tangan di saku celana seragamnya. Keduany tampak basah oleh keringat yang membanjiri tubuh masing-masing.
"Ayo Fay!"ajak teman-teman cewek Fay mengajak dia prgi. Brandon mengatur nafas sejenak. Hmm... Battle tadi cukup membuat dia ngos-ngosan. Brandon celingak celinguk mencari sesuatu.
"Ini tas kamu!"seseorang menyerahkan benda yang dia cari. Ternyata teman sebangkunya tadi.
"Kamu hebat ya. Dance kamu keren. Kapan-kapan ajarin aku donk!"keduanya berjalan beriringan.
"Boleh aja, tapi tarifnya sebulan 500rb! Hehehe"-
"Mahal bener! Kurangin dikit lah"-
"Oke 499rb! Itu sudah dikurangin dikit," Anak baru itu manyun.
"Bercanda lah, lagian aku jugs masih belajar. Kalo mau belajar di sanggar aja bareng aku. Tapi hati-hati sama si Fay. Dia itu cewek rese, tapi cantik juga sih. Hahaha,"Brandon dan temannya tertawa riang.
"Eh iya, nama kamu siapa?"tanya Brandon hampir lupa lagi.
"Latif!"-"Brandon!" keduanya brsalaman.
***
      Di sekolah, lama-lama Brandon dan Latif jadi teman baik. Latif yang tadinya pendiam jadi ketularan jailnya Brandon. Dia sering ikut-ikutan Brandon ngerjain Fay. Tapi  ada yang aneh dengan Latif, kadang anak itu suka ngomong sendrian secara tiba-tiba, seperti orang yang sedang ketakutan. Misalnya, ketika kelas lagi hening-heningnya, waktu semua murid sibuk mikirin soal ulangan yang ada di depannya, Latif berteriak histeris.
"Jangan! Jangan bunuh aku! Kamu jahat! Kamu harus matii.. Kamu  akan matii.. Jangaann!!" tentu saja teriakannya ini membuat seisi kelas ketakutan. Apalagi Brandon, teman sbangkunya. Dia sampai melompat dari tempat duduknya dan meringkuk di pojokan.
"Tif... Tif.. Latiiff..."Brandon mencoba menyadarkan Latif, Latif menoleh ke arah Brandon.
"KYAAAA..."Brandon semakin ketakutan melihat mata Latif yg nggak ada hitamnya. Seperti orang kesurupan. Tapi itu tak pernah berlangsung lama karena Latif akan sadar sendiri. Anehnya, dia tidak pernah ingat dengan apa yang terjadi padanya barusan.
"Ndon, ken.. kenapa kamu takut sama aku?"katanya bingung.
"Ng.. Nggak kok Tif, aku nggak tskut!"jawab Brandon berbohong.
"Sudahlah kita belajar lagi,"sahut Brandon cepat dengan wajah pucat.
***
      Suatu hari, murid-murid diberi PR, tapi secara berkelompok. Brandon, Latif, Fay dan dua orang lainnya tergabung dalam satu kelompok.
"Aduh! Kenapa satu kelompok sama si jail sih?"gerutu Fay kurang suka.
"Jail.. Jail.. Tapi kamu suka kan Fay?"sahut Brandon kepedean.
"Idiih.. Kamu tuh ya! Aku tuh nggak suka kalo km dekat-dekat sama murid cewek lain! Ehh.... Keceplosan! Aku tuh nggak suka sama km! Jadi jangan ge-er ya!"sewot Fay nggak terima.
"Ya mau gimana lagi dong? Kita sudah satu kelompok. Ntar ngerjain tugasnya di rumah siapa nih?"tanya Brandon sama keempat teman kelompoknya.
Semua mata tertuju ke arah Latif.
"Ja.. Jangan di rumahku ya!"Latif menggoyangkan tangannya, memberi tanda kalau dia nggak setuju.
"Lho, emang kenapa? Kita kan belum tau rumah kamu Tif,"kata-kata Fay disambut anggukan teman-teman yang lainnya.
"Pokoknya nggak bisa deh, aku nggak bisa cerita sekarang,"tolak Latif lagi.
"Ya udah deh, terus...??"
Kini smua mata tertuju ke Brandon.
"Jang.. Aww!!"belum sempat protes, Fay sudah mencubit pinggang Brandon.
"Oke.. Oke.. Di rumahku deh! Tar aku suguhin BATU!"sungut Brandon mengalah dan semuanya setuju kalau nanti malam mereka akan belajar kelompok di rumah Brandon.
***
      Tepat jam 7 malam, semuanya sudah berkumpul di rumah Brandon, kecuali si Latif.
"Eh Ndon, teman kamu kemana tuh? Kok belum datang?" tanya Fay.
"Nggak tau tuh. Palingan juga telat. Denger-denger rumahnya kan jauh Fay,"sahut Brandon cuek. Dia mulai mengeluarkan semua mkanan yang ada di lemari.
"Emang kamu tau rumahnya?"lanjut Fay yang langsung dijawab dengan gelengan kepala Brandon.
"Nomor HP? Telepon rumah?"Fay masih penasaran.
"Nggak ada Fay, aku nggak pernah nanya. Mending aku minta nomor HP kamu aja Fay,"jawab Brandon lagi.
"Dasar!"Fay mencubit lengan Brandon membuat anak itu terpekik.
      Meskipun tanpa Latif, mereka tetap mengerjakan tugas klompok yang diberikan gurunya. Sampai jam 9 malam, Latif nggak datang juga. Fay dan kedua temannya pun pamit pulang.
"Ndon, kita pulang dulu ya. Eh besok kita omelin saja tuh si Latif,"cetus Fay.
"Sudahlah, paling dia ada urusan,"Brandon mencoba berpikir positif.
Setelah semuanya pulang, Brandon membereskan ruangan bekas belajar kelompok yang berantakan sendrian. Lalu setelah itu, dia masuk kamar. Hmm.. Di luar mulai terdengar suara petir dan tetesan air hujan.
"Hujan2 begini, enakny tidur,"gumamnya sambil menutupi tubuh mungilnya dengan selimut tebal.
      Baru saja mata Brandon terpejam, beberapa ketukan dari arah pintu rumahnya membuat dia kembali terbangun. Meski samar karena beradu dengan suara hujan di luar, tapi Brandon masih bisa mendengarnya.
"Aduh.. Siapa sih malam-malam?"gerutunya seraya bangkit dari tempat tidur.
"Mama sama papa kemana ya? Apa mereka nggak denger?"dengan malas dya membuka pintu ruang tamu.
"HOAAMPPPH,,"anak itu menutup mulutnya yang kembali menguap.
"Latif?!"Brandon kaget melihat Latif sudah berdiri di depannya dengan tubuh basah kuyup mirip kucing kecemplung got mampet.
"Maaf Ndon, aku telat. Di jalan kehujanan,"ucapnya sambil menggigil kepanasan. Lho? Hahaha . . Kedinginan lah..
"Yee.. Udah pada pulang kali Tif! Yaudah yuk masuk!"ajak Brandon nggak tega melihat temannya itu. Pakaian dan buku-buku yang dibawanya basah semua. Brandon kembali ke  kamarnya lalu keluar membawa handuk dan pakaian yang sekiranya muat buat Latif ( gue yakin nggak bakalan ada yang muat dah, tapi kita bikin ceritanya muat aja dah, wkwkwkwk). Setelah Latif berganti pakaian, keduanya asyik ngobrol di ruang tengah.
"Aduh gimana nih Ndon? Buku aku basah semua. Mana udah malam banget lagi"-
"Ya mau gimana lagi Tif. Malam ini kamu nginep aja, besok pagi-pagi sekali aku antar kamu  pulang sekalian papaku berangkat ke kantor naik mobilnya,"usul Brandon. Latif berpikir sejenak.
      Latif setuju malam ini menginap di rumah Brandon.
      Tik tok tik tok tik tok
Jarum jam di kamar Brandon terus berdetak. Keduanya tertidur lelap sampai akhirnya, tepat jam dua malam...
"Tolongg.. Jangan.. Jangan bunuh aku!! Jangan.. Kamu jahat!!" Latif berteriak-teriak nggak karuan. Brandon yang kaget sampai terjatuh dari tempat tidurnya.
"GUBRAKK!"
"Wadaww..."pekik anak jail itu terbangun. Dia mngusap-ngusap kepalanya yang terasa sakit.
"Huuh, untung nggak sampe benjol,"lirihnya. Brandon beranjak dari lantai dan langsung berusaha membangunkan Latif meskipun dia merasa sedikit takut melihat wajah temannya yang seperti orang kesurupan itu.
      "Tif.. Bangun Tif! Kamu nggak apa-apa kan?"Brandon mengguncang-guncang tubuh temannya. Perlahan, keadaan Latif mulai sadar.
"Bran.. Brandon? Ada apa?"tanyanya tak mengerti.
"Mmh.. Nggak, nggak apa-apa. Yaudah tidur lagi,"sahut Brandon berbohong. Dia pun kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
Kini mata keduanya sulit terpejam. Mereka masih larut dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya Brandon ingin bertanya lebih jauh tentang kejadian yang selalu menimpa temannya itu. Tapi dia tidak tega jika harus memaksa Latif mengingat-ingat apa yang sama sekali tidak diingat olehnya.
"Kamu belum tidur Ndon?"suara Latif memecah kebisuan. Brandon memalingkan wajahnya ke arah Latif.
"Belum,"jawabnya singkat.
"Apa kamu ingin bertanya sesuatu padaku?"tanya Latif membuat Brandon terperangah.
"Aku juga nggsk tau kenapa bisa kayak gitu. Aku sama sekali nggak ingat Ndon,"terang Latif sebelum Brandon bertanya. Matanya menatap sedih ke arah Brandon.
"Ya sudahlah Tif, nggak usah dipikirin,"Brandon menenangkan temannya.
"Kamu malu punya temen aneh kayak aku?"-
"Aneh gimana? Muka kamu nggak kayak alien kok,"-
"Ndon, kamu nih. Aku serius!"timpal Latif.
"Nggak Tif, aku seneng kok temenan sama kamu,"
Latif tersenyum mendengar jawaban Brandon. Keduanya kembali membisu, berusaha untuk kembali tidur.
***
       Pagi harinya, Brandon tidak menemukan Latif berada di kamarnya.
"Hmm.. Mungkin di kamar mandi,"pikirnya seraya bangkit menuju kamar mandi pribadinya.
"Nggak ada! Apa udah pulang dluan?"gumamnya sendirian. Waktu dia mau beresin buku pelajarannya buat hari ini, tiba-tiba dia menemukan sebuah tulisan di atas secarik kertas. Brandon langsung memungut kertas itu dari atas meja belajarnya.
"Brandon, maaf nggak ngasih tau kamu dulu, aku harus pergi Ndon. Maafin aku juga kalau selama ini punya salah sama kamu dan semua teman-teman di kelas. Makasih ya sudah mau temenan sama aku. Nggak kerasa, sudah hampir satu tahun! Hehe.. Aku seneng banget bisa temenan sama kamu, Fay dan yang lainnya. Aku bakalan pergi Ndon, mungkin kita nggak bakalan ketemu lagi. Oh iya, km jangan jailin Fay lagi ya! Kasian.. Aku tau kamu sebenernya suka sama Fay. Begitu juga sebaliknya. Hahaha, becanda! Kalian kan masih kecil. Pokoknya kamu  berdua tuh bisa jadi sahabat baik dan mungkin bisa ngalahin Spongebob dan Patrick! Kalau kamu pengen tau yang sebenarnya, pulang sekolah nanti kamu datang saja ke rumahku. Alamatny di  Jln.Rusak Gg.Buntu dan nggak ada nomornya.
Sekali lagi, makasih buat semuanya. Salam buat yang lain ya Ndon. By.Latif."
Brandon tertegun membaca surat itu.
      Pulg sekolah, Brandon dan Fay sudah berjalan beriringan menuju rumah Latif yang lumayan jauh itu.
"Ndon! Beneran itu tulisan Latif? Jangan-jangan kamu sama dia sekongkol mau ngerjain aku lagi,"semprot Fay seperti tak percaya.
"Beneran Fay. Kamu nih nggak percaya banget sih sama aku,"ketus Brandon sambil terus melihat-lihat rumah yang berderet di sepanjang lorong gang yang sepi dan sempit.
"Kamu tuh emang patut dicurigai Ndon!"-
"Huuhh.. Enak aja! Emang aku penjahat? Eh Fay, kayakny yang ini deh rumahnya,"Brandon dan Fay menghentikan langkah mereka di  depan sebuah rumah yang tampak tak terawat. Rumput-rumput di depan rumah itu tumbuh subur seperti setahun tak pernah dipotong. Di depan pintu pagarnya juga melintang garis polisi brtuliskan "DILARANG BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN!" hahaha.. Ya nggak lah..
"DILARANG MELINTASI GARIS POLISI"
"Beneran yang ini rumahnya?"tanya Fay kurang yakin.
"Di kertasnya sih begutu!"jawab Brandon yakin.
"Jangan-jangan ALAMAT PALSU Ndon!"celetuk Fay.
"Kemana.. Kemana.. Kemana.. Ku harus mencari kemana.."
Brandon berjoget ria sambil nyanyiin lagu Ayu Ting-Ting.
*nggak kbayang Nden joget dangdut, pasti keren banget tuh matanya sampe merem melek! Hahaha..
      "Lagi  ngapain De? Ngamen? Percuma, rumahnya kosong nggak ada orang,"tegur seseorang dari  belakang. Brandon dan Fay membalikan badan, membelakangi pintu gerbang rumah itu. Ternyata disana telah berdiri seorang bapak-bapak yang kira-kira usianya menginjak 50 tahun.
"Eh bapak, nggak Pak! Kita lagi nyari rumah teman kami yang namanya Latif. Bapak kenal nggak?"Brandon menggaruk-garuk kepalanya. Dia merasa malu karena ketahuan joget dangdut. Hahaha . .
"Ka.. Kalian siapanya Den Latif?"Bapak itu tampak terkejut.
"Kita teman sekolahnya Pak,"Fay yang menjawab. Si Bapak mengerutkan kening, tampak tak percaya.
"Bapak pernah kerja di rumah Den Latif. Tapi satu tahun yang lalu rumahnya dimasuki kawanan perampok. Semua penghuni rumah itu dibantai, termsuk para pembantunya,"terang si Bapak.
"Terus Latif gimana? Dia selamat?"Brandon dan Fay tak percaya dengan cerita si Bapak yang mereka dengar barusan.
"Dia.. Dia juga DIBUNUH! Hari ini jenazahnya akan dikuburkan,"Brandon dan Fay semakin bingung. Kalau memang Latif terbunuh satu tahun lalu, terus yang selama ini bersama mereka sebenarnya siapa?
Brandon dan Fay bergidik.
      "Ter.. Terus.. Ken.. Kenapa dikuburnya baru sekarang Pak?"muka Brandon dan Fay semakin terlihat pucat. Rasa takut mulai menjalar di tubuh mereka.
"Begini De, mayat Den Latif baru ditemukan tadi malam di ruang bawah tanah. Jadi  penguburannya baru dilakukan tadi pagi. Oh iya, Den Latif meninggal sambil memeluk foto ini,"Bapak itu menyerahkan selembar foto kepada Brandon.
"In.. Ini kan?! Foto aku, Latif sama kamu Fay! Bagaimana bisa?"-
"Ini nggak masuk akal Ndon! Bapak... Lho? Bapak tadi kemana?"Fay mencari-cari si Bapak tadi. Dari ujung gang ke ujung gang yang satunya. NGGAK ADA!
"Fay, bukankah kata dya semua penghuni rumah ini dibantai semua? Termasuk PEMBANTU-PEMBANTUNYA? Jangan-jangan Bapak-bapak yang tadi..."
DEG DEG DEG DEG DEG...
Jantung mereka berdetak kencang. Bulu kuduk semuanya berdiri. Apalagi suasana di gang sempit itu sepi dan nggak ada orang lewat.
"Brandon.. Fay.. Makasih ya.. Kalian udah mau jadi temen aku! Hihihihi..." suara Latif dr arah belakang di balik pintu gerbang rumah membuat jantung Fay & Brandon terasa mau copot.
Tanpa pikir panjang, keduanya mengambil langkah seribu.
"KYAAAAA.... LARI FAAYY...!!"
"WOOYY TUNGGUIN NDOONNN.. HUAAA...!" Fay berusaha mengejar Brandon yg AJAIB! Lari tuh bocah jail mendadak jadi cepet banget! Hahaha..

"SELESAI"

Jumat, 29 Juli 2011

IMPIAN YANG LAIN TELAH MENANTIKU *last part.2*

“Pap.. Papa..!!”aku tersadar dan mendapati tubuhku terbaring di tempat tidur.Ternyata di rumah tante Adel.Kak Fay,kak JP,oma dan tante Adel tampak mengelilingiku dengan wajah cemas.

“Kak,tante,oma,mana papa?Papaku mana kak?”aku terduduk di kasur menatap mereka satu persatu.

“Papa kamu?Bukannya masih di Bandung?”kak Fay balik bertanya.

“Di Ban.. Bandung?In.. ini hari apa kak?”tanyaku bingung.

“Hari Sabtu Ndon,hari ini kamu akan tampil di grandfinal.Kamu mimpi ya?Dari tadi teriak-teriak manggil papa kamu bikin kita semua cemas,”sembur kak JP.

“Iya kak,aku mimpi buruk tentang papa.Aku takut kak,”lirihku.Mataku menunduk menatap kasur,pikiranku kembali mengingat-ingat mimpi tadi yang seperti nyata.

“Sudahlah sayang,itu cuma mimpi.Sebentar lagi kamu harus tampil di grandfinal.Sekarang kalian siap-siap ya,kita harus ke tempat lomba buat blocking panggung dulu,”tante Adel mencoba menenangkanku.

“Syukurlah,ternyata cuma mimpi,”bathinku terasa lega,legaaa sekali.

“Kamu tidurnya nyenyak banget sih Ndon,kakak tepuk-tepuk pipi kamu nggak bangun-bangun.Dicipratin air,nggak bangun juga.Huuhh..”keluh kak Fay.

“Pantas saja ada adegan papa menamparku dan ada tetesan air di kepala dan mukaku yang di mimpiku air itu seperti darah papa.Ternyata ulah kak Fay toh,huuhh..”hatiku bergumam dan sedikit ngeri memikirkan mimpi buruk tadi.

“Oke,sekarang kalian sudah bangun dan sudah saatnya kalian siap-siap,”oma mengusap rambutku lembut.

Kamipun beranjak dari tempat tidur dan bergegas untuk mempersiapkan grandfinal nanti.

*MMI*



Menuju tempat lomba,kami diantar om Andre karena tante Adel harus ke rumah pelanggannya untuk mengambil baju-baju yang disewa darinya.

“Tenang Ndon,tante janji nanti tante sama oma bakalan secepatnya datang ke tempat lomba,”katanya saat aku membujuk dia untuk membatalkan acaranya.

“Tante cuma ngambil baju-baju yang disewa sama mereka kok.Tante sudah janji hari ini baju-baju itu mau tante ambil,”terang tante Adel tidak bisa aku rayu.

“Ya sudah deh,tapi tante janji ya,nanti datang secepatnya,”

“Iya sayang,nanti tante barengan berangkatnya sama oma.Kamu hati-hati ya dan harus jadi juara,”tante Adel memberikan semangat kepadaku.

“Pasti tante,Brandon bakal menampilkan yang terbaik.Hehehe..”

*MMI*



Selesai blocking panggung,di luar kami langsung disambut ratusan fans yang sudah mulai berdatangan.Kak JP sendiri tetap berada di belakang panggung karena ternyata dia diundang panitia untuk mengisi acara grandfinal ini.Aku dan kak Fay harus terus menuruti kemauan para fans yang ingin foto bareng,tanda tangan,salaman dan beruntung,kami berdua terhindar dari cubitan,cakaran dan jambakan dari para fans.

Sedang asyik-asyiknya berfoto dengan beberapa fans,aku mendengar ada seseorang yang menegurku.Suara itu sungguh sangat tidak asing lagi di telingaku.

“Wah,sudah punya banyak penggemar rupanya,”sesosok orang yang sudah aku kenal telah berdiri beberapa meter di hadapanku.

“Kak Edo!!”pekikku sambil berlari menghampirinya.Kak Edo kemudian mengangkat tubuhku tinggi-tinggi.Setelah aku diturunkan,aku kembali dikejutkan dengan kedatangan John dan Brian.

“John.. Brian..!!”aku memeluk mereka berdua.Aku masih setengah percaya kalau mereka benar-benar datang ke tempat lomba ini.

“Wah.. kok ndak ngajak-ngajak sih Ndon? Kita kan juga pengen ikut lomba karo kamu,”kata Brian dengan suara medoknya.

“Maaf deh,aku juga nggak sengaja ikut lomba ini.Kak Edo,maafin Brandon ya,Brandon nggak bilang-bilang dulu sama kak Edo.Brandon sudah memakai gerakan-gerakan kak Edo tanpa ijin,”lirihku.

“Justru kak Edo bangga sama kamu Ndon.Akhirnya salah satu murid kakak bisa sampai ke babak ini.Terus berjuang ya Ndon,kita datang ke sini buat ngedukung kamu,”kak Edo mengacak-acak rambutku dengan perasaan bangga.

“Terimakasih kak,”hatiku terasa lega mendengar jawaban dari pelatihku itu.Beban di hatiku rasanya menjadi berkurang karena ucapannya barusan.

“Wah,medok kamu sudah mulai hilang tuh Ndon.Hahaha..”sahut John membuatku mendelik ke arahnya.

“Iya tuh,kelamaan tinggal di Jakarta sih,jadi hilang deh,”timpal Brian.

“Sopo bilang?Aku ora bakal lali karo Suroboyo,”kataku kembali medok.Sejenak kami terdiam dan sedetik kemudian kami tertawa berbarengan.Hahaha..

Selanjutnya,kejutan demi kejutan untukku terus berdatangan.Teman-temanku dari SD Permata Hati 1 dan 2 hadir untuk memberikan support untukku.Bu Rianti dan Bu Sarah datang menghampiriku dan langsung mengucapkan kata-kata selamat kepadaku.

Nissty,Kartika,Nanda,Mita dan hampir sebagian teman sekelasku di SD 1 dulu kini telah tiba di hadapanku.

“Brandon.. Kita di sini buat ngedukung kamu lho.Kamu harus menang ya,”pekik Nissty.

“Iya Ndon,Go NaticNizer!!”teriak teman-temanku yang lainnya.

“Hai Ndon!!”belum sempat aku mengucapkan kata-kata terimakasih,segerombolan temanku yang lain kembali datang mendekatiku.

“Hai Andz,Adhie,Anna,Ziha,Agunk,Risca,Icha,Ayu,Niar,Elma,Novita,Arya,Niar,wah..”aku menyambut mereka satu-persatu.Sebuah kejutan yang sangat mengharukan bagiku.

Di tempat yang agak jauh,kak Fay terlihat sedang mengobrol dengan keempat sahabatnya.Ada kak Ratih,kak Eulli,kak Yhanty serta KAK NAYLA!! Mereka tampak asyik mengobrol melepas rindu.

“Teman-teman,makasih banget ya sudah datang.Aku senang sekali bisa ketemu kalian semua di sini.Aku butuh support dan do'a kalian semua.Aku...”sejenak aku mengusap air mata bahagiaku.Sungguh semua ini membuatku begitu terharu.

“Iya Ndon,kita bakalan terus dukung kamu dan kak Fay.Pokoknya kalian harus menampilkan yang terbaik,”seru Novita yang langsung disambut dengan kata setuju dari teman-temanku yang lain.

Tiba-tiba dari arah belakang,seseorang menutupi mataku dengan telapak tangannya.

“Siapa nih?Tante Adel ya?”aku meraba-raba tangan itu.

“Kalau ndak ketebak ndak..”

“Kak Reny!!”belum selesai kak Reny bicara,aku sudah bisa menebaknya.

“Hahaha.. kok ketebak mulu sih?Padahal tadi suara kakak sudah beda banget,”kak Reny langsung menggendongku.

“Ya tahu lah kak,ngomongnya begitu terus,nggak ada kata-kata yang lain apa?”sahutku geli.

“Dasar!! Hmm.. kenapa kamu ndak ngehubungi kak Reny Ndon?Kirain kakak,kamu batal ikut lomba,”kak Reny menurunkan tubuhku.

“Maaf kak,nomor kakak hilang,”lirihku menatapnya.

“Terus di Jakarta kamu tinggal dimana Ndon?Sama Mas nya Fay ya?Kakak khawatir tahu,”semburnya dengan raut muka serius.

“Nggak kak,kami sempat tersesat,tapi syukurlah kami ditolong kak JP sama tante Adel,”terangku.

“Hah?Kok bisa tersesat sih Ndon?terus tante Adel siapa Ndon?”tanyanya terlihat sangat cemas.

“Ceritanya panjang kak,pokoknya tante Adel itu calon mama Brandon.Kak Reny jangan cemburu ya,”bisikku di telinganya.

“Hahaha.. siapa juga yang cemburu?Justru kak Reny bersyukur,akhirnya kakak bisa terbebas dari ledekan kamu.Hehehe..”kak Reny mencubit pipiku gemas.

“Ngomong-ngomong,mana nih calon mamanya?Kenalin dong Ndon,”pintanya.

“Wah kak,dia belum datang.Mungkin sebentar lagi,”sahutku menatap sekeliling dan tampaknya tante Adel memang belum hadir.

“Brandon!!”seseorang memanggilku.Aku menoleh ke arah suara itu dan sedikit kaget melihat siapa yang datang.

“Tante!!”seruku sambil mencium tangannya.

“Fay mana Ndon?”tanyanya tampak tidak sabar.

“Itu tante! Kak Fay..!!”aku memanggil kak Fay yang masih asyik mengobrol dengan teman-temannya.Kak Fay menoleh ke arahku dan langsung berlari menghampiri kami.

“Mama..Papa.. Kakak..!!”kak Fay memeluk keluarganya satu persatu.

“Kamu bikin kita khawatir Fay.Papa sama mama sudah mau ngelaporin kamu ke polisi gara-gara kamu hilang.Mama sama papa ke Jombang buat nyusul kamu tapi kamu nggak ada di sana.Sampai akhirnya mama dikasih tahu kakak kamu,”beber tante Jessica begitu mencemaskan anaknya.

“Maafin Fay ma,ceritanya panjang pokoknya,nanti Fay ceritain deh,”kak Fay melirik ke arahku.Ada perasaan iri yang begitu besar menyeruak di hatiku.Aku kangen papa,aku juga ingin dipeluk sama orang tuaku.Papa,apakah papa bakalan seperti orang tuanya kak Fay? Atau malah.. ah.. aku bergidik memikirkan mimpiku semalam.

“Selamat datang di Grandfinal Multi Dance Competition,”suara kak Gerry mulai terdengar.Dia membuka acara dengan penuh semangat dan langsung disambut oleh sorak sorai penonton yang sudah memadati area lomba.

“Baiklah,sebagai pembukaan acara ini,kita saksikan aksi dari adik kita.JP Millenix!!”kak JP naik ke atas panggung diiringi tepuk tangan yang sangat meriah dari para penonton.Aku dan kak Faypun ikut memberika applause untuknya.

“Ayo Kak JP... !!”teriakku di telinga kak Fay.

“JP...!!”teriak kak Fay tepat di telingaku juga.Aku menutup kupingku dan berteriak ke arah kak Fay.

“Berisiiikkk..!!”

“Bodooo...!!”balas kak Fay tak mau kalah membuat kami tertawa cekikikan.Hihihihi..

Gebukan drum kak JP berhasil memukau semua yang hadir.Dia membawakan dua buah lagu.Lagu yang pertama berjudul Scream miliknya Avenged Sevenfold disusul dengan lagu kedua yaitu We Will Rock You miliknya Queen.Aku dan kak Fay terkejut ketika lagu itu menjadi yel-yel untuk mendukung kami.

“We Are NaticNizer!! We Are NaticNizer!!”tiba-tiba saja lirik lagu 'We Will We Will Rock You sudah diganti jadi 'We Are NaticNizer.Hahahaha.. semua pendukungku terus berteriak-teriak mengikuti irama gebukan drum kak JP.Waahh.. hebat banget kak JP.Hihihi..

Tidak lama setelah penampilan kak JP selesai panitia memanggil aku dan kak Fay untuk segera bersiap-siap di belakang panggung.Padahal aku masih kangen sama teman-teman,guru dan kak Reny.

“Brandon,Fay,do'a kami menyertai kalian,”

“Makasih kak Reny,makasih teman-teman dan semuanya.Kami berdua akan berusaha menampilkan yang terbaik buat kalian,”aku dan kak Fay berlalu dari hadapan semuanya menuju ke belakang panggung.

*MMI*



Setelah beberapa artis pendukung selesai tampil,akhirnya tiba juga giliran peserta grandfinal untuk perform di atas panggung.Aku dan kak Fay mendapatkan giliran pertama untuk tampil.Sorak-sorai pendukung kami bergemuruh meneriakan yel-yel yang dari tadi mereka serukan.

Diawali dengan backsong miliknya Swizz Beatz (Money In The Bank) aku dan kak Fay naik ke atas pentas.Suara teriakan penonton semakin bergema beradu dengan dentuman suara musik hip-hop dari speaker yang dipasang di sekitar panggung.Aku dan kak Fay semakin bersemangat untuk nge-dance dan tak henti-hentinya memberikan senyuman ke arah pendukung kami.Apalagi saat aku melihat orang-orang yang selama ini aku kenal ikut memberikan support,aku semakin terpacu untuk memberikan penampilan yang terbaik buat mereka.Lagu kedua dance kami diiringi oleh lagu Flo Rida yang judulnya Don't Know How to Act serta klimaksnya penampilan kami ditutup dengan lagu yang berjudul Shone masih miliknya Flo Rida.

Mataku berkeliling menatap penonton yang terus meneriakan namaku dan kak Fay.Teman-teman dan orang-orang yang selama ini berada di dekatku berdiri di deretan paling depan.Mereka semua tersenyum ke arah kami berdua sambil bertepuk tangan dan mengacungkan kedua jempolnya.Sedetik kemudian,pandanganku tertuju pada sosok seseorang.Seseorang yang sangat aku kenal dan aku rindukan.

“Papa!!”dari atas panggung aku bisa melihat sosok papa berdiri di samping kak Reny,di antara teman-teman sekolahku.Entah kenapa hatiku langsung merasa khawatir dengan kehadiran papa di tempat ini.

Aku masih mematung di belakang panggung,belum berani menemui papaku.Mimpi buruk semalam kembali terlintas di pikiranku.Bagaimana kalau mimpi itu menjadi kenyataan?Hiiyy.. aku bergidik.

“Ndon,ayo temuin papa kamu,”ajak kak Fay mulai memegangi tanganku.Aku tetap tak bergeming.Pikiranku mulai kacau dan rasa takut terhadap papaku kini menyeruak di hatiku.

“Aku...”tiba-tiba suara kak Gerry dari atas panggung membuyarkan kata-kataku.Rupanya SO.DC juga sudah selesai tampil.

“Ya,itulah penampilan peserta grandfinal kita.Apakah sudah cukup untuk menentukan juaranya?Wow.. ternyata belum.Para juri memutuskan untuk memberikan tantangan kepada kedua peserta.Apa tantangannya? Dan inilah Multi Dance Competition sesungguhnya.Setiap peserta akan diberikan waktu dua jam setengah untuk mempersiapkan perform selanjutnya.Masing-masing peserta akan mendapatkan satu kaset CD berisi sembilan track dan peserta harus memilih salah satu track untuk dijadikan backsong buat perform mereka nanti.Nah,SO.DC dan BielBrand,selamat berjuang kembali,”tutup kak Gerry disambut oleh teriakan penonton.

“Kak Fay,bagaimana nih?Kita harus nyiapin perform lagi,”aku mulai bingung dan panik.

“Tenang Ndon,kata panitia kita boleh kok dibantuin sama pelatih kita.Tuh pelatih kak Fay sudah nungguin,”kak Fay menunjuk seorang kakak perempuan yang sedang berdiri di dekat ruangan yang disediakan panitia.Ruangan itu akan kami gunakan untuk latihan.Ternyata kak Edo,pelatihku juga sudah menungguku di sana.Wah.. bagus deh,berarti kami punya dua pelatih.Hehehe...

Ketika aku sedang berjalan menuju ruanganku,seseorang menghadangku.Orang yang ingin aku hindari keberadaannya kini telah menghalangi jalanku.

“Brandon,”papa berdiri beberapa meter di depanku.Aku terpaku menatapnya,memandang orang yang selama ini aku rindukan.Ingin rasanya aku berlari dan memeluknya.Tapi mengingat mimpi buruk semalam,aku urung melakukannya.

“Apa yang harus aku lakuin?Aku takut.Aku takut papa menyeretku pulang.Aku takut dia marah dan memaksaku meninggalkan semua ini.Aku takut seandainya mimpi semalam menjadi kenyataan dan aarrgghh.. nggak.. nggak.. Aku nggak boleh egois,aku nggak boleh melawan papa.Aku harus siap menerima keputusan papa walaupun nantinya aku kecewa.Ya,kali ini aku harus menuruti kata-kata papaku,”bathinku terus berperang.

“Brandon,”papa menghampiriku dan akupun berlari menyongsongnya.

“Papa...!!”aku memeluk papaku erat.Dia membalas pelukanku lalu mengusap-usap punggungku lembut membuat aku tak bisa menahan tangisanku.

“Pa,maafin Brandon pa,Brandon sudah bohong sama papa.Brandon nyesel pa.. Brandon nyesel.. Brandon janji sama papa nggak bakalan bohong lagi.Sekarang terserah papa pa.. Papa mau marahin Brandon,mukul Brandon,ngajak Brandon pulang,terserah pa.. Brandon bakalan nurutin apa kata papa asalkan papa jangan ninggalin Brandon.. Hiks.. hiks.. hiks.. Brandon kangen papa,Brandon sayang banget sama papa.Papa jangan tinggalin Brandon pa..”aku terisak di pelukannya.Papa melepaskan pelukanku lalu menatapku lekat-lekat.

“Brandon,papa juga sayang sama kamu.Papa kangen banget sama kamu.Kak Reny sudah cerita semuanya sama papa.Papa bangga sama kamu Ndon.Papa bakalan selalu dukung kamu dan kamu jangan pernah berpikiran kalau papa bakalan ninggalin kamu.Maafin papa sayang,selama ini papa terlalu egois.Papa terlalu memaksakan kehendak papa.Papa lupa kalau anak papa sudah besar.Sekarang kamu berhak nentuin pilihan kamu.Kak Nayla butuh kamu Ndon,do'a papa cuma buat kamu.Tapi papa nggak bakalan maafin kamu kalau sampai kamu nggak jadi juara.Hehehehe..”papa mengusap-usap rambutku.Dia kembali memelukku,mencium kening dan pipiku berkali-kali.

“Makasih pa.Brandon yang salah.Brandon yang egois.Brandon selalu saja nyusahin papa,bikin papa khawatir,sedih,kecewa,Brandon... hiks.. hiks.. hiks..”aku kembali terisak di pundaknya.

“Ssstt.. sudahlah sayang,papa kan sudah bilang,papa sayang sama kamu.Papa bakalan sakit kalau marahin kamu,membentak kamu.Sekarang kamu harus buktiin sama papa kalau kamu bisa memberikan yang terbaik buat semua yang ada di sini.Lihatlah sekelilingmu sayang,berapa banyak orang yang mendukung kamu dan kak Fay?Jangan kecewakan mereka ya,”dengan tangannya papa menghapus air mataku.Aku tersenyum ke arahnya dan papa membalas senyumanku.

“Terimakasih pa,Brandon sayang banget sama papa.Papa nggak ada duanya di dunia ini.Cuma papa yang ngertiin Brandon,hanya papa yang sayang banget sama Brandon.Brandon janji bakalan ngasih yang terbaik buat papa dan pendukung Brandon.Do'ain Brandon ya pa,”

“Iya sayang,pasti papa do'ain.Sudah sana temuin kak Fay,dia sudah nungguin kamu buat latihan,”aku beranjak meninggalkan papaku setelah mencium pipinya terlebih dahulu.

Kami,peserta grandfinal ini ditempatkan di ruangan yang berbeda.Aku,kak Fay,kak Edo dan kak Karin mulai sibuk memilih track yang akan aku dan kak Fay gunakan untuk backsong nanti.

“Kak Edo,coba yang tadi deh,track ke tujuh,”kak Fay meminta kak Edo untuk memutar kembali track ke tujuh dan...

“Ini saja kak!Gimana Ndon?Ada lagu kesukaannya tante Adel,yang biasa kita pakai buat latihan tari latin.Hehehe..”kak Fay mengajakku menari latin.Kami berdua tetawa-tawa senang sambil menari.

“Yakin kalian mau track yang ini?”kak Karin meminta kepastian kami yang langsung kami jawab dengan anggukan kepala.

“Ya sudah,sekarang kita mulai latihan,”

Kamipun mulai berlatih.Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan gerakan yang pas.Kak Edo dan kak Karin bekerjasama dengan baik.Satu setengah jam saja,mereka sudah menemukan gerakan yang cocok dengan backsongnya.Untung saja untuk tari latin aku dan kak Fay tidak perlu latihan lagi karena sudah sering diajarin sama tante Adel.Akhirnya backsong berdurasi tiga setengah menit itupun telah selesai kami tuntaskan gerakannya.

“Yeaahh!!”kami semua bertepuk tangan setelah aku dan kak Fay melakukan gladi bersih.Masih ada sisa waktu sepuluh menit lagi buat tampil.

“Kak Dimas,boleh pinjam HP nya ndak?”tanyaku ke kak Dimas yang kebetulan nongol di depan pintu.

“Nih,memangnya buat apaan?”tanyanya sambil menyodorkan handphone miliknya.

“Mau nelpon tante Adel,”jawabku.Aku segera menekan nomor HP tante Adel yang sudah aku hafal nomornya.Dari percakapan di telepon,aku tahu ternyata tante Adel dan oma sudah berada di parkiran.Wah.. akhirnya mereka datang juga.Fiuuhh...

Kak Gerry mulai memanggil group Switch On Dance Crew setelah sebelumnya salah seorang artis pengisi acara telah turun dari atas panggung.Benar dugaanku,mereka membawakan tarian full hip-hop dengan sangat baik.Tapi sayang,gerakan yang mereka tampilkan kebanyakan gerakan-gerakan yang sudah digunakan di perform-perform sebelumnya.

Saat tiba giliranku dan kak Fay,aku sedikit was-was.Di belakang panggung tante Adel tersenyum ke arahku,memberikan keyakinan kalau aku dan kak Fay bisa menyelesaikan perform ini dengan sempurna.Kak Edo dan kak Karin juga begitu.Saat aku memandangnya,mereka mengangguk dan mengangkat kedua jempolnya ke arah kami berdua.Aku dan kak Faypun naik ke atas panggung dengan penuh percaya diri.

Dimulai dengan lagu Toyfriend miliknya David Guetta featuring Wynter Gordon,kami melakukan gerakan-gerakan dengan kompak tanpa melepaskan senyuman ke arah penonton serta dewan juri yang berada di depan panggung.Aku lihat papa tak henti-hentinya berteriak ke arahku sambil tersenyum senang.Wahh,di samping papa ada om Jun,tante Diant sama Baim.Rupanya mereka juga sudah tiba di tempat lomba untuk memberikan dukungan buatku.

Melihat senyuman dan dukungan papa yang begitu besar,akupun semakin terpacu untuk melakukan gerakan-gerakan yang baru saja diajarkan kak Edo dan kak Karin.Di lagu yang kedua,Never Say Never miliknya JB,semua berjalan lancar dan akhirnya lagu On The Floor (Pittbul ft. Jennifer Lopez) menutup penampilan aku dan kak Fay.Kami berdua menari latin dengan lincah dan energik.Walaupun gerakannya belum sesempurna tante Adel,tapi itu cukup membuat penonton dan juri-juri yang hadir memberikan standing aspplause untuk penampilan terakhir aku dan kak Fay.

Tepuk tangan dan sorak sorai bergemuruh meneriakan nama BielBrand serta yel-yel NaticNizer.Ketika aku sudah turun dari atas panggungpun,teriakan itu masih terus bergema.Sungguh luar biasa dukungan mereka terhadap aku dan kak Fay.

Sementara kak Gerry mengumumkan kalau keputusan dewan juri akan diberitahukan beberapa saat lagi,aku segera menemui kak JP,tante Adel dan oma di belakang panggung.

“Kalian hebat,”pekik kak JP menyambut kami,”

“Selamat sayang,kalian tampil dengan sempurna,”seru tante Adel tak kalah senang sedangkan oma langsung memeluk dan mencium pipiku.

“Cucu oma memang hebat,”sahutnya riang.

“Tante,papaku ada di depan.Ayo tante,nanti Brandon kenalin,”aku menyeret tante Adel.

“Ta.. tapi Ndon..”

“Ayo tante,katanya pengen tahu papa Brandon.Jangan malu-malu dong,”aku terus memaksa dia untuk mengikutiku.Sejenak tante Adel dan oma saling berpandangan.

“Brandon!!”tiba-tiba saja papa muncul di hadapanku ditemani om Jun,tante Diant dan Baim di belakangnya.

“Papa..!!”aku memeluknya dan dia tertawa senang karena melihat penampilanku tadi.

“Kamu hebat sayang,tapi nakal,”papa memencet hidungku.Aku tertawa-tawa mendengar celotehnya.

“Pa,kenalin dong.Ini tante Adel.Selama ini Brandon tinggal di rumahnya pa,”pandangan papa tertuju ke arah orang yang selama ini sudah aku anggap seperti mamaku sendiri.

“Lia!!”papa terkejut melihat sosok tante Adel.Kedua mata mereka kini saling berpandangan.

“Mas..”sahut tante Adel lirih.Matanya mulai berkaca-kaca,seperti ingin menangis.Begitupula dengan oma,keduanya seperti sudah sangat mengenal papaku.

“Papa kenal tante Adel?”tanyaku memecah kebisuan yang beberapa saat menyelimuti kami.

“Di.. dia.. Mama kamu Ndon,”sahut papa menatapku.

“Ap.. apa?Mama Brandon?Ta.. tapi kata papa,mama Brandon sudah meninggal,”aku terkejut mendengar pernyataan papaku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku tak percaya.Benarkah tante Adel mamaku?Pasti papa mau ngerjain aku nih,pikirku.

“Maafin papa Ndon,papa sudah bohong sama kamu,”

“Nggak!Papa pasti bercanda,”aku memotong ucapannya.Aku belum percaya dengan apa yang diucapkan papaku.

“Itu benar sayang,tante Adel Lia mama kandung kamu,”ujarnya lirih.Aku bisa melihat dari mata dan ekspresi wajah papa kalau kali ini dia tidak sedang berbohong.Entah kenapa,aku tidak merasa senang mendengar berita itu.Hanya perasaan tak percaya dan kekecewaan yang begitu besar terhadap papa yang hadir di benakku.Kalau benar tante Adel mamaku,kenapa papa,orang yang selama ini aku sayangi dan aku percayai tega membohongi aku?Kenapa papa tega bilang kalau mama sudah meninggal?Papa keterlaluan.Apa papa tidak pernah berpikir kalau selama ini aku sangat merindukan mama?Papa…

“Kenapa papa bohongin Brandon pa?”tanyaku dengan suara bergetar,mencoba menahan amarahku sama papa.

“Maafin papa Ndon,papa sayang sama kamu.Papa takut kehilangan kamu,”papa mulai mendekatiku lalu berusaha memelukku.Tapi aku segera menghindarinya.

“Nggak!Kalau papa sayang,kenapa mesti bohong pa?Kenapa papa tega sama Brandon?Hiks.. hiks.. hiks..”aku tak kuasa menahan tangisanku.

“Ndon,maafin papa,”papaku terus memohon.

“Apa itu benar om?”aku meminta kepastian om Jun yang dari tadi hanya diam mematung.

“Ben.. benar Ndon,”tuturnya lemah.

“Kenapa kalian tega bohongin Brandon?Kenapa kalian sembunyiin ini semua dari Brandon?”teriakku.Aku tak bisa lagi mengendalikan amarahku.

“Brandon,oma mohon,maafin mereka ya sayang.Seharusnya kamu marahnya bukan sama mereka,tapi sama oma.Oma yang salah sayang,oma menyesal sudah misahin papa dan mama kamu,”oma membela papa dan om Jun.

“Kalian semua sama saja!Brandon benci.. Brandon benci semuanya…”aku berlari meninggalkan area belakang panggung.Aku marah,aku kecewa dengan semua ini.Aku tidak tahu apa yang ingin aku lakukan.Yang pasti,sekarang aku ingin jauh dari mereka.Aku tidak ingin melihat mereka ada di dekatku.Teriakan mereka yang menyuruhku untuk kembali sama sekali tidak aku hiraukan.

“Brandonn..”kak Fay dan kak JP tampak mengejarku.Aku berlari keluar gedung dan baru berhenti ketika aku telah tiba di halaman gedung tempat lomba itu.

“Brandon tunggu!!”kak JP dan kak Fay terus mengejarku.

“Kenapa kamu marah Ndon?Harusnya kamu senang.Bukankah selama ini kamu ingin tante Adel menjadi mama kamu?”tanya kak JP setelah mereka berhasil mendekatkan jarak denganku.

“Tapi nggak kayak gini caranya kak.Papa sudah bohongin aku,”sergahku menatap tajam ke arah mereka berdua.

“Terus selama ini apa yang kamu lakuin sama papa kamu?”kak Fay membalas ucapanku,berbalik menyerangku.

“Itu lain kak,aku..”

“Sama saja Ndon,kamu juga sudah bohongin papa kamu.Iya kan?”kak Fay memotong ucapanku.Kata-katanya membuatku terpojok.

“Kak Fay nggak ngerti.Papaku sudah keterlaluan kak.Aku benci papa,”cetusku.

“Jangan ngomong kayak gitu Ndon,papa kamu sayang sama kamu.Dia punya alasan sendiri untuk berbohong tentang mama kamu,”lanjut kak JP.

“Yang namanya bohong tetap saja bohong Ndon.Kak Fay tanya sama kamu,sekarang mau kamu bagaimana?kamu sudah tahu yang sebenarnya.Terus setelah ini kamu mau gimana Ndon?”kak Fay terlihat kesal.Aku tertunduk tidak berani menjawab pertanyaannya.

“Maafin kak Fay sama kak JP juga Ndon.Sebenarnya kita sudah tahu dari dulu kalau tante Adel itu mama kamu,”aku kembali dibuat terkejut dengan kata-kata kak JP barusan.

“Jadi?Kenapa kak?Kenapa kalian nggak ngasih tahu Brandon?”bentakku kesal.Tega sekali mereka merahasiakan semua ini dari aku.

“Sejak kapan kalian tahu?”tanyaku lagi.

“Malam itu,malam dimana siangnya kamu dan Fay sudah melewati babak penyisihan.Ketika kakak sama Fay habis dari toilet,kita mendengar suara tangisan dari kamar tante Adel.Ternyata itu suara tangisan oma dan tante Adel Ndon.Mereka tampak sedang berbicara serius,awalnya kak JP mengira kalau mereka sedang bertengkar,kak JP kira mereka sedang membicarakan tante Adel yang gagal menikah dengan papaku.Tapi ternyata bukan,mereka sedang membicarakan masa lalunya.Kamipun menguping percakapan mereka dari balik pintu kamar.Dari situ kita tahu cerita yang sebenarnya tentang mama kamu.Memang,waktu kamu masih berumur dua tahun,mama kamu cedera dan sempat dirawat di rumah sakit.Tante Adel butuh biaya banyak untuk operasi kakinya.Tapi sayang,ketika itu papa kamu tidak punya uang untuk membiayainya.Padahal mama kamu haus segera dibawa ke Jakarta untuk dioperasi karena kalau operasi itu tidak segera dilakukan,kaki mama kamu harus diamputasi dan itu berarti mama kamu bakalan tidak bisa berjalan seumur hidup.Opa dan oma kamupun datang menjenguk tante Adel.Seperti yang diceritakan papa kamu,orang tua mamamu tidak pernah merestui pernikahan papa dan mama kamu Ndon.Mereka bersedia membantu untuk membiayai semua operasi mama kamu dengan satu syarat.Papa dan mama kamu harus bercerai.Sebenarnya mama kamu tidak mau Ndon,dia tidak mau pisah sama om Addie dan kamu.Tapi papa kamu,walaupun di sisi lain dia juga tidak mau bercerai dengan mama kamu tapi dia juga tidak mau mama kamu lumpuh seumur hidup.Akhirnya dengan sangat terpaksa,papa kamu menerima persyaratan yang diajukan opa dan oma kamu,”kak JP berhenti sejenak.Aku tertegun mendengar cerita kak JP,kemudian kak Fay melanjutkan ceritanya.

“Ndon,papa kamu sayang sama kamu.Dia tidak bermaksud membohongi kamu.Mungkin dia pikir,belum saatnya kamu tahu yang sebenarnya tentang mama kamu.Dia nggak mau kehilangan kamu.Dia takut kalau kamu tahu yang sebenarnya,kamu bakalan nyari mama kamu terus kamu lebih memilih tinggal sama mama kamu Ndon,”

“Tapi kenapa mama nggak pernah sekalipun datang menjengukku kak?”aku memotong ucapan kak Fay.

“Ndon,sejak kepindahan kamu dan papa kamu dari Yogyakarta ke Surabaya,mereka tidak pernah berhubungan lagi.Papa kamu telah melaksanakan janjinya sama opa dan oma kalau dia tidak akan pernah menghubungi tante Adel lagi,”timpal kak JP.

“Kalian tahu banyak tentang mama dan papaku dari dulu.Kenapa baru ngasih tahu sekarang kak?”aku meminta penjelasan kak Fay dan kak JP.

“Ndon,waktu kita nguping pembicaraan oma dan tante Adel,kita ketahuan.Kita disuruh berjanji untuk tidak memberitahukan semua ini dulu sama kamu.Tante Adel takut,dia takut konsentrasi kamu untuk ikut lomba ini jadi buyar.Dia takut kamu marah,kecewa dan nggak mau tinggal lagi di rumahnya.Dia sangat sayang sama kamu Ndon.Kadang kak JP suka lihat mama kamu menangis sendirian sambil memeluk dan mencium baju yang dulu pernah kamu kasih ke dia.Kamu ingat kan?Baju yang pernah kamu pakai waktu pertama kali kamu datang ke rumah mamamu?”aku merenungi kata-kata kak JP.Ya,aku ingat.Baju yang waktu itu aku kasih tante Adel,waktu dia mau membelikanku baju baru,katanya sih bajuku itu buat contoh supaya tidak salah ukuran.

“Ndon,oma juga sangat sayang sama kamu.Dia menyesal sudah misahin papa sama mama kamu.Sekarang kamu mau kan maafin mereka?”kak JP dan kak Fay memandangku.Sejenak aku terdiam,mencerna kata-kata mereka.Aku tahu,tidak ada gunanya aku marah sama papa,mama dan oma.Semuanya sudah terjadi dan mungkin ini takdirku,inilah jalanku,dipertemukan dalam satu moment seperti ini.Ya,tidak ada gunanya aku marah marah lagi sama keluargaku.Akupun berlari meninggalkan kak Fay dan kak JP.

“Ndon.. mau kemana?Sudah dong.. jangan marah terus..”mereka berdua mengejarku yang kembali masuk ke dalam gedung.

“Ndon.. tungguiin!”kak Fay dan kak JP terus berlari mengejarku sampai akhirnya aku berhenti berlari.Sekarang jarak mereka sudah kembali dekat denganku.

“Ndon,sampai kapan kamu marah sama mereka?Kak JP mohon Ndon,maafin semuanya ya?”

“Siapa juga yang masih marah?Orang Brandon kebelet pipis.Hahahaha…”aku buru-buru masuk ke toilet.Kak Fay dan kak JP tampak bengong sambil ngos-ngosan.

“Brandooonnn.. !! Dasar jaiill.. Resee.. Nakaaallll.. Nyebeliiinn.. Kita sudah cape-cape ngejar juga,”teriakan kak Fay dan kak JP dari luar membuatku tertawa-tawa di dalam toilet.Hahahaha…

*MMI*



“Papa..”panggilku.Papa yang tampak sedang mengobrol bersama mama,oma serta yang lainnya menoleh ke arahku.

“Brandon!”papa menghampiriku dan memelukku erat.

“Maafin papa Ndon,papa sudah bohong sama kamu.Papa sudah bikin kamu kecewa.Maafin papa sayang,”bisiknya di telingaku.

“Brandon juga minta maaf pa,Brandon sudah bohongin papa juga.Maafin Brandon juga ya pa,”balasku sambil mencium pipi papa.

“Jadi kamu sudah maafin papa?”tanya papa menatapku lekat-lekat.

“Papa maafin Brandon kan?”sahutku.

“Papa dulu dong Ndon,kamu maafin papa nggak?”lanjutnya.

“Nggak mau,jawab dulu dong,Brandon dimaafin nggak?”aku tidak mau kalah membuat semua yang menatapku terlihat tidak sabar.

“Pokoknya papa dulu yang dimaafin sama kamu,”

“Aahh.. pokoknya Brandon dulu,”aku bersikeras.

“Hey Mas,Brandon.Maaf,durasi habis,”potong om Jun yang disambut oleh tawa dari semua yang ada di sekelilingku.

“Baiklah,papa sudah maafin kamu Ndon,”aku dan papa kembali berpelukan.

“Maafin Brandon juga sudah bohongin papa,”sambutku terharu.

“Mama..”aku berbalik menatap orang yang selama ini ingin aku jumpai.Sekarang dia benar-benar telah berada di hadapanku.

“Brandon,”lirihnya tak bisa menahan haru.Aku menghampirinya dan memeluk mamaku erat.

“Mama.. aku sayang sama mama,”aku mencium pipi mamaku.

“Brandon,maafin oma ya sayang.Oma menyesal,”oma ikut memelukku.Aku memandang oma lalu tersenyum padanya.Dia tampak menangis sambil menatapku dengan penuh perasaan bersalah.Aku segera menghapus air mata oma dengan jari-jari kecilku.

“Sudahlah oma,Brandon sudah maafin semuanya.Brandon sayang sama oma.Oma jangan nangis lagi ya,”oma kembali mememelukku dan tetap terisak di pundakku.

“Makasih sayang.Kamu memang cucu oma yang paling baik.Oma juga sayang banget sama kamu Ndon,”lirihnya.

“Inilah saat-saat yang sudah kalian tunggu-tunggu.Siapakah yang akan menjadi juara di kompetisi kita kali ini?Switch On Dance Crew atau BielBrand Kids Dancer?Hmm.. di tangan saya sudah ada satu buah amplop berisi nama pemenang yang telah ditentukan oleh dewan juri kita,”kak Gerry sudah berada di atas panggung dengan sebuah amplop tertutup di tangannya.Semua mata penonton yang hadir menatap ke arahnya dengan penuh rasa penasaran.Aku semakin deg-degan saat amplop itu perlahan-lahan mulai dibuka oleh kak Gerry.Tanganku semakin erat menggenggam tangan papa dan mamaku.Oma berdiri di belakang tanpa berhenti mengusap-usap pundakku.Kak Fay yang berada di dekatku tampaknya juga sedang was-was.Dia tak henti-hentinya tersenyum hambar ke arahku seolah sudah pasrah dengan keputusan para juri nanti.Ya,walaupun kita tidak juara,toh kita sudah sampai ke babak grandfinal.Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa bagiku dan kak Fay.Aku kembali teringat perjuangan aku dan kak Fay untuk datang ke Jakarta ini.Mengikuti lomba dengan modal nekat dan bersyukur karena kami ditolong oleh kak JP dan mamaku sendiri yang awalnya sama sekali tidak aku kenal.Sekarang,kami telah berdiri di sini,dikelilingi oleh orang-orang yang kami sayangi dan cintai sepenuh hati,menanti keputusan yang akan menentukan nasib kami ke depan.

“Dan selamat…”kak Gerry berhenti sejenak membuat semua yang hadir tidak berani membuka suara.Semua hening menantikan kelanjutan kata-kata kak Gerry.Aku menelan ludahku dan sepertinya jantungku semakin berdegup kencang.

“Jangan kemana-mana setelah yang satu ini… Eh… nggak ding.. hehehe.. Langsung saja Switch On Dance Crew !! Kalian berada di posisi Runner-Up dan kita sambut juara kita kali ini BielBrand.. Kids.. Dancerrr… !!!”

“Yeaahhh…”seluruh penonton bergemuruh meneriakan namaku dan kak Fay,BielBrand serta NaticNizer.Aku seakan tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan.Ini semua seperti mimpi bagiku.Papa merangkulku dan mengangkatku tinggi-tinggi.Kak Fay dan keluarganya tampak menangis bahagia.Kak Reny,kak JP,guru-guru dan teman-temanku ikut larut dalam kegembiraan.Hari ini semua orang yang aku sayangi terlihat begitu senang.Apalagi aku,aku bersyukur bisa bertemu mamaku.Aku tahu perjalananku masih panjang.Ini baru awal,ini baru satu dari sejuta impianku yang belum kuraih.Masih banyak yang aku inginkan,masih banyak yang harus aku perjuangkan.Hari ini satu mimpi telah kugenggam dan esok hari,aku harus mulai mengejar mimpi baru yang lebih menantang.Hmm.. untuk saat ini,mimpiku selanjutnya aku ingin mempersatukan papa dan mamaku seperti dulu.Membuat keluargaku menjadi keluarga yang utuh,lengkap dan bahagia.

Terimakasih kawan,terimakasih sahabat,terimakasih semuanya.Do’a kalian sangat berarti bagiku.

I LOVE YOU ALL..

Sampai jumpa di ceritaku yang lainnya.



BRANDONIZER… KOMPAK ABBEZZ…

SALAM UTBE ( UNITED TO BE EXCITED ) :-D





*SELESAI*









Sahabat ( Meraih Mimpi )



#Kawan,cobalah petikan bintang yang di sana

Agar diriku kan slalu semangat karna memandangi sinarnya

Hey kawan,nyanyikan sebuah lagu tentang kita

Tentang indahnya persahabatan yang kita jalani bersama



Reff: Harapan kita semoga kan tetap berpijar

Agar sinarnya mampu menerangi

Jalanku tuk meraih mimpi



Rintangan yang datang tak kan surutkan tekad kita

Tuk tetap bersama menggapai impian

Persahabatan.. Abadi slamanya…



OST.Novel Mencoba Meraih Impian

By: Chu-X




*MMI*

Minggu, 12 Juni 2011

IMPIANKU,AKANKAH TERWUJUD?? *last part*


            Kutatap stage yang akan kami gunakan untuk Grandfinal yang beberapa jam lagi akan digelar.Ada berbagai perasaan yang berkecamuk di hatiku.Senang,haru,bangga dan was-was menanti saat-saat aku dan kak Fay tampil memberikan yang terbaik untuk Grandfinal nanti.Kak Fay berdiri di samping kananku,menggenggam erat tanganku seolah memberikan keyakinan kalau aku dan dia bisa menjadi yang terbaik.Kubalas genggamannya dan kami seperti saling memberikan energi semangat ke dalam diri masing-masing.Kak JP yang berdiri di samping kiriku ikut menggenggam tanganku.Ya,aku harus bisa,aku harus menjadi yang terbaik dan membuktikan sama papa kalau aku bisa berhasil dengan nge-dance.
            Perasaan bangga kian muncul ketika para penonton yang hadir mengibarkan bendera dan spanduk bertuliskan "BielBrand" dan "NaticNizer" serta gambar aku dan kak Fay dengan ukuran super besar.Tapi di sisi lain,hatiku juga sedih karena papa tidak hadir mendukungku.Ah.. papa.. seandainya papa ada di sini ikut memberikan support untuk Brandon,pasti Brandon akan sangat bahagia sekali.Mungkin Brandon akan menjadi orang yang paling bahagia seandainya papa ada di antara para pendukung Brandon dan kak Fay,"NaticNizer".
            Dari belakang stage yang megah dan indah,mataku berkeliling menatap orang-orang yang mendukungku.Dan.. ah.. apa aku tidak salah lihat?Benarkah? Aku mengucek-ucek mataku.Benar.. itu papa.. papa sedang mengobrol dengan kak Dimas,kak Sam dan kak Doni.
            Jantungku berdetak kencang,apakah aku senang?Apa aku bahagia?Ya,tentu saja,tapi kenapa perasaan itu bercampur dengan rasa khawatir?Aku takut seandainya papa marah padaku dan ah.. semoga saja semua berjalan sesuai dengan keinginan hatiku.
            Kulepas genggaman kak Fay dan kak JP.Aku berlari meninggalkan kedua sahabatku untuk menyongsong papaku.Aku rindu sama dia,aku ingin memeluknya.Rasanya sudah bertahun-tahun aku jauh darinya.Aku ingin merasakan dekapannya,ciumannya.Papa.. Brandon kangen banget sama papa.
            "Papa.... !!"teriakku menghambur ke arahnya.Papa yang sedang mengobrol dengan kak Dimas,kak Sam dan kak Doni segera memalingkan wajahnya ke arahku.Aku berlari mendekatinya dan...
            "Brandonn !! Apa-apaan kamu ini?"papa menghentikan tubuhku yang hendak memeluknya.Kenapa papa mencegahku untuk mendekapnya?Apa papa nggak kangen sama Brandon?Kenapa papa malah menatapku tajam?Tatapannya seperti mau menerkamku.Ini bukan papa yang aku rindukan,ini bukan seperti papa yang aku bayangkan.
            "Papa,biarin Brandon memeluk papa.. Brandon kangen sama papa,"kata-kata itu tidak mampu aku ucapkan.
            "Brandon,kita pulang,"katanya datar.
            "Pa.. jangan pa.. Brandon harus ikut lomba pa.."
            "Papa nggak peduli !!"bentaknya memotong ucapanku.
            "Ayo pulang !!"ajaknya lagi.
            Aku diam mematung,menatap kak Dimas,kak Sam dan kak Doni bergantian untuk meminta bantuannya.
            "Om tolong om.. kita sudah terikat kontrak dengan sebuah stasiun TV,kalau acara ini gagal,kita bisa di tuntut ganti rugi dan itu akan berimbas kepada Brandon dan om juga,"kak Dimas mencoba membujuk papa dengan sedikit ancaman.
            "Saya tidak peduli,saya tidak pernah mengijinkan anak saya untuk mengikuti acara seperti ini,"papa tetap bersikeras.
            "Tapi buktinya ada om,om telah menanda tangani surat ijin orang tua.Kami bisa menuntut om,"ucapan kak Sam membuat papa kembali menatap tajam ke arahku.Aku menunduk tak berani menatapnya.
            "Brandon.. !! Kamu.. ?? Arrghh.. bagaimana bisa.. ?? Ayo kita pulang Brandon !!"papa memegang pergelangan tanganku lalu menyeretku menuju ke parkiran.
            "Pa.. lepasin Brandon pa.. Brandon harus ikut nge-dance... Lepasin tangan Brandon pa.."aku mencoba melepaskan pegangan papa yang begitu kuat sampai membuat tanganku terasa sakit.
            "Pa.. lepasin pa.. demi teman Brandon pa.. dia butuh uang untuk operasi matanya... !! Pa... !!"aku terus berontak membuat papa sedikit kesulitan untuk menyeretku.
            "Brandon !! Papa nggak peduli.Kenapa kamu jadi anak pembangkang seperti ini heh.. ??"papa terus menarikku.Aku memukul-mukul lengan papa yang mencengkeram sebelah pergelangan tanganku.
            "Lepasin tangan Brandon pa.. Brandon harus nge-dance.. Brandon pengen nge-dance.. !!"aku terus meronta dan tidak berhenti memukul-mukul tangannya dan itu ternyata membuat papa semakin kesal.
            "Brandonn !! PLAKK !!"sebuah tamparan papa membuatku terhuyung dan  tersungkur di lantai.Aku menangis memegangi pipiku.Rupanya papa sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.Aku lihat tangan papa bergetar setelah menamparku.Aku menangis dan tak mampu bangun dari lantai.Papa.. kenapa pa?Seumur hidup Brandon,papa nggak pernah kasar sama Brandon,papa nggak pernah mukul Brandon,nampar Brandon.Tapi sekarang?Papa sudah berani nampar Brandon,papa sudah nggak sayang lagi sama Brandon.
            Semua orang yang ada di sekelilingku menatapku iba,namun tidak ada seorangpun yang berani mendekat.
            "Pa.. hiks.. hiks.. hiks.. sekali ini saja pa,biarin Brandon nge-dance.. Brandon janji pa.. hiks.. hiks.. hiks.. Brandon janji setelah ini Brandon nggak bakal nge-dance lagi.. hiks.. hiks.. hiks.."aku memohon sama papa.
            "Sudah berapa kali kamu berjanji heh?Papa sudah tidak percaya lagi sama kamu !! Papa sudah cape dibohongin terus sama kamu.Kamu memang nggak pernah kapok,membangkang terus.Harus bagaimana lagi papa mendidikmu?"kata-kata papa membuat aku tak bisa berkata-kata lagi.Aku hanya bisa menangis,berharap air mataku mampu meluluhkan hati papa.
            "Sekarang kita pulang !! Kamu jangan membantah papa lagi,"papa membangunkanku dan kembali menyeretku yang kali ini tak lagi memberikan perlawanan apapun sama papa.
            Kak Dimas,kak Sam dan kak Doni mengikuti kami.Mereka terus berusaha membujuk papa.Tapi papa tidak menghiraukan kata-kata mereka.Papa terus membawaku menuju area di mana mobil papa terparkir.
            "Pa.. tolongin Brandon pa.. sekali ini saja pa.. Brandon janji pa.. Brandon nggak bakalan bohong lagi sama papa...!!"aku mulai berani berbicara kembali saat aku dipaksa masuk ke dalam mobil papa.Aku duduk di depan,di samping papa yang sudah siap mengemudikan mobilnya.Papa tak peduli dengan kak Dimas,kak Sam dan kak Doni yang menggedor-gedor kaca jendela mobilnya.
            "Brandon!!Sudah berapa kali papa memberikan kesempatan sama kamu?Sudah berapa kali juga kamu merusak kepercayaan papa?Papa kecewa sama kamu.Jangan harap kamu bisa nge-dance lagi.Papa akan memasukan kamu ke asrama,"kata papa sambil menjalankan mobilnya,meninggalkan kak Sam,kak Dimas dan kak Doni yang sudah menyerah untuk membujuk papa.
            "Pa,papa nggak pernah ngertiin Brandon.. !!Papa jahat.. hiks.. hiks.. hiks.. Papa udah nggak sayang sama Brandon !! Brandon benci papa.. Brandon nggak mau tinggal sama papa... Hiks.. hiks.. hiks.. "aku berteriak-teriak tak karuan.
            "Kamu mau tinggal sama siapa kalau tidak sama papa heh?Berani sekali kamu bicara seperti itu sama papa.Kamu benar-benar sudah tidak terkontrol !! Papa nggak pernah ngajarin kamu jadi pembangkang,pembohong.. kamu ini..."papa kembali fokus ke kemudinya.Aku mulai kesal sama papa.
            "Brandon nggak peduli.. !! Papa nggak bisa larang Brandon.. Sampai kapanpun Brandon akan nge-dance.. !!"aku terus meracau dan kali ini aku berulah dengan melampiaskan kekesalanku pada semua benda yang ada di depanku.DVD papa aku pukul-pukul,cassette koleksinya aku buat menjadi berantakan.Tissue yang ada di situ aku acak-acak membuat bagian depan mobil papa seperti kapal pecah.Aku benar-benar tidak bisa lagi menahan kekesalanku sama papa.
            Papa mencoba menghentikan aksiku dengan tangan kirinya.Sementara tangan kanannya terus mengemudikan mobil.Ulahku tidak bisa dihentikan.Sambil menangis,aku semakin liar menjalankan aksiku.
            "Brandon !! Hentikan Brandon !!"bentaknya.Aku tidak peduli dengan bentakannya.Aku terus menendang-nendang semua yang ada di depanku.Konsentrasi papa terpecah antara mengemudi dan menghentikan aksiku.
            "Papa.... !!"teriakanku membuat papa menatap ke depan.Sebuah truk yang menyalip kendaraan di depannya dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan,kini hanya beberapa meter di depan mobil papa.Papa berusaha menghindari tabrakan dengan membanting setir ke arah kiri,lalu dia melepaskan kemudinya.Papa merangkulku,memelukku yang tak berani membuka mata.Aku menunduk di balik tubuh papa yang melindungiku.Guncangan yang begitu keras aku rasakan berkali-kali.Mobil papa naik ke trotoar dan berhenti setelah menabrak tembok ruko yang ada di pinggir jalan raya.
            Perlahan-lahan aku membuka mata,keringat dingin keluar dari tubuhku yang masih ada di pelukan papa.Sesuatu yang dingin juga kurasakan ada di kepalaku.Seperti ada air yang menetes dari sana.Ku usap rambutku dan tanganku bergetar setelah melihat benda cair berwarna merah kini ada di telapak tanganku.Aku beranikan diri untuk menengadah ke atas,menatap wajah papaku.
            "PAPA... !!"teriakku syok melihat darah yang mengalir dari kepala papa dan kini menetes mengenai wajahku.Aku panik,tidak tahu harus berbuat apa.Aku berteriak-teriak meminta pertolongan.Ku sandarkan tubuh papa di jok mobil.Sambil menangis dan tak berhenti berteriak,aku membuka bajuku sendiri dan membalutkannya di kepala papa untuk menghentikan aliran darah yang tidak mau berhenti mengalir dari bagian kepalanya.
            "Pa.. bangun pa.. jangan tinggalin  Brandon pa... hiks.. hiks.. hiks... "aku mengguncang-guncang tubuh papa,tapi papa tetap tak bergerak dan hanya terkulai lemah tak berdaya.
            Orang-orang mulai berdatangan menolongku dan papa.Nafasku tidak teratur,tubuhku bergetar hebat karena tidak mampu menenangkan hatiku.Keringat dingin terus membanjiri tubuhku yang bercampur dengan darah papa.Dengan sebuah mobil pribadi entah milik siapa,aku dan papa langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
*B*
            Aku duduk di depan ruang UGD menunggu papa yang masih belum sadarkan diri.Sebelumnya aku telah diperiksa juga dan tidak ada luka sedikitpun di tubuhku.Aku menangis ditemani seorang suster yang dari tadi mencoba menenangkanku.Aku masih syok,tubuhku masih berguncang karena isakan tangisku.
            “Papa,seharusnya Brandon yang ada di dalam sana.Ini semua gara-gara Brandon.Kenapa Brandon begitu egois?Kenapa Brandon berani melawan papa?Kenapa Brandon hanya memikirkan keinginan Brandon?Papa,maafin Brandon pa,Brandon sudah membuat keadaan papa menjadi sakit seperti sekarang ini.Aku benci diriku sendiri,aku benci nge-dance.Aku nggak bakal nge-dance lagi.Arrgghh... hiks.. hiks.. hiks..”.
            “De,ade mandi dulu ya,ganti baju dulu.Lihat tuh,badan ade kotor sekali,”suster membujukku.Aku melihat badanku sendiri yang masih dilumuri darah papa.Kaos dalamku yang berwarna putih telah berubah warna menjadi bercak-bercak merah.
            Aku dituntun suster itu ke kamar mandi dan aku tetap tidak bisa berhenti untuk menangis.
            “Ade mandi dulu ya,suster ambil handuk sekalian baju buat kamu,”katanya setelah kami sampai di depan pintu kamar mandi.Ketika dia hendak berlalu meninggalkanku,aku menahannya.Aku teringat dengan tas ranselku yang tadi sempat aku bawa.
            “Suster,aku pakai baju yang ada di tasku.Tas yang ada di kursi tunggu tadi.Aku nggak mau pakai baju pasien rumah sakit,”sahutku mulai bisa tenang.Suster itu tersenyum dan mengangguk ke arahku.Dia berjalan meninggalkan aku sendirian.Segera saja aku masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku.
            “Papa,maafin Brandon pa,Brandon nggak tahu kenapa Brandon jadi kayak gini.Brandon benci diri Brandon sendiri.Brandon benci sama Brandon yang sekarang.Berani membantah papa,membohongi papa,bahkan sudah membuat papa celaka.Maafin Brandon pa.. kenapa nggak Brandon saja yang ada di ruang UGD.Kenapa harus papa?Brandon nggak bisa ngebayangin kalau sampai terjadi hal yang paling buruk menimpa papa.Papaa... hiks.. hiks.. hiks..”
            “De,ini handuk sama pakaiannya.Buka pintunya ya!”suster di luar mengetuk pintu kamar mandi.Aku terdiam sejenak,menghapus air mata yang tak bisa berhenti keluar dari kedua mataku.Aku belum lelah,aku belum bisa berhenti untuk menangis.
            “De,kenapa?Malu ya?Ya sudah,buka sedikit pintunya,nanti suster kasih handuk sama bajunya,”suster itu kembali mengetuk pintu kamar mandi.
            Ku buka kuncinya dan pintu itu sedikit terbuka.Tampak tangan suster mengulurkan handuk dan pakaian yang aku minta.Setelah menerima handuk dan pakaian darinya,aku kembali menutup pintu kamar mandi.
            Baju ini,seharusnya aku pakai buat grandfinal nanti.Kenapa aku jadi benci melihatnya?Kenapa aku jadi nggak mau memakainya?Aku benci dance.Ya,gara-gara dance,papaku jadi seperti sekarang,membuat papa koma.Berjuang melawan maut,berada di antara hidup dan mati.
“Papaa.. jangan tinggalin Brandon pa..“pikiranku menjalar ke hal-hal yang buruk tentang papa.
*B*
            Aku duduk kembali di kursi tunggu.Belum ada kabar dari dokter tentang keadaan papa.Mereka belum keluar dari ruang UGD.Aku tetap menangis sendirian sambil mengingat-ingat kenangan indahku bersama papa.Candanya,tawanya,saat dia menggendongku,main piano sama-sama,mengusap air mataku ketika aku menangis,mencium keningku sebelum aku terlelap.Papaa...
            Ku lampiaskan sedihku dengan bernyanyi lirih,Vierra (Takut) dengan lirik yang sedikit aku rubah :

#Ku tahu papa sedih,ku tahu papa kesal
Ku tahu papa,marah padaku.
Ini semua salahku,ini semua sebabku
Ku tahu papa,tak tahan lagi
            (Jangan sedih,jangan sedih,
            Papa kan slalu ada..)
Brandon takut,papa pergi
Papa hilang,papa sakit
Brandon ingin,kau di sini,
Di sampingku,selamanya
            (jangan takut,jangan sedih,
            Papa kan slalu sayang..)
Brandon takut,papa pergi
Papa hilang,papa sakit
Brandon ingin kau di sini
Di sampingku,selamanya
            Brandon takut (jangan takut)
            Papa pergi (tak kan pergi)
            Papa hilang,papa sakit
Brandon ingin (papa juga)
Kau di sini (bersamamu)
Di sampingku (di sampingmu)
Selamanya..... #

            “Hiks.. hiks.. hiks.. papaaa....”
            “Brandon !!”seseorang memanggilku.Aku menoleh ke arah suara itu.Ternyata om Jun dan tante Diant,tetapi tidak ada Baim di antara mereka.Ada tante Adel dan om Andre juga di sana.Kak Fay dan kak JP berdiri sambil menatapku sedih.Aku menghambur ke arah om Jun dan memeluknya.
            “Om... papa om... papaa.. hiks.. hiks.. hiks.. ini gara-gara Brandon om.. Brandon yang salah... hiks.. hiks.. hiks..”tangisku kembali pecah di pelukan om Jun,adik kandung papa ini.Om Jun mengusap rambutku.
            “Sudah sudah... ini bukan salah kamu Ndon,ini cobaan buat kita semua.Kamu harus kuat ya.Papa kamu bakalan sedih kalau melihat Brandon kayak gini.Lebih baik kita berdo’a supaya papa kamu cepat sembuh,”om Jun mencoba menenangkanku.Hatiku sedikit lega dan mulai tenang.Aku pun kembali duduk di kursi tunggu,tidak sabar menerima kabar dari dokter tentang keadaan papa.
            “Ndon,kak Fay ingin bicara sebentar sama kamu,”kak Fay menghampiriku.
            “Kenapa kak?”tanyaku tanpa menatapnya.
            “Nggak di sini,kita keluar sebentar yuk!!”ajaknya.Aku terdiam sejenak,menatap om Jun dan dia mengangguk ke arahku.Aku beranjak dari kursiku mengikuti kak Fay dan kak JP serta om Andre yang turut ikut bersama kami.Setelah kami sampai di taman rumah sakit,aku duduk di kursi yang ada di taman itu.
            “Mau ngomong apa kak?”tanyaku langsung sama kak Fay yang masih berdiri di dekatku.Di tempat agak jauh,kak JP dan om Andre berdiri memperhatikan kami.
            "Ndon,kita harus balik ke tempat lomba.Kita harus nyelesain lomba ini,"kata kak Fay membuat aku menatap tajam ke arahnya.
            "Dengan ninggalin papa dalam keadaan kayak gini?Nggak kak,Brandon nggak mau,"tolakku.
            "Ndon,kak Fay mohon.. kita harus ikut lomba itu Ndon,kamu harus ingat perjuangan kita sampai kita bisa mencapai final ini.Ingat kak Nayla juga Ndon,"bujuk kak Fay lagi.
            "Aku nggak perduli kak,aku benci nge-dance.Gara-gara semua ini papaku jadi kayak gini.Seharusnya dari awal aku nggak ikut lomba ini,"bentakku kesal.
            "Oh.. jadi kamu nyalahin kakak?Oke,ini semua salah kak Fay.Seharusnya dulu kakak nggak maksa kamu buat nolongin kak Fay.Seharusnya kak Fay nggak ngelibatin kamu ke dalam masalah kakak sama kak Nayla.Kakak tahu,kamu pasti kesal sama kak Fay,iya kan?Jawab Ndon !!"kak Fay mengguncang-guncang pundakku membuat aku berdiri dari kursiku.
            "Iya kak,aku kesal sama kak Fay,aku juga kesal sama diriku sendiri.Aku menyesal ikut lomba ini.Aku benci dance dan jangan harap aku bisa balik lagi buat ikut lomba itu,"bentakku.Aku hendak berlalu dari sana tetapi kak Fay menahanku,menghalangi jalanku.
            "Ndon,kak Fay mohon sama kamu,sekali lagi saja Ndon.Kak Fay mohon.. maafin kak Fay sudah bikin papa kamu kayak gini.Setelah semua ini selesai,itu terserah kamu Ndon.Kamu mau benci sama kak Fay,nggak mau temenan lagi sama kak fay,ngejauhin kak Fay,kakak bakalan terima Ndon,asalkan kamu mau kembali ke tempat lomba sekarang,"mata kak Fay mulai berkaca-kaca.
            "Itu semua nggak bisa ngerubah keadaan kak.Sudahlah kak... aku harus nungguin papa,papaku butuh aku kak.Tolong kak Fay ngertiin aku,aku cape kak.Hiks.. hiks.. hiks.."aku mulai lelah untuk membentak.
            "Ndon,kakak mohon sama kamu Ndon,bantuin kakak sekali lagi,"kak Fay berlutut di hadapanku,kembali memohon padaku.
            "Kak sudah kak,jangan kayak gini.Aku nggak bisa kak.. kakak tolong ngertiin Brandon kak,"aku berusaha membuatnya berdiri tapi dia tidak mau bergeming sambil terus terisak.Baru kali ini aku melihat kak Fay menangis seperti itu.Kak Fay yang selalu tegar,kak Fay yang aku tahu hanya menangis sekedarnya kini telah berubah.Tangisnya pecah,isaknya terdengar begitu jelas membuat aku kembali bimbang.
            "Ndon,kamu harus ingat bagaimana perjuangan kamu untuk sampai di sini,"kak JP sudah berada di sampingku.Dia pun melanjutkan kata-katanya.
            "Kamu harus tahu,kita punya kewajiban untuk menyelesaikan lomba ini.Kamu dan Fay sudah terikat kontrak untuk melakukan semuanya.Mereka bisa menuntut kamu dan Fay kalau sampai ngundurin diri.Okelah,kamu bisa membayar berapapun yang mereka minta.Papa kamu bisa membayarnya.Tapi kamu juga harus ingat Fay.Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?Tapi sekarang yang terpenting bukan masalah itu saja.Kamu harus belajar bertanggung jawab Ndon.Semua ini sudah terjadi,kamu harus maju dan tidak bisa kembali ke masa lalu.Papa kamu,walaupun dia benci kamu nge-dance,tapi dia akan lebih benci kalau anaknya itu menjadi seorang yang tidak bertanggung jawab,"kata-kata kak JP membuat aku terdiam.Aku jadi teringat perkataanku sama dia waktu di kantor polisi dulu.Ya,aku tahu,aku harus menghadapi semua ini.Aku tidak bisa lagi kembali ke masa lalu,membatalkan semua yang sudah terjadi kepadaku.
            Mendengar tangisan kak Fay dan kata-kata kak JP,ternyata mampu meluluhkan hatiku.
            "Baiklah kak,tapi setelah tampil aku langsung ke sini lagi.Aku nggak mau lama-lama di sana.Aku nggak bisa ninggalin papa kayak gini,"jawabku akhirnya.Kak Fay bangkit dan memelukku erat tanpa berhenti terisak.Kak JP ikut memelukku.Kami bertiga berpelukan.Hatiku terasa kosong,tidak tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini.
            Dengan diantar om Andre,kami telah tiba di tempat acara.Seluruh panitia menyambut kami dengan perasaan lega.
            "Syukurlah,akhirnya kalian datang juga.Sebaiknya kalian cepat siap-siap,sebentar lagi acara inti akan segera dimulai,"kak Dimas menyuruh kami untuk segera bergegas.Aku dan kak Fay dituntun ke belakang stage untuk bersiap-siap.Tidak sampai lima belas menit,kami berdua telah siap tampil di grandfinal ini.
            Kami berdua mendapat giliran pertama untuk tampil.Penonton berteriak-teriak histeris saat kami naik ke atas panggung.Mereka mengeluk-elukan namaku dan kak Fay serta NaticNizer.Hatiku merasa bangga,hentakan musik hip-hop yang menggelegar sejenak bisa membuat aku melupakan masalah yang sedang menimpaku.
            Aku dan kak Fay mulai menari sesuai dengan irama lagu yang menggema ke seluruh penjuru tempat lomba.Gerakan kami begitu kompak karena aku dan kak Fay sudah mempersiapkan perform ini dengan sangat matang.Namun di tengah-tengah penampilan kami,saat mulai pergantian lagu,aku kembali teringat papa dan itu membuat konsentrasiku buyar seketika.Aku tidak ingat lagi gerakan dance yang sudah aku hafal.Aku tak bisa lagi menggerakan tubuhku,badanku terasa kaku.Akupun roboh di atas panggung dan menangis sambil berlutut.
            "Ndon,kenapa?Ayo Ndon,tinggal sebentar lagi,"kak Fay mencoba menyemangatiku.Aku menggeleng lemah sambil mengusap air mata dengan punggung lenganku.
            "Maaf kak,Brandon nggak bisa.Brandon pengen ketemu papa,Brandon nggak bisa ngelanjutin semua ini kak.. hiks.. hiks.. hiks..."
            "Tapi Ndon.."aku tidak peduli dengan kata-kata kak Fay dan berlari meninggalkan panggung.Aku menyeruak di antara penonton yang menatapku heran.Teriakan "Huu.." tidak aku hiraukan,yang ada di pikiranku sekarang hanya papa,papa dan papa.
            "Kenapa Ndon?"kak JP dan om Andre menyongsongku.
            "Kak,kita harus kembali ke rumah sakit kak.Aku nggak bisa ninggalin papa,"
            "Ok.. oke Ndon,tapi bagaimana dengan lomba ini?"tanya kak JP bingung.
            "Sudah kak,Brandon nggak mau tahu,pokoknya Brandon pengen ke rumah sakit sekarang juga.. hiks.. hiks.. hiks.. Brandon mohon kak.. "
            "Iy.. iya sudah,"kak JP mengalah.Kamipun pergi dari tempat lomba diiringi dengan tatapan tak mengerti dari semua yang hadir di sana.Kak Fay mengikuti di belakang dan kami semua berjalan menuju mobil om Andre.
            Di perjalanan menuju rumah sakit,kami tak banyak bicara.Semua larut dalam pikiran masing-masing.Kak Fay terisak di sampingku.Tubuhnya rebah di pelukan kak JP yang terus menerus mengusap rambutnya lembut.Aku memandang keluar jendela mobil untuk menyembunyikan tangisku,sesekali menyuruh om Andre untuk mempercepat laju mobilnya karena aku merasa mobil om Andre begitu lambat.Padahal aku tahu,om Andre sudah berusaha mengemudikan mobilnya secepat mungkin.
            Begitu tiba di halaman rumah sakit,aku langsung berlari menuju ruang UGD.Tapi di sana tidak ada siapa-siapa.Om Jun dan yang lainnya tidak tampak menunggui papa.
            "Papa..."bathinku berbisik.Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru rumah sakit.Di salah satu koridor,aku lihat om Jun keluar dari sebuah ruang perawatan.Hatiku sedikit lega.
            "Syukurlah,papa sudah keluar dari ruang ICU,berarti masa-masa kritis papa telah lewat,"bathinku terasa lapang.
            Aku menghambur ke arah om Jun yang mematung sambil menatapku dengan tatapan sayu.
            "Gimana keadaan papa om?"tanyaku saat aku telah tiba di hadapannya.Om Jun tidak menjawab pertanyaanku,dia malah berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badanku.Tiba-tiba dia memelukku erat,eraatt sekali.Ku rasakan ada tetesan air di pundakku.
            "Pap.. papa kamu Ndon.."lirihnya di telingaku.
            "Papa kenapa om?Papa sudah baikan kan?"tanyaku penuh harap.
            "Papa kamu.. sud.. sudah nggak ada Ndonn.."tangis om Jun pecah di pelukanku membuat aku seperti di hantam benda keras.Kepalaku mulai limbung dan seperti berputar seakan tak percaya dengan perkataan om Jun barusan.
            "Nggak,nggak mungkin papa ninggalin aku,papa sayang sama aku.Ya,pasti aku salah dengar,ini pasti cuma mimpi,"hatiku mencoba untuk menyangkalnya.
            "Nggak mungkin om.. papa nggak boleh pergi om.. om Jun bohong... om Jun jangan bikin Brandon sedih.. hiks.. hiks.. hiks.. "
            "Maafin om Ndon..."
            "NGGAAKK.. om Jun bohong.. papa nggak mungkin pergi ninggalin Brandon.. dia sayang sama Brandon om... "teriakku membuat om Jun semakin erat memelukku.
            "Om Jun BOHOONGG.. om Jun JAHAATT.. huhuhu.. "raungku sambil memukul-mukul pundaknya.Aku tidak tahu harus berbuat apa,perasaanku hancur mendengar berita dari om Jun.
            Ku lepaskan pelukan om Jun dan berlari sambil menangis menuju ruang dimana om Jun tadi keluar.Kubuka pintunya dan aku seakan tak percaya dengan apa yang sedang aku lihat di hadapanku.Papaku terbaring kaku tak berdaya walaupun bibirnya masih memperlihatkan sesungging senyum.Di samping papa,ada tante Diant dan tante Adel sedang menangis terisak.
            "PAPAA..."teriakku menghambur ke arah papa.Kupeluk tubuhnya yang telah kaku dengan erat.Aku mengguncang-guncang tubuhnya,berharap papa membuka matanya.Tetapi semua yang aku lakukan itu sia-sia,papa tetap terpejam dan tak bergeming sedikitpun.
            "Pa bangun pa.. jangan tinggalin Brandon pa.. Maafin Brandon.. hiks.. hiks.. hiks.. Brandon janji sama papa.. Brandon nggak bakalan bohong lagi pa.. hiks.. hiks.. hiks.. Brandon.. hiks.. hiks.. Brandon nggak bakalan bikin papa kesal lagi.. Papa bangun pa.. hiks.. hiks.. hiks.. kalau papa pergi,Brandon sama siapa pa..? Brandon mau ikut papa.. huhuhu.. kita sama-sama ketemu mama.. Papa bangun pa... "aku terus meracau menangisi keadaan papa.Teriakanku ternyata membuat orang-orang yang ada di rumah sakit melongok ke ruangan tempat aku dan papa berada.Mereka seperti ingin tahu kenapa aku berteriak-teriak,mungkin juga keluarganya yang sedang sakit merasa terganggu dengan teriakanku.Tapi aku tidak peduli,aku tetap berteriak memanggil papaku.
            Aku lihat om Jun sedamg berbicara dengan salah seorang dokter,dan tidak lama kemudian,beberapa suster dan perawat laki-laki mendekati aku dan papaku.Rupanya mereka hendak membawa papaku untuk segera mereka urus jenazahnya.
            "Jangan bawa papaku.. jangan suster.. om Jun.. tolongin Brandon om.. tolong jangan biarin mereka membawa papa om.. om Juunn.. om.. tolongin Brandon om.. hiks... hiks.. hiks.."aku terus mencoba menepis tangan-tangan suster yang akan membawa papaku.Bukannya membantuku,om Jun malah mengangkat tubuhku dan menjauhkannya dari papa.
            "Om.. lepasin om.. om Jun.. lepasin Brandon.. Brandon mohon om... lepasin tubuh Brandon.. hiks.. hiks.. hiks.. om Jun jahaatt.. lepasin om.. Brandon mohoonn... Susterr.. jangan bawa papakuu.. tante... tolong jangan biarin mereka membawa papa... hiks.. hiks.. hiks.."aku terus meronta-ronta di pelukan om Jun yang mendekapku dari belakang dengan erat.Tante Adel dan tante Diant hanya melihat ke arahku dengan tatapan sedih tanpa berbuat apa-apa membuat aku benci sama semua orang yang ada di ruangan ini.Kenapa tidak ada satupun yang menolongku mencegah suster dan perawat itu membawa papa.Kenapa?Kenapa semua orang berubah menjadi jahat sama aku?
            Aku terus berusaha melepaskan tubuhku dari dekapan om Jun dan semakin liar saat melihat papa telah dibawa keluar pintu ruangan.Akupun menjerit-jerit histeris,kembali berteriak-teriak memanggil papa.Nggak,mereka nggak boleh membawa papaku,aku harus terus sama papa,aku sayang sama papa.
            "Papaa.. !! Papa jangan tinggalin Brandon pa.. Papa... !! Om Jun lepasin Brandon om.. hiks.. hiks.. hiks.. Papaaa... om Jun jahat pa.. PAPAA.. !!"aku tidak mau berhenti berteriak dan meronta,tak peduli dengan orang-orang yang semakin ramai menontonku.Akhirnya seorang dokterpun turun tangan.Dia mendekatiku dan sebuah jarum suntik terasa menusuk di lenganku.Beberapa saat aku merasa tubuhku lemas tak bertenaga.Dengan sisa-sisa tenagaku,aku terus mencoba berteriak memanggil papaku.Tapi semuanya sia-sia,bahkan semakin aku ingin berteriak dan meronta,aku semakin lemas lalu ambruk di pelukan om Jun.Aku merasa lelah dan tak ingat apa-apa lagi.
*B*

#Semua yang tlah terjadi,
Terasa seperti mimpi,
Kau yang sangat kusayangi,pergii..
            Cinta yang kau berikan,
            Kasih yang kau semaikan,
            Berjuta do’a kupanjatkan
            Hanya untuk engkau
Reff:
            Oh Tuhan terimalah,dirinya di sisi-Mu,
            Bahagiakanlah dia,tempatkan di surga-Mu..
            Hadirkanlah dirinya,di setiap mimpiku,
            Abadikan cintanya,di setiap langkahku.
Menetes air mataku,
Menusuk ke dalam kalbu,
Saat kucoba menahan,rinduu..
            Kenangan bersamamu,
            Akan ku ingat slalu,
            Apakah diriku sanggup hidup,tanpa engkau…#

(back to Reff)

            Original Soundtrack Novel Brandon (Mencoba Meraih Impian)
            Judul : Belum Dikasih Judul,hehehe…
By.Chu-x :D